Di sinilah aku. Berada di taman sekolah lagi, bersama dengan seseorang yang membawaku dengan tiba-tiba keluar dari perpustakaan.
Ternyata dia hanya diam terduduk di sebelahku setelah memintaku untuk duduk juga.
Helaan napas bolak-balik terdengar dari lelaki yang duduk di sampingku.
Aku menutup mataku, menikmati desiran angin yang membelai wajah dengan lembut. Sesekali membuka mata, jaga-jaga jika ternyata aku ditinggal sendirian oleh orang ini.
Aku sedikit berdecak, sampai kapan suasana canggung ini akan hilang?
Menatap kupu-kupu yang beterbangan dari tangkai satu ke tangkai lainnya. Menatap capung kecil yang tiba-tiba datang menghampiri kupu-kupu hingga membuat si kupu-kupu itu pergi mendekat ke arahku. Tersenyum tipis karena hewan-hewan kecil itu. Ternyata bahagia itu sebenarnya sederhana ya?
Aku berdeham, dengan harapan jika dia akan memulai pembicaraannya. Namun nihil dia tetap diam, dengan menutup matanya sambil tersenyum menengadah ke atas.
Kekehan kecil terlontar dari mulutku, lucu juga ya?
Hingga pada akhirnya, dia terbangun. Dia tersentak begitupun dengan aku yang tertangkap sedang memandanginya.
"Eh?"
"Oh iya sampai lupa kalo ada lo," katanya disertai senyuman dengan wajah tanpa dosa.
Aku berdecak, ternyata aku ini dilupakan ya?
"Kenapa bawa ke sini?" Tanyaku padanya.
Matanya menyipit, menatap ke arah siswa-siswi yang berlalu lalang di seberang sana.
"Bentar kali. Nikmatin indahnya ciptaan Tuhan dulu," ucapnya dengan netra yang menatap sesosok gadis yang tengah berdiri di samping ruang OSIS.
Helaan napas kasar keluar dari mulutku. Jadi aku disuruh menemaninya menatap perempuan?
"Ha?"
"Lo jangan salah paham. Gue gak natap cewe itu ya," celetuknya.
"Ya emang kenapa sih? Kalo gue salah paham juga gak ada keterkaitannya sama gue,"
Dia terkekeh, "Masih belum paham juga ya," ucapnya pelan namun masih bisa didengar olehku.
Bertepatan dengan helaan napas dia yang entah ke berapa, tepat dengan desiran angin yang datang menggoyangkan tangkai tanaman yang lemah serta rambut-rambut kecilku. Aku membenarkan beberapa rambutku yang ikut terbang dituntun angin.
"Lo lagi gak semangat jalanin hari ya?" Tanyanya.
"Tau dari mana?
"Keliatan,"
Aku berdecih, "Yang keliatan gak selalu sama kaya yang lo liat,"
Dia tertawa kecil, "Emang gue ga pernah merhatiin lo apa,"
"Dari sekian banyaknya objek yang lebih indah, kenapa harus ada gue?"
Tawanya memelan, menyisakan lengkungan lebar dari bibirnya. Matanya yang sipit pun juga seakan ikut tersenyum.
"Ya karena lo juga bagian dari objek yang indah itu, menurut gue," ujarnya pelan.
Aku mengayunkan kakiku ke udara sambil menatap ke berbagai arah. Inilah aku yang selalu tidak merasa nyaman berada dalam situasi seperti ini.
Mungkin untuk saat ini, aku akan berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan semua orang. Bahkan siswa-siswi yang dikenal sekalipun.
"Ya apa ya? Lo tuh gampang ditebak Eve menurut gue,"
"Dan.. tanpa kuasa gue juga, mata gue udah langsung bisa tertuju ke arah lo,"
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] One Last Time
Fanfictionrenjun × oc Kala berbicara tentang rasa, sebuah kata singkat yang memiliki beragam makna. Pada cerita ini menceritakan tentang Renjun yang diumpamakan sebagai sang langit dan Evelyn sebagai sang matahari. Bagaimana jika langit ternyata ingin selalu...
![[✓] One Last Time](https://img.wattpad.com/cover/150178438-64-k947602.jpg)