Udara dingin. Sore-sore langit mendung, gumpalan awan berwarna kelabu menutupi langit, membuat bumi terkesan gelap. Mendung bukan berarti harus hujan, tepat sekali sore dengan awan yang mendung ini sama sekali tidak meneteskan air walau satu tetes saja.
Pada sore ini, aku duduk merenung di teras rumah. Menatap sendu ke arah langit yang juga seperti sedang memancarkan rasa muramnya. Suasana sepi. Aku menatap gerbang bolak-balik, tidak ada tanda-tanda Bang Doyoung pulang.
Embusan napas singkat membuat hatiku merasa sedikit tenang. Mataku masih saja tidak beralih dari gerbang. Tentu saja menunggu Bang Doyoung. Kenapa tidak menunggu di dalam? karena aku ini mudah bosan, suasana di dalam pasti terkesan itu-itu saja, sungguh monoton.
Sedikit berdecak, aku beranjak dari bangku yang aku dudukki. Namun, suara klakson mengubah atensiku. Di sana seorang cowok duduk di atas motornya, melambaikan tangannya padaku.
Aku tersenyum, tentu saja aku kenal dia siapa. Huang Renjun, sosok yang selama ini ada di hari-hariku, walau pada dasarnya tak selalu menyenangkan, namun dapat memberi sebuah kesan indah.
Well, kakiku melangkah begitu saja tanpa diperintah ke arah sang pemilik motor itu.
Cowok itu tersenyum, "Lagi ngapain di depan rumah? Dingin loh Vel."
"Kenapa gitu kalo dingin?"
Dia terkekeh. "Ya takut masuk angin."
Aku tertawa sembari menepuk lengannya pelan. "Kamu tuh nganggep aku lemah apa gimana deh?"
Tanpa aba-aba tangan besarnya mendarat di kepalaku, mengelusnya pelan dan berulang. "Kamu itu lagi diperhatiin loh sama aku. Kita udah jalan lama, kok kamu gak peka-peka sih?"
Tersenyum simpul lalu melepaskan tangan Renjun dari kepalaku. "Bukannya gak peka cuma takut kegeeran aja."
"Dih? lagian gak ada salahnya kalo geer atau pede, toh setiap ucapan aku itu bentuk perhatian loh buat kamu."
"Iya udah deh, cringe banget rasanya."
"Apaan sih?"
Aku menggeleng kemudian menatap berbagai sisi motor Renjun lalu menatap gaya berpakaian Renjun. Simple namun terkesan menarik seperti biasa.
"Kamu kenapa ngeparkir motor di depan gerbang rumahku?"
Alis Renjun terlihat bertaut. "Emang harus ada perincian gitu?"
"Ya kan, kenapa gitu? cuma kebetulan lewat terus ngeliat aku yang kayak gembel atau emang niat hati mau datang ke sini."
"Astaga Evelyn. Kebanyakan overthink nih kamu jadi mikirnya jauh banget sampe-sampe ngasih pertanyaannya ganda."
"Yaudah masuk sini, gak enak diliat tetangga berasa aku tuan rumah gak tau diri banget ga ngebolehin masuk tamunya."
Renjun dengan cepat melajukan motornya ke halaman rumahku. Dengan cepat juga dia menghampiriku lagi yang tertinggal di belakang.
"Pinter banget mengalihkan topik."
Aku menatap Renjun heran, "Siapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] One Last Time
Fanfictionrenjun × oc Kala berbicara tentang rasa, sebuah kata singkat yang memiliki beragam makna. Pada cerita ini menceritakan tentang Renjun yang diumpamakan sebagai sang langit dan Evelyn sebagai sang matahari. Bagaimana jika langit ternyata ingin selalu...
![[✓] One Last Time](https://img.wattpad.com/cover/150178438-64-k947602.jpg)