"Renjun! Jangan ke tengah-tengah makin dalem!"
Aku berseru pada Renjun karena dia yang terus mendayung sampannya ke arah tengah.
"Gak bakal tenggelam, Vel. Lagian kalo di tengah-tengah bagus kok."
"Ya pelan-pelan! Ngerti gak sih rasanya goyang-goyang."
"Diem deh, Vel. Percaya sama aku kalo perahu kita gak bakal kebalik."
"Lagian gak ada arusnya Vel," Renjun ketawa membuat sampannya semakin goyang.
Tawa Renjun itu kenceng, mana suka pake tepuk tangan segala.
"Eh! Jangan dilepas dayungnya," dengan cepat aku mengambil alih dayung yang terlepas dari genggaman Renjun.
"Yaudah gantian kamu yang dayung," ucap Renjun yang suaranya terdengar mengejek dari belakangku.
Kami duduk tidak berhadapan, melainkan depan belakang. Di mana aku yang berada di depan Renjun.
Baru beberapa dayung, aku sudah mengeluh yang membuat Renjun tertawa lagi.
"Sini, aku aja makanya."
"Gak mau. Aku mau cobain, Njun."
"Ya apaan sih, daritadi kamu dayung-dayung perahu ini juga gak jalan-jalan. Sia-sia ah tenaga kamu."
Renjun membungkukkan badannya ke arahku hendak mengambil alih dayungnya namun aku tetap tidak mau melepaskan genggaman dari dayung.
"Sini, mau diajarin gak?"
Suara Renjun terdengar tepat di sebelah telinga kananku.
Suaranya terdengar jelas dengan jarak yang sangat dekat.
"Mundur ah," kesalku.
"Apaan tuh pipinya kok berubah warna?" goda Renjun.
"Kesel!" Badanku berbalik lalu mendorong tubuh Renjun tapi sesaat perahu bergoyang dengan hebat.
"RENJUN!"
Dengan cepat Renjun melingkarkan tangannya pada bahuku.
Beberapa detik kemudian terdengar suara tawanya, "makanya."
"Udah ah situ kamu aja yang dayung ke tepi."
"Aku ajarin sini," ucap Renjun.
"Gak mau tinggal kamu sendiri."
"Kok gitu? Kan yang di atas perahu ini gak cuma aku, masa aku doang yang dayung? Curang kamu, Vel."
Renjun misuh.
Tuh kan. Mana ada cowok kaya Renjun.
"Kan kamu cowo ih."
Renjun menggeleng kemudian mengambil tanganku yang dia letakkan pada ujung dayung lalu tangannya dia letakkan di atas tanganku.
"Gini aja."
Aku berdecak, "modus! Diajarin siapa sih."
"Bukannya pekerjaan yang dikerjakan berdua itu jadi ringan?"
"Ya bener lah gini."
"Enggak gitu, Renjun."
"Ya udah gini aja lah pokoknya."
Diam-diam aku tersenyum tanpa diketahui oleh Renjun.
Renjun tetap setia menggenggam tangan-- maksudku menggenggam dayung pelan-pelan ke arah tepi sungai.
"Ah cape," keluhku.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] One Last Time
Fanficrenjun × oc Kala berbicara tentang rasa, sebuah kata singkat yang memiliki beragam makna. Pada cerita ini menceritakan tentang Renjun yang diumpamakan sebagai sang langit dan Evelyn sebagai sang matahari. Bagaimana jika langit ternyata ingin selalu...
![[✓] One Last Time](https://img.wattpad.com/cover/150178438-64-k947602.jpg)