"Awalnya emang basa-basi walaupun udah sangat basi," ucap Jeno yang setelahnya dia akhiri dengan embusan napas pelan.
"Terus? Maksud lo nyerita tentang temen kecil baru lo itu apa?"
"Serius lo gak ada kepikiran orang?"
"Orang siapa? Lami maksud lo? Lo dulu deket kan sama dia?"
"Bukan. Gue kasih tau, orang yang gue ceritain itu sebenernya ada di sini. Dia yang lagi dengerin cerita ini, tapi kayanya dia gak peka."
Jeno tersenyum miring.
Sebentarㅡ jadi orang itu aku? Seorang Evelyn?
Apa manfaatnya menyukai Evelyn yang seperti ini?
Mataku membola, "Jen, tapi gueㅡ"
"Tenang dulu. Inget gak tadi gue bilang apa? Kayaknya gue udah gak mengharapkan dia lagi."
"Jangan salah paham, gue gak bakal jadi lawan dari temen gue sendiri. Gue gak bisa, selain itu juga udah gue bilang kalo dia bahagia sama pasangannya, gue gak akan usik dia."
"Jenㅡ"
"Bentar. Gue mau nanya, lo sayang kan sama Renjun?" Jeno bertanya seperti itu dengan mata yang menatap lekat tepat ke manik mataku.
"Sorry, gue mau yakinin aja," lanjut Jeno.
Aku mengembuskan napas, "eum ... ya."
"Renjun juga pasti merasakan hal sebaliknya kan ke lo?"
Tatapan Jeno tidak beralih, tatapannya lebih keㅡ menuntut?
"Jeno."
"Gue cuma mau ngerti aja kalo lo emang beneran bahagia sama dia, dan dia juga beneran sayang sama lo. Beneran ada buat lo. Gue cuma mau lo gak jatuh ke orang yang salah."
"Iya gak?"
"Ya."
Sepertinya ...
"Sejauh ini lo gak pernah sakit hati karena Renjun kan?"
"Enggak."
Mungkin, hari ini adalah hari di mana bibir dan hati tidak sejalan.
"Oke. Gue harap juga Renjun memperlakukan lo dengan baik."
Aku berdecak. Lalu mengalihkan pandanganku pada kunang-kunang yang tiba-tiba datang beterbangan kesana-kemari.
"Eve. Gue bakal jujur kalo gueㅡ suka sama lo."
"Hah?"
"Gue rasa berbagai macam kode kecil udah gue tunjukkan ke lo dari dulu. Cuma lo nya aja yang gak ngerasa atau bahkan pura-pura gak ngerti."
"Jen, selama apa?"
"Gue tau ini salah, gue ngerasain ini dari dulu Eve. Gue gak tau tepatnya kapan rasa ini muncul, cuma udah lama," Jeno cengengesan, tapi aku tahu Jeno menyembunyikan sebuah perasaan sedihnya.
"Jen. Gueㅡ"
"Lo gak perlu bilang apa-apa. Jangan bilang maaf juga, gue gak menyalahkan sebuah rasa. Karena perasaan yang dirakit dengan indah akan tulus menemukan pelabuhannya sendiri, dan lo udah nemuin pelabuhan lo sesuai dengan kata hati lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] One Last Time
Fanfictionrenjun × oc Kala berbicara tentang rasa, sebuah kata singkat yang memiliki beragam makna. Pada cerita ini menceritakan tentang Renjun yang diumpamakan sebagai sang langit dan Evelyn sebagai sang matahari. Bagaimana jika langit ternyata ingin selalu...
![[✓] One Last Time](https://img.wattpad.com/cover/150178438-64-k947602.jpg)