25. Pilih Siapa?

107 19 8
                                        


Panggilan di telepon masih berlanjut, Renjun belum menyelesaikan ucapannya. Dia terus membuang napasnya kasar.

"Kenapa, Renjun?"

"Janji dulu langsung tidur abis telponan sama aku?"

"Ya."

"Bener?"

"Iya, udah apa? Cepetan."

"Maaf ya Vel. Besok aku gabisa nemenin kamu."

"K ... Kenapa?"

"Vel, marah?"

"Enggak, kenapa?"

"Vel ..."

"Kenapa? Aku mau denger alasan kamu."

Renjun mengembuskan napasnya kasar.

"Besok aku mau nemenin Shasha ke dokter."

Shasha ya ...

"Harus banget kamu ya?"

"Vel, ngertiin ya? Cuma hari ini kok aku batalin janji kita."

Cuma hari ini. Iya, Renjun hanya mengingat hari ini saja. Bagus.

"Ya."
"Aku tidur ya?"

"Kamu marah ya?"

Kamu pikir Renjun??

"Oh haha enggak kok, ngapain? Kan cuma nemenin. Semoga Shasha cepet sembuh."
"Bye, aku mau tidur. Selamat malam."

"Velㅡ"

"Selamat malam."

Panggilan segera kututup.

Aku menyandarkan punggungku pada tembok kamar, memijat pelipisku pelan.

Pikiranku berkelana. Shasha itu siapa?

Yang kurasa di angkatanku tidak ada yang bernama Shasha. Panggilan macam apa itu?

Tersenyum miring lalu menjatuhkan tubuhku ke kasur.

Mataku tertutup, semoga tidurku hari ini nyenyak. Semoga dia tidak datang dalam mimpiku.

Alasan memilih untuk tidur karena aku lelah dengan semuanya, kupikir dengan tidur masalah akan hilang dari kepala walaupun sebentar. Lagian Renjun saja mungkin tidak memikirkanku, lalu untuk apa aku memikirkannya juga?

Namun, baru beberapa detik terdengar suara pintu yang terbuka.

"Vel. Eh udah tidur."

"Untung aja adek gue anaknya kebo. Renjun sialan."

Suara Bang Doyoung terdengar jelas diikuti dengan suara pintu kamar yang tertutup.

Oh, Renjun masih mengabari Bang Doyoung, ya?

Renjun, kuharap Shasha cepat sembuh. Aku pikir kamu mengerti bagaimana cara menjaga dan menghargai perempuan.

--

[✓] One Last Time Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang