27. Kabar buruk

102 14 0
                                        

"Vel, bangun kek dari kasur. Rebahan mulu hidup lo, pantes kehidupan lo datar terus."

Suara Bang Doyoung masuk ke runguku bagai sebuah tusukan. Menatapnya malas lalu kembali berguling-guling di kasur nan empuk.

"Punya telinga gak lo?" Bang Doyoung menarik tanganku paksa hingga aku terduduk.

"Kenapa sih ih ganggu. Lagian ya, baru kali ini bisa rebahan bebas tanpa ada beban tugas tau!"

"Halah, tugas lo masih gampang gak kayak tugas gue."

Aku memutar bola mata. Pagi hari yang cerah kini berubah menjadi pagi hari yang suram dengan adanya oknum bernama Kim Doyoung.

"Ke dapur buruan bikinin gue sarapan."

"Bikin sendiri aja lah."

Bang Doyoung berdecak, dia berkacak pinggang. "Gue bilangin mama sama papa kalo lo ga nurut sama Abang."

"Dih ngadu. Nih ya Bang, yang bikin gue males karena lo nyuruh gue gak ada manis-manisnya, terus yang kedua karena lo nyuruh gue."

Alis Bang Doyoung bertaut. "Maksudnya nyuruh lo gimana?"

"Gue udah ada rencana mau bikinin lo sarapan. Karena lo merintah gue, jadinya gue gak mood."

"Kalo lo gak disuruh, lo gak bakal gerak."

"Tapi kalo disuruh tuh gue jadi males tau ngelakuinnya."

Terlihat Bang Doyoung mengembuskan napasnya pelan kemudian mengelus kepalaku berulang. "Iya maaf, yuk turun."

"Duluan, abis ini langsung turun kok."

Bang Doyoung mengangguk sambil senyum tipis lalu dia berputar balik dan hilang dari pandanganku.

Aku menghela napas, kemudian berjalan menuju meja rias. Menguncir rambutku supaya tidak mengganggu saat beraktivitas.

Turun ke bawah dan berjalan pelan ke dapur. Tentu saja seorang Kim Doyoung sudah berada di sana duduk dengan tenangnya sambil bermain ponselnya.

Aku meliriknya sekilas saat Bang Doyoung juga sedang menatapku juga. Tatapannyaㅡ entahlah tidak bisa dijelaskan.

Berniat tidak peduli, aku segera bergelut dengan barang-barang dapur supaya pekerjaan memasak ini bisa cepat terselesaikan dan aku bisa melanjutkan acara rebahanku yang sempat tertunda.

Tidak butuh waktu lama untuk racik-meracik. Masakan sederhana yang kubuat sudah selesai.

"Vel, udah selesai masaknya?"

"Udah nih. Gak sabar ya lo?"

"Bukan, maksudnya gue mau tanya sesuatu daritadi tapi takutnya lo gak ngelanjutin masakan lo."

"Dih emang apaan sampe bisa berhentiin aktivitas masak gue? Tanya apa?"

Bang Doyoung beralih menatap ponselnya. "Ini ... Renjun lagi pergi sama cewek lain? Lo tau gak?"

Oh Renjun.

"Tau."

"Terus? Lo gak ngelarang gitu? Maksudnya ini tempatnya bagus gila?! Kek tempat buat orang pacaran sih ini."

"Ha? Mana ada? Kan itu jatah liburan buat anak OSIS, katanya."

"Hah? Sejak kapan mantan sekolah gue yang sekarang jadi sekolah lo, baik banget ngasih jatah liburan? Gak ada yang namanya jatah liburan Vel."

Senyumku miring. "Gue juga tau kali."

Bang Doyoung melotot. "Terus? Maksud lo apa? Lo biarin aja gitu?"

[✓] One Last Time Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang