17. Sesuatu yang Lain

355 96 81
                                        

Kesan untuk hari ini mungkin sedikit indah. Hari ini banyak hal yang membuatku bertanya-tanya. Tentang random talk bersama Jeno tadi itu memang sedikit membuat kepalaku berputar. Namun, mungkin dengan itu aku bisa memahami beberapa maksud yang selalu disembunyikan oleh sang empunya.

Suasana siang menjelang sore kali ini didominasi oleh situasi yang diam dan tegang. Di jam kedua terakhir ini, ternyata masih ada saja guru yang terlalu rajin, hingga membuat kelas kita usai dari jamkos.

Mataku memang menatap lurus ke arah papan tulis namun isi kepalaku entah berjalan-jalan kemana. Aku mencoba fokus walau pada nyatanya sulit untuk hanya terpaku pada satu objek dan satu pikiran.

Aku tetap menatap lurus ke depan, ah tidak lebih tepatnya melamun disertai dengan tanganku yang bergerak-gerak menggoreskan tinta ke atas kertas. Hingga akhirnya suasana kelas menjadi ramai karena guru di depan sana menyediakan sesi tanya-jawab. Teman sekelasku yang memang gila nilai itu berebut untuk bertanya dan memberi jawaban.

"Evelyn lo tumben gak nanya? Lumayan dapet nilai tambahan," bisik Koeun di sebelahku yang hanya aku respon dengan gelengan pelan.

Sampai tiba saatnya, sesi tanya-jawab ditutup dan tibalah waktu dimana kedatangannya selalu dinanti oleh para pelajar. Tepat sekali, waktu pelajaran selesai atau lebih singkat diucapkan dengan pulang.

Teman-temanku ini sudah bersiap-siap menata peralatan mereka ke dalam tas, namun masih ada beberapa anak yang melontarkan pertanyaan kepada sang guru.

"Udah pulang ih bego,"

"Gausah sok rajin napasih," Somi yang duduk tepat di belakangku itu menggerutu kesal. Pasalnya Somi ini pasti ingin cepat-cepat mengakhiri jam pelajaran.

Sebagian temanku juga memperingati teman lainnya yang super ambisius itu hingga pada akhirnya pelajaran resmi telah selesai.

"Gue keluar duluan, bye," Ujar Somi. Dia sudah mengibrit lari keluar kelas bersama dengan Haechan.

Kini tersisa lah aku, Herin, dan Koeun. Kita bertiga pun segera keluar tanpa membuang banyak waktu. Mereka berdua sudah mendapat pesan jemput dari keluarganya, berbeda dengan aku yang entah pulang dengan bagaimana.

Herin dan Koeun berpamitan mendahuluiku. Akhirnya disinilah aku, berjalan di koridor kelas sendirian dengan tatap mata yang terkesan lelah.

"Ayo?" Ujar seseorang yang kini sudah menyamakan langkah denganku.

Kedua alisku seakan tertaut.

"Gue udah nawarin sesuatu ke lo tadi, kalo lo lupa," katanya lagi.

"Kenapa sih lo selalu datang?"

"Yaa kayak awan yang bakal pergi ngikutin kemana arah angin," dia terkekeh.

"Udah ya please. Langsung ke tujuan lo aja,"

Bukannya menjawab dia malah tersenyum, beberapa detik kemudian dia baru menjawab ucapanku, "Mau nganterin lo. Kalo lo gamau anggap gue sebagai Jeno, ya lo anggap aja gue tukang ojol,"

Aku menghembuskan napas pelan, Jeno ternyata bisa keras kepala juga.

"Jeno,"
"Kenapa coba? Gue bisa pulang sendiri padahal,"

[✓] One Last Time Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang