19. Untaian Kata

261 47 35
                                        

Semburat sinar matahari menusuk cakrawala. Matahari terbit membuat langit terang, mengakhiri suasana twilight. Dari atas balkon kamar, aku menikmati indahnya sinar matahari yang membawa kehangatan yang akan menyelimuti pagi yang dingin.

Dari arah kanan sisi balkon, aku menatap ke arah sisi kiri di mana ada tumbuhan yang aku tanam dan ku biarkan berada di balkon ini agar menambahkan kesan sejuk. Sebenarnya hanya ada empat tanaman yang aku taruh di setiap pojok pagar balkon. Tumbuhan itu masih terlihat kecil dan arah daunnya selalu mengikuti arah cahaya matahari.

Aku menghirup udara pagi yang masih terkesan segar dengan tenangnya. Memang sangat indah berada di atas balkon di saat pagi hari, bahkan sambil menunggu seseorang.

Mataku menatap ke arah jam kecil yang melingkar di pergelangan tanganku. Aku berdeham kemudian segera menutup pintu balkon.

Berdiri sekejap di depan cermin untuk mengecek penampilanku lagi, kemudian turun menuju ke arah ruang tamu.

Di sini aku berada, duduk di teras rumah sambil memakai sepatu. Menunggu orang memang membosankan tapi jika yang ditunggu datang dengan membawa aura yang indah tentu rasa bosan itu akan hilang.

Lelaki yang selama ini menjadi seseorang yang berani memasuki pintu dalam hatiku kini sudah memarkirkan motornya di halaman rumahku.

Aku tersenyum tipis menatap ke arahnya, berjalan pelan menuju ke arahnya.

Renjun melepas helm-nya kemudian memberikan helm yang lain kepadaku yang langsung aku terima.

"Kenapa kamu malah lepas helm sih?" Tanyaku bingung.

Bukannya menjawab dia malah tersenyum, "Kan ada yang mau aku tunjukin,"

Alisku bertaut yang membuat kekehan kecil keluar dari mulut Renjun, "Mau senyum dulu,"

Aku menatapnya aneh, sebentar dia ini kenapa?

"Buat apa lepas helm kalo mau senyum? Ada hubungannya?"

Renjun tersenyum lagi, "Ada, kan mau ngasih liat senyumnya ke kamu,"

Pfft. "Idih, terserah,"

"Karena hari yang indah itu harus diawali dengan senyuman Vel,"

"Dan kalo kita bisa, kita juga harus membagi kebahagiaan kita dengan orang lain, apalagi orang yang punya tempatnya tersendiri," Renjun tersenyum kemudian mengacak rambutku, lalu dia merapikan lagi rambutku yang sudah dia acak.

Mataku membola, dia gabut ya?

Dia tidak tau saja perlakuan itu mampu membuat hatiku jungkir balik.

Tanpa sadar garis bibirku terlihat. Mataku belum beralih dari sosok lelaki yang pagi-pagi sudah membuat kegaduhan pada relung hatiku. Renjun memakai helm-nya kembali kemudian duduk di atas motornya sambil menatap ke arahku yang masih memandanginya.

"Ada yang beda dari aku ya?" Matanya terlihat melengkung yang menandakan dia tersenyum dibalik bola besar yang melindungi kepalanya.

Aku menggeleng malu kemudian segera memakai helm dan menaiki motor Renjun. Kendaraan milik Renjun melesat secara halus dari halaman rumahku.

[✓] One Last Time Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang