Aku tidak pernah benar-benar membenci wanita yang menyakiti ku. Cerita nya begini, sejak aku SD, ayah selalu berprilaku kasar kepada ibu. Memukul, membanting barang-barang, bahkan aku mengetahui nama-nama binatang dari ucapan kasar nya. Kata-kata ayah ku sangat menyakitkan, aku selalu ingat umpatan nya, teriakan nya, semua nya aku ingat. Itu seperti kenangan indah yang sulit ku lupakan, ya walaupun terdengar menyakitkan. Setidaknya aku tidak seperti anak yatim di luar sana, Haha! Aku masih mempunyai kenangan bersama ayah. Ada hal yang selalu ku syukuri dari nya, ayah selalu meminta maaf kepada Ibu dan anak-anak setelah menyakiti nya. Penerimaan setiap anak berbeda, sama hal nya dengan aku dan kakak. Kakak akhir nya terpukul dan lebih memilih ikut menjadi brengsek seperti Ayah. Aku pun sebenarnya juga terpukul, dan menjadi brengsek juga. Tapi aku tak pernah menunjukkan nya di depan Ibu. Aku lebih memilih clubbing diam-diam dengan alasan menginap di rumah teman untuk belajar bersama, berbeda dengan kakak yang secara blak-blakan pulang sambil muntah di teras depan rumah. Hingga sekarang umur ku 25 tahun, kebiasaan ku masih sama, menikmati kesendirian dengan beberapa botol beer di tengah keterpurukan.
"Lo di mana gila?" Teriak seorang wanita di seberang saluran telepon, nada nya khawatir. Ia selalu mengkhawatirkan ku selama ia mengenal ku.
"Ha?" Tanya ku tak mendengar nya, suara ia terlalu kecil di banding lagu Marshmello yang tengah di putar DJ di tengah panggung Bar.
"LO DI MANA?" Teriak wanita itu lagi, aku dapat mendengarkan suara musik yang tak kalah besar dari seberang telepon. Mungkin ia sedang mencari ku di Bar yang biasa ku kunjungi di Jakarta.
"Gak usah nyari gua!" Perintah ku tegas. "Gua lagi di Bali, Nel! Lo gak bakal nemu gua di Jakarta!" Lanjut ku yang mulai sempoyongan.
"Anjir! Cepet banget lo nyampe Bali!" Umpat Sekretaris maha Songong ku. "Kapan pulang? Urusan di sini masih banyak gila!" Ia mulai mewanti-wanti.
"Iya anjir! Gue tau!" Aku langsung memutuskan hubungan telepon ku sebelum si Maha Songong itu melanjutkan cerocosan nya. Dentuman musik malam ini sungguh menenangkan, kalau ada kakek tua yang dapat mendengar batin ku... mungkin ia akan berkata "Hey Gila! Mana ada lagu berdentum kencang seperti ini bisa menenangkan!" Dan mungkin aku akan menimpal "Jangan hanya mendengar musik nya, alkohol mempengaruhi mu Tuan!" Aku tertawa. Khayalan ku terlalu tinggi hingga membuat ku berbicara sendiri. Ku raih botol White Champagne dan kembali ke kamar hotel dengan sempoyongan. Semoga tak salah kamar!
Sekitar tiga hari aku melakukan hal yang sama, kalian pasti bertanya apa alasan nya? Dan mengira-ngira bahwa alasan ku adalah Sarah. Tapi jika kalian mau tau yang sebenar nya, bukan hanya Sarah alasan ku, tapi penjualan iklan di salah satu Majalah produk perusahaan mulai menurun karena kesalahan karyawan ku. Aku terlalu pusing memikirkan siasat untuk menarik investor kembali. Walaupun Sarah menjadi alasan keterpurukan ku kali ini, ia hanya mengambil andil sepersekian persen saja, selebih nya adalah perusahaan. Dan lucu nya, aku tak pernah segalau ini sebelum nya. Meminum beer selama tiga hari berturut-turut, ku rasa umur ku mulai berkurang.
"KAPAN PULANG? BOSS KU SAYANG!" Teriak wanita di seberang telepon dengan geram nya.
"Gue udah di bandara Soetta!" Balas ku membuat wanita tersebut hening sejenak.
"Oh! Good! Besok libur, lusa meeting, sabtu meeting dan malam minggu nya Opah minta ketemu." Cerocos wanita tersebut menyebutkan jadwal yang membuat ku muak.
"Yaa!" Balas ku malas.
"Sip Boss! Take Care di Taxi!" Aku berdeham lalu mematikan telepon nya.
Malam minggu nya aku bertemu Opah untuk sekedar di beri nya sebuah petuah dan wejangan yang bagi ku menyebalkan, masalah perusahaan sudah di selesaikan oleh Opah, lalu setelah itu Opah meminta ku mengantar nya ke rumah Om Suryo. Bertemu calon mertua. Ah! Aku terlalu tergila-gila dengan Sarah. Rambut hitam lurus nya yang sesekali berubah ikal karena alat ajaib bernama Catokan, aku tahu dari Nelin! Jangan meledek ku! Wajah polos tak bermake up saat pertama kali aku menemui nya di Restoran milik ayah nya, tapi aku lebih sering menikmati wajah anggun nya ketika sedang bersolek untuk bekerja. Kulit nya putih bersih seperti Ratu-Ratu dari Dinasti Ying yang suka sekali mandi Air Beras. Aku senang ketika berdiri di samping nya, ia sangat imut, mungkin tinggi nya sekitar 158cm, sebahu ku persis. Dan yang paling aku suka mata nya, mata nya sipit seperti bulan sabit, aku suka sekali mata nya, walaupun ia tak pernah benar-benar menatap ku entah mengapa. Mungkin ia masih sedikit membenci ku, karena keseringan ia membuang muka saat aku menatap nya. Ia lebih memilih melirik ku sekilas-sekilas saat kita sedang berbicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Foolish Love! (COMPLETED)
RomanceNama ku Sarah Darmawan, aku senang membagi kebetulan-kebetulan yang menyenangkan dan keputusan-keputusan Semesta yang mengejutkan. Ini kisah cinta ku bersama nya, yang entah bagaimana ujung nya.
