Kenapa Enggak?

230 14 0
                                        

Aku menggaruk-garuk rambut ku yang terasa gatal, terakhir kali aku mandi adalah kemarin siang. Kalau sedang berada di Roma, biasanya satu kali mandi saja sudah cukup karena udaranya dingin dan kita tidak akan mengeluarkan banyak keringat. Tapi beda dengan Jakarta, matahari di sini sangat terik, otomatis badan ku akan terasa lengket jika tidak mandi dua kali sehari seperti sekarang ini. Aku jadi rindu dengan Roma, terutama dengan Farina, gadis pemilik toko Roti yang di beri nama dengan arti Tepung. Aku tertawa tiap kali mendengarnya membangga-banggakan namanya. Biasa nya ketika pagi seperti ini, gadis itu akan membawakan satu buah Crossiant atau mungkin potongan Pizza untuk ku. Ia akan memberikan roti-roti buatan tokonya tersebut ketika aku sedang dengan sibuknya mencari nada di taman Sapienza University of Rome.

Eh! Aku melihat sesuatu yang ganjal di pengelihatan ku. Aku melihat wanita penghuni aprtemen depan hotel ku sebelumnya di halaman bawah hotel, dekat pantai. Kali ini wanita itu berjalan dengan seorang pria di sampingnya. Yeah! Pasti mereka ingin merayakan Hari Valentine yang jatuh pada hari ini. Dengan langkah malas, aku masuk kembali ke dalam kamar, mengambil handuk handuk dari lemari baju, dan bergegas untuk mandi.

Setelah selesai mandi, aku kembali ke balkon hotel. Ternyata wanita itu sedang makan siang bersama dengan pasangannya, membosankan!Tapi anehnya aku terus memandangi mereka dari jauh, mungkin sekitar tiga puluh menitan aku menghabiskan waktu untuk menatapnya. Ah! Aku harus turun ke bawah dan mencari makan. Tapi apa yang lebih mengejutkan ketika aku sampai di lantai bawah? Aku menemukan gadis penghuni apartemen itu sedang menangis sendirian, dan aku dengan jiwa care ala manusia-manusia Itali langsung memeluknya.

Mungkin ia baru saja di putuskan dan membutuhkan sandaran?

"Jangan nangis!" Ucap ku malas. Wanita itu semakin sesenggukan.

"Dio?" Tanyanya di tengah-tengah isak tangisnya. Oh jadi nama pria tadi Dio?

"Bukan." Wanita itu otomatis membalikkan badannya, kedua bola matanya membulat seketika saking terkejutnya. "Dodi..." Isaknya semakin membesar. Aku menatap ke kanan dan ke kiri, untung saja tidak ada orang yang sedang memakai pesisir pantai selain wanita ini dan pria tadi. Tapi... seingat ku jalan untuk menuju ke pesisir di gunakan sebagai kolam renang yang cukup ramai. Aku yakin, orang-orang di belakang ku sedang menatap ku penuh curiga karena aku seperti seorang pria jahat yang tengah menyakiti hati seorang wanita. Eh tapi! Di banding itu... Dodi? Hahaha! Darimana wanita itu tahu tentang panggilan itu? Aku menahan tawa. "Kenapa?" Tanya wnita itu di tengah isak tangisnya.

"Nama gue bukan Dodi." Aku jadi ingat ketika para tamu pameran Sore menghampiri ku dan menanyakan nama ku. Dengan asal jawab, dan tidak mau terlalu di kenal, aku menjawab bahwa nama ku Dodi. Ada alasan di balik nama tersebut, karena kalau aku memperkenalkan bahwa nama ku Dao Dy Lan atau Dylan, pasti mereka akan curiga bahwa aku adalah anak keluarga Dao penerus perusahaan tambang Dao di Roma yang sedang berlibur di Indonesia. Dan pastinya akan ada beberapa media lokal yang menguntit ku karena ayah ku termasuk ke lima orang terkaya di dunia.

"Tapi kata Ghany nama lo Dodi... hu... hu..." Ya tuhan, wanita ini masih saja menangis. Ghany. Teman main ku selama ayah memiliki kantor di Jakarta. Aku sengaja bilang kepada Ghany untuk tidak menyebarkan nama asli ku karena alasan di atas, dan ternyata Ghany benar-benar melakukannya. Hahaha. "Terus... hu... nama asli lo siapa kalau bukan Dodi? Kita udah berkali-kali ketemu tapi gue tetap aja gak tau nama lo, hu..." Ucap wanita itu yang semakin membuat ku tertawa. Ia menangis di tengah-tengah ucapannya.

"Dylan." Jawab ku. Wanita itu sudah tidak memeluk ku lagi,wajah nya menatap ku curiga dan tangisnya terheti seketika.

"Pacarnya Milea? Assalamualaikum jangan?" Telunjuknya menunjuk wajah ku, lalu ia tertawa di akhir kalimat. Syukurlah. Aku menggaruk tengkuk ku yang tak gatal. Meskipun sudah lama tidak berkunjung ke Indonesia, aku tetap membaca portal berita Indonesia, aku tahu tentang film yang di angkat dari Novel itu, walaupun aku belum pernah menontonnya. Tapi, aku pernah menonton trailer filmnya kok, dan aku tahu adegan ini.

Foolish Love! (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang