Sore! Aku bukan menunjukan pada kalian bahwa matahari mulai mengumpat menjelang malam. Tadi itu seorang teman memanggil ku untuk menyelesaikan segala masalah yang ada di galeri ku. Ada beberapa pengunjung yang ingin membeli karya atau sekedar bertanya mengenai lukisan-lukisan yang tertempel di tembok kayu khas Galeri Seni. Selain pelukis, aku ini termasuk kolektor juga. Kolektor yang menjual kembali koleksi nya jika harga tawaran tinggi.
Sore Sekala Boemi. Bukan wanita, aku ini pria berkaki panjang berambut ikal yang sering berkeliaran di Galeri. Wajah ku sedikit blasteran Eropa karena ibu ku berasal dari Varenna, Kota yang manis percis lukisan yang ada di hadapan ku. Tapi wajah ku lebih banyak menuruni ayah, ayah ku pengusaha asal Taiwan yang sukses mengolah perusahaan cabang milik kakek ku yang berlokasi di Indonesia.
"Ada Sarah, katanya editor dari Penerbitan." Ucap Ayu begitu aku menghampiri nya. Aku membulatkan mulut ku seraya berjalan menuju ruang kantor ku. Setelah sampai di depan pintu, aku membuka pintu ruang kerja ku.
"Hallo!" Sapa ku membut wanita yang sedang duduk di kursi tamu berdiri dan membalikkan badan.
"Hai!" Sapa nya berniat bersalaman dengan ku. Aku pun menyalami tangan nya. Ini kesekian kali nya aku bertemu dengannya. Wanita ini amat cantik, bahkan aku sering terbengong lima detik saking terkesima nya.
"Jadi gimana?" Tanya ku setelah duduk di hadapan nya, ia pun sudah duduk kembali.
"Ini hasil editan nya." Wanita itu menunjukkan layar tablet yang berisi Microsoft word dengan jurnal-jurnal lukisan buatan ku.
"Siap cetak berarti ya?" Tanya ku setelah memastikan urutan nya. Ia mengangguk.
"Jadi Mas Sore mau pakai desain Cover yang pertama atau yang kedua?" Tanya wanita itu. Yang pertama berisi foto lukisan acrylic ku bertemakan Kota Jakarta, sementara yang kedua berisi foto lukisan acrylic ku bergambar Nona bergaun putih yang sedang menunggu seseorang di Pelabuhan Santa Raphael.
"Menurut kamu, bagus nya yang mana?" Aku meminta pendapat, bukan bertanya kembali. Meskipum untuk mendapatkan pendapat aku harus bertanya. Wanita itu mengangkat kedua alis nya dengan bingung.
"Bentar." Ia melihat kedua desain Cover buku ku. "Kalau menurut saya mendingan yang pertama, Kota Jakarta, sesuai identitas Mas yang berasal dari Jakarta." Ucap nya di akhiri senyuman.
"Tapi yang kedua makna nya bagus." Elak ku. Ia kembali bimbang.
"Ya udah, terserah Mas aja mau yang mana. Kan ini buku Mas Sore." Aku pun tersenyum.
"Saya suka yang kedua, tapi saya pilih yang pertama. Karena menjadi yang kedua itu gak enak." Wanita itu langsung tertawa.
"Mas bisa aja..." ucap nya.
"Abis cetak langsung adain Preorder ya, fans saya nungguin." Ucap ku. Wanita itu mengangguk nurut. "Abis ini balik lagi ke kantor?" Tanya ku berbasa-basi.
"Ya."
"Tapi makan siang dulu kan?" Tanya ku lagi. Ia menatap ku heran.
"Kenapa sih emang nya?" Tanya wanita itu dengan kekehan heran. Yap! Aku pasti terlihat seperti pria aneh yang tiba-tiba perduli dengan nya. Ini pertemuan kami yang ke delapan kali, ia pasti sudah mempunyai kekasih. Tapi aku ingin sekali mengajak nya makan siang.
"Apa salah nya mentraktir teman?" Tanya ku.
"Wah! Kalau ini sih gak nolak." Ucap nya antusias. Ia langsung memasukkan tablet nya kembali ke dalam tas.
"Ada restoran ayam enak di dekat sini."
-
Aku bahkan mengetahui restoran apa ini. Kyochon, restoran ayam goreng khas Korea yang terkenal di beberapa negara. Aku tidak mengerti mengapa orang-orang di dekat ku senang sekali mengajak ku makan di restoran Korea. Kemarin Dio, sekarang Sore, mungkin besok Ratu akan mengajak ku ke Mujigae hanya sekedar untuk memakan Jjangmyeon karena aku kelebihan protein dari daging sapi dan ayam traktiran dua pria ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Foolish Love! (COMPLETED)
RomanceNama ku Sarah Darmawan, aku senang membagi kebetulan-kebetulan yang menyenangkan dan keputusan-keputusan Semesta yang mengejutkan. Ini kisah cinta ku bersama nya, yang entah bagaimana ujung nya.
