Bukan hantu yang aku lihat pagi ini, tetapi aku sangat terkejut begitu melihat seorang pria yang sedang duduk di meja makan dengan celana kolor pendek berwarna abu dan atasan kaos hitam polos. Ia sedang sarapan dengan keluarga ku, senyum nya terukir setelah mendengar lawakan ayah ku yang terdengar garing. "Sarah! Udah bangun Nak?" Ucap Bunda yang membuat ku menjadi pusat perhatian. Aku berjalan menghampiri meja sembari menyisir rambut ku dengan jari-jari tangan. Pasti tadi aku terlihat seperti singa sirkus.
"Kok ada dia sih?" Aku menunjuk Dio tepat di samping wajahnya. Sean menepuk telunjuk ku.
"Gak sopan." Katanya.
"Ya tapi kok bisa ada kamu sih tiba-tiba? Mana pake kolor doang." Komentar ku sambil bergidik. Kaki nya kekar dan jenjang. Ya tuhan! Aku zina mata. Aku pun melempar pandangan kepada Ayah dan Bunda.
"Loh emangnya kenapa?" Tanya Ayah dengan menyebalkan. "Orang Dio mau ngasih kado ke Ayah..." Lanjut Ayah sembari mengunyah sarapan paginya. Aku mengangkat kedua bahu ku dengan bibir menyerupai huruf u terbalik, menarik kursi keluar dari meja makan, dan duduk di samping Dio. Bunda memberikan sehelai roti tawar ke atas piring ku, aku pun mengoleskan roti tersebut dengah selai cokelat kacang. Karena merasa ku acuhkan, Dio menyenggol lengan ku pelan.
"Hmm..." Deham ku tanpa menengok. Bukannya marah, aku hanya tak mau selai ku mendarat di tempat yang salah. Selai ini enak, aku tak mau menyia-nyiakannya. Masih merasa di acuhkan, Dio mendekatkan wajahnya ke telinga ku.
"Saya punya hadiah buat kamu." Bodo amat. Aku masih menatap selai ku dengan penuh keseriusan. Aku masih kesal, aku masih kecewa. Karena tak mendapatkan respon, Dio meluruskan kembali pandangannya ke arah Ayah dan Bunda yang sedang serius memperhatikan tingkah laku kami. "Di cuekin Om..." adu Dio seperti anak yang mengadu pada Ayahnya.
"Emang ya, punya anak judes banget. Padahal Bunda nya seramah ini loh Yo!" Sindir Ayah menyeret-nyeret Bunda. Yup! Bunda ku amat-amat ramah, friendly dan tampak seperti istri soleha sekali dengan balutan hijabnya. Berbeda dengan aku. Walaupun katanya muka ku copy-an Bunda banget, tapi alis ku tajam seperti alis Ayah, itu yang membuatku terlihat judes, menyeramkan. Tapi aku bangga dengan alis ku, bahkan Kylie Jenner pun menggambar alisnya dengan tajam demi mendapatkan alis sempurna seperti ku.
"Tapi Dio boleh kan pinjem Sarah?" Tanya Dio kepada Ayah. Memangnya aku barang apa? Bisa di pinjam-pinjam. Aku mengabaikan anggukan Ayah yang otomatis membuat Dio berdiri dari kursinya. Tangan kanannya sudah mencengkram bahu ku. "Ayo ikut!" Woy! Ini rotinya belum gue makan! Teriak ku dalam hati. Aku di seretnya menuju parkiran rumah.
"Mau kemana sih Yo?" Aku di paksa masuk ke dalam mobilnya.
"Udah... masuk aja!" Paksanya sembari mendorong bahu ku pelan.
"Eh gila ya lo? Gue masih pake baju tidur, lo masih pake kolor!" Aku memelototinya. Ia menepuk-nepuk bahu ku. Masuk! Perintahnya lagi. Aku menuruti saja ucapannya sementara ia sedang berjalan memutari mobil agar bisa masuk ke dalam kursi kemudi. "Mau kemana sih?" Tanya ku saat ia telah menancap gas mobilnya. Gila! Umpatku dalam hati.
"Lihat ke kursi belakang, ada Kalung Swarovski, gelang Pandora, cokelat Godiva, sepatu Charles & Keith... dan menurut Nelin semua modelnya kamu banget." Sekilas aku melongokkan kepala ku ke kursi penumpang belakang, dan beberapa detik kemudian aku menatap Dio tajam.
"Yatuhan Dio! Kamu tuh boros banget ya jadi manusia! Daripada buat beli itu semua, mendingan kamu depositoin kek, investasi kek, katanya perusahaan kita lagi gak stabil? Ini malah ngabis-ngabisin duit. Tau gak sih? Nyari duit tuh susah! Aku aja harus ngedit lima naskah perbulan demi gaji sepuluh juta. Ah tau deh! Kan aku cuma bercanda, kamu tuh ih..." Cup! Dio membungkam ku dengan kecupannya. Lalu mata nya kembali fokus ke jalanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Foolish Love! (COMPLETED)
RomanceNama ku Sarah Darmawan, aku senang membagi kebetulan-kebetulan yang menyenangkan dan keputusan-keputusan Semesta yang mengejutkan. Ini kisah cinta ku bersama nya, yang entah bagaimana ujung nya.
