Pagi-Pagi Buta

206 15 1
                                        

Terbang menuju Varenna tandanya aku menyetujui semua tawaran papa. Baru kali ini aku mendengarkan petuah Tuan Han yang amat terhormat. "Semua orang pasti punya salah, semua orang pasti punya masa lalu yang buruk, obatnya cuma satu. Tanggung jawab. Itu kata Mama kamu, itu yang buat Papa nikahin mamanya Fajar." Aku memeluk Mama begitu sampai di Varenna. Kata Sinar, Mama dan Fajar sedang berlibur di sana. Dan aku pun memutuskan untuk menghampiri Mama setelah beberapa bulan tidak bertemu. Mama tersenyum heran ketika mendapat pelukan dari ku, di dalam hatinya ia bertanya-tanya. Tumben. Tumben aku memeluknya. Dari balik pundak Mama, aku dapat melihat Fajar yang sedang berdiri di ambang pintu kamar. Ia melihat ku dengan tampang tak berekspresi seperti biasanya. Kami tidak pernah saling bicara, sejak Fajar TK aku sibuk Kuliah, sejak Fajar beranjak dewasa, aku tinggal di Jepang, setelah pulang dari Jepang, aku tinggal di galeri. Seandainya pulang ke rumah atau pertemuan keluarga, aku selalu mengacuhkan Fajar. Setelah melihat Fajar selama satu menit, aku jadi sadar, anak itu sudah besar. Wajahnya persis seperti ayah, mungkin itu alasan Mama ingin mengurusnya?

Aku melepaskan pelukan ku dari Mama. "Fajar!" Panggil ku pada anak yang sedang mengintip itu. Dan kalian tahu apa reaksinya? Anak itu tersenyum, tapi tak berani menghampiri ku. "Kelas berapa kamu sekarang?" Senyumnya terus tersungging. Ini adalah momen paling membahagiakan bagi anak itu, karena ini adalah pertama kali nya aku mengajak ia berbicara.

"Kelas tiga SMP

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kelas tiga SMP... Ko." Jawabnya ragu.

"Koko boleh peluk Fajar?" Anak itu diam, kikuk. Tanpa jawaban, aku memeluk anak itu dengan seenak jidatnya. Anak itu kaku, diam. "Maafin Koko." Bisik ku pelan. Aku merasa bersalah, sejak ia lahir, aku mengabaikannya. Dengan tangis yang tertahan, Fajar membalas pelukan ku. Ini pertama kalinya ia merasa punya Abang.

"Gimana persiapan nikah kamu?" Tanya Mama seolah tidak ikut campur akan urusan ku. Aku diam, tak dapat menjawab. Aku tak ikut andil dalam persiapan tersebut, yang ku tahu Sinar dan Licia yang akan mengurusnya. Tapi, pulang dari Varenna, aku akan ke Bali. Menemui Licia dan keluarganya. Yang dapat ku pastikan, ayahnya Licia pasti mendukung ku karena sejak aku KKL di galerinya sewaktu Kuliah pun ia sangat menyukaiku. Untuk masalah ibunya Licia? Aku tak yakin ia setuju atau tidak, karena yang ku tahu ibunya amatlah jahat sehingga bisa menelantarkan Licia. Lucu. Aku seperti orang jahat yang membenci orang jahat lain demi membela orang jahat yang lainnya. Licia memang jahat bukan? Aku terjebak di dalam pernikahan ini karena dia. "Mama tau kamu menikah tidak melalui kisah romansa yang sebagaimana harusnya Romeo menemui Juliette, tapi Mama yakin bahwa kamu bisa memberikan cinta kepada anak mu yang memang seharusnya mendapatkan cinta. Mama jadi ingat waktu kamu lahir, mama ingat tangis haru penuh kasih Mama dan Papa kamu." Lanjut Mama di akhiri dua tepukan hangat pada bahu ku. Aku melepaskan pelukan ku dari Fajar.

"Good luck ya Ko..." Ucap Fajar dengan ragu. Aneh rasanya ketika bisa mendapatkan kesempatan bicara kepada Abang yang telah lama mengacuhkannya. "Fajar... udah gak sabar untuk dapat keponakan." Lanjutnya di akhiri senyuman kikuk. Ia masih terlalu kaku untuk mulai berbicara dengan ku. Aku tersenyum sembari mengangguk menanggapinya. Lalu anak itu pergi masuk ke dalam kamarnya.

Foolish Love! (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang