Valentine (1)

247 14 1
                                        

Ku dengar dari Mbak Nelin, katanya Raelee akan menerbitkan buku lagi. Kali ini judulnya Heart Always Been Hurt, ah pasti isinya sangat menyedihkan. Dan editor yang di tunjuknya adalah aku. Wow! Aku akan menjadi editor idola ku lagi. Benni membawa dua cup kopi Capulus, sudah lama aku tidak minum Americanonya. Sembari menyeruput kopinya, Benni menaruh satu cup lainnya di atas meja ku. Kali ini aku yang mentraktirnya, hanya saja Benni yang membelikan ke bawah. Sambil menyenderkan tubuhnya di samping kubik ku, Benni bertanya mengenai buku baru Raelee.

"Gue denger-denger, bakal ngedit tulisan Raelee lagi?" Aku mengangguk cepat. "Dih mantep amat, jadi sohibnya Raelee lu?" Aku mengangkat kedua bahu ku bersamaan. Entahlah. Tapi kalau di ingat-ingat lagi, kami sudah cukup dekat, bahkan Mbak Raelee pernah bertamu ke Apartemen ku.

"Lo lagi ngerjain tulisannya siapa?" Tanya ku berbasa-basi. Aku harus mencari topik juga bukan? Akan terkesan jutek apabila aku hanya menjawab pertanyaan lawan bicara ku sementara ia tak aku tanya balik.

"Love Notes, karya kembaran gue... Benny Pandora." Aku terbahak setelah menyeruput kopi ku. Benni di bandingkan dengan Benny Pandora?

"Hahaha, kembar mananya? Kegantengan Benny Pandora mah kalau harus di bandingin sama lo." Gambarannya begini, style Benni itu amat kekoreaan dengan warna-warni funky, sementara Benny Pandora stylenya amatlah kaku seperti pria kantoran. Kemeja polos, kemeja dengan outer sweater, kemeja berpola, dan kemeja terus. Sangat jauh jika harus di samakan dengan Benni si editor. Toh wajah Benni amatlah Chinesse, sementara Benny Pandora amat kebarat-baratan. Jauh!

"Iya dah, emang paling bener jadi kembarannya kerang tutut aja gue. Berharap di anggap kembar sama cowo ganteng, malah di bully abis-abisan." Ucap Benni kesal. Aku masih terus tertawa, rasanya perut ku mulai terasa pegal karena terlalu banyak tertawa. "Eh! Lu pernah ngedit bukunya Sore kan? Dapet undangan nikahan nya dia gak?" Tanya Benni dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Aku mengangguk. "Gue juga dapet. Emang dah gue ngeship banget Sore sama Licia, udah ganteng ketemu cantik. Tapi temen gue yang kerja di Galerinya Sore kenapa gak ngeship juga ya?" Cerocosnya di akhiri rasa penasaran.

"Oh lo punya temen yang kerja di sana?" Benni mengangguk. "Kesan pertama gue lihat Mbak Licia sih elegant, tapi agak angkuh gitu kaya Putri Raja. Mungkin temen lo ngerasain apa yang gue rasain. Tapi pas kemarin gue ketemu dia di Cafe, dia baik kok." Terka ku kepada Benni. Benni mengangguk.

"Iya kali ya?" Ucapnya setuju tak setuju. "Eh, udah mau Valentine kan. Lu bakalan kemana?" Tanya Benni penasaran.

"Gak tau sih, terserah Dio aja.." Aku buru-buru menutup mulut ku dengan kedua telapak tangan. Belum ada yang mengetahui hubungan ku dan Dio, namun dengan bodohnya aku membocorkan tentang hal tersebut kepada Benni. Benni tersenyum lebar, dengan wajah menyebalkan ia meledek ku.

"Cie... uhuy! Mantap! Gosip baru perusahaan kita. Boss Dio menjalin hubungan asmara bersama salah satu staff editor. Sarah Darmawan." Ucap Benni dengan suara kencang, otomatis semua pegawai yang berada satu lantai dengan ku langsung menatap ku. Ada yang senang, ada yang patah hati, ada pula yang biasa saja. Aku langsung mencubit pinggang Benni, akan gawat jika pada akhirnya terlalu banyak kalimat yang keluar dari mulutnya. "Sakit!" Pekiknya sembari melepas tangan ku.

"Lo tuh ya Ben!" Aku menatapnya tajam dengan telunjuk mengacung begitu tegak. Benni hanya tertawa tak bersalah, ia bangga dengan apa yang di lakukannya. Menyebarkan gosip yang sebenarnya bukan sebuah gosip, dan membuat ku marah karena kelakuannya.

"Ya sorry, emang kenapa sih?" Aku diam, tak menanggapinya. Nasi sudah menjadi bubur, kabar hubungan ku dengan Dio pasti akan mulai meluas melalui mulut para karyawan di lantai ini. Percuma saja marah, semuanya sudah terlambat.

"Yaudeh! Udah puas kan? Diem sekarang." Ucap ku sinis. Benni tersenyum konyol, lalu berjalan ke kubiknya. Serem amat. Gumamnya sembari duduk.

"Sar! Kado Valentine yang pas buat nembak cewe apaan?" Tanya Benni dengan kepala yang melongok dari balik kubik. Wah! Ternyata ia tak mau kalah dengan ku, ia berniat menembak seorang perempuan juga.

Foolish Love! (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang