Mengendap-endap

379 16 1
                                        

"Lo gila? Tolol? Apa idiot?" Sembur seorang wanita bergaun biru satin dari balik pantry dapurnya. Ada cerita tak menyenangkan yang ia dapat dari sahabatnya. Memang sih bahasanya terlalu kasar, tapi mau bagaimana lagi? Teman nya ini benar-benar bodoh. Dengan wajah dan pakaian yang sama kusutnya, pria itu berdiri di depan rumahnya dan ia menceritakan semua dengan segala ketololan ketika di ajak masuk ke dalam rumah. Nelin benar-benar tidak perduli dengan tatapan terkejut Arsyen setelah ia mengumpat sumpah serapah kepada Dio.

"Lu gak nahan dia buat bertahan? Maksudnya gini loh... lu emang izin ke pemakaman hari ini. Tapi lu jangan mau di lepas dia." Tanya Arsyen sambil menatap pria yang sedang duduk di sampingnya. Dio memijat-mijat dahinya, jujur ia tidak mengerti keputusan mana yang harus di ambil. Sarah terlalu baik untuk di sakiti, dan wanita itu sangat pengertian. Sesungguhnya Dio juga tidak mau berakhir dengan Sarah seperti ini, pasti setelah ini Dio hanya akan di anggap pesakitan dan mulai di jauhi oleh wanita cantik itu. Ya tapi, Dio juga masih mencintai Licia. Dengan pikiran yang kalut, Dio menjawab pertanyaan Arsyen dengan sebuah gelengan.

"Ya gimana mau gitu? Lo cuma main-mainin Sarah kan?" Nelin menaruh dua buah cangkir dengan tidak santai di atas meja pantry. Tatapannya tajam dan tidak mengerti bagaimana pemikiran sahabat prianya tersebut. Dio menggelengkan kepalanya. Memang benar kok! Ia benar-benar serius menjalin hubungan dengan Sarah, tapi kalau keadaan Licia baik-baik saja. Sekarang keadaan Licia tidak baik, Licia seperti titik lemah dalam hidupnya yang benar-benar akan Dio lindungi bagaimanapun caranya. "Ya terus kenapa di lepas tolol? Dia baik, kinerja bagus, ramah, kesayangan Opah Sardi banget. Udah ini mah... sampe Opah tau. Mati lo Yo!" Cerocos Nelin dengan kesalnya.

"Kenapa gak lu tahan? Lu mau balikan sama Licia?" Tanya Arsyen lebih pengertian. Sambil menunggu jawaban dari Dio, ia menyesap teh dari cangkir yang baru saja di taruh oleh pacarnya. Nelin menarik kursi dan duduk di hadapan kedua pria kesayangannya. Menunggu penjelasan dari sahabatnya, agar menemukan alasan untuk tidak terlalu sebal dengan kelakuan sahabatnya tersebut. Tangan kanannya mengambil karet gelang bekas bungkus nasi uduk yang sering ia kumpulkan di gantungan spatula, lalu ia menguncir rambutnya yang tergerai sedari tadi.

"Tadi pagi lo bilang perutnya buncit? Gue udah baca berita di web, dan emang benar. Rencananya gue mau nikahin dia, tanggung jawab buat pertumbuhan anaknya dia." Sungguh, Arsyen benar-benar terkesima dengan penjelasan yang di berikan oleh temannya.

"Peduli setan! A baby gonna born from Making Love and you don't get involved on their ML. Kenapa lo yang harus tanggung jawab? Harusnya Sore sama Licia doang lah, ya kalau Sore mati, yaudah Licia doang." Ucap Nelin kekeuh. Ia masih tak terima jika Sarah harus patah hati dengan kisah cinta yang aneh ini. "Dasar bego! Kekanak-kanakan, gak mikir panjang!" Umpat Nelin dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Yap bego! Dio menundukkan kepala begitu menyadarinya.

"Udah-udah..." Arsyen mengusap bahu Nelin, berusaha menenangkan. "Kalian berdua itu, sama-sama kekanakan. Gak usah ngata-ngatain." Lanjut Arsyen di akhiri kekehan.

"Dih apaan? Kok kamu jadi ngebelain dia? Pake nyama-nyamain aku sama dia lagi, males banget..." Protes Nelin tidak terima.

"Ya gini Nel. Lo tau kan kalau gue lahir dari keluarga yang not really good, dan gue hidup sebatang kara setelah all of my family die. Sarah ngelepas gue untuk tanggung jawab sama anaknya Licia karena gue dulu pernah janji bakal jagain Licia terus, dan dia pengen gue buktiin dengan cara itu." Nelin menangis ketika mendengar penjelasan Dio, menurutnya Sarah sangat-sangat baik dan dewasa dengan keputusannya. Mungkin kalau Nelin berada di posisi Sarah, dia tidak akan dengan rela dan lapang dada melepas Dio demi Licia.

"Nah kamu gak dewasa karena kamu gak mikirin anaknya Licia, lu juga Yo... gak dewasa gak mikirin perasaan Sarah. Nah Sarah nih, dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan. Dari dulu kaya gitu, gak pernah berubah." Ucap Arsyen menjelaskan. "Karena nasi udah jadi bubur, deal with it aja. Nelin, kamu jangan marah-marah sama Dio lagi. Nah Dio, lu gak usah ngejar-ngejar si Sarah lagi. Dia ngelepas lu, lu harus ngelepas dia juga. Jangan kasih harapan sekecil apa pun ke perempuan. Perempuan itu kaya berlian di balik gunung, semakin lo gali, cahayanya semakin besar. Tanggung jawab dan urus Licia dengan benar, itu aja." Lanjut Arsyen kepada kedua lawan bicaranya. Dan sidang selesai malam itu dengan Arsyen dan Dio yang menginap di ruang tamu rumah Nelin. Yap! Nelin selalu menjadi tempat persidangan terbaik selama Dio mengenalnya, dan Arsyen selalu menjadi pengacara terpengertian yang selalu ikut mencari jalan keluar.

Foolish Love! (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang