Valentine (2)

196 15 1
                                        

Pelarian ku terus berlanjut berbulan-bulan. Tadi pagi aku mendengar kabar bahwa Sore meninggal dunia, aku tidak menyangka bahwa salah satu teman yang baru saja kutemui beberapa minggu lalu telah tiada. Di temani matahari terik dan hembusan angin kencang, aku menikmati siang ini dari balkon hotel. Tanpa baju, hanya sebuah celana pendek. Aku menatap layar ponsel ku, hampir semua pemberitaan tentang kematian Sore. Yeah! Tidak memungkiri jika umur seseorang tidak dapat di tebak. Awalnya ku kira Sore meninggal karena bunuh diri, tapi katanya ia meninggal karena tabrak lari. Kenapa aku mengira seperti itu? Sore adalah teman ku selama sekolah seni di Jepang, tentu ia lebih tua daripada aku. Saat itu aku tengah mengambil sekolah musik sementara ia sekolah lukis. Kami tidak sengaja bertemu di komunitas orang-orang keturunan Tiongkok yang sedang berkumpul di salah satu bar di daerah Tokyo. Dan kebetulan kami memiliki banyak kesamaan. Kami sama-sama anak seorang pengusaha, ayah kami sama-sama memiliki usaha di Indonesia, dan kami sama-sama berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Yang menjadi pembeda hanya satu, aku di bebaskan memilih impian ku, sementara ia tidak. Wajar, karena aku punya dua kakak laki-laki yang pastinya bisa mewarisi perusahaan ayah, sementara ia tidak memiliki kakak laki-laki alias anak laki-laki pertama. Aku senang ketika melihatnya menggelar pameran dan menerbitkan buku. Itu tandanya ia telah menjadi orang sukses meski tak mendapatkan restu dari ayahnya.

Tapi ada yang mengganjal ketika aku datang ke pamerannya. Aku seolah mengenali wanita yang sering berdampingan dengan Sore, wanita itu seringkali melihat ke arah ku. Dan untuk jawaban dari kecurigaan ku akhirnya ku temukan dari surat undangan yang ku dapat beberapa hari yang lalu. Undangan pernikahan Sore Sekala Boemi & Dayu Licia Cokorda. Wow! Dunia ku sempit sekali. Teman ku akan menikah dengan anak dari istri baru ayah ku. Ini terdengar sepertu judul Opera Sabun khas Indonesia. Aku tertawa membayangkannya. Pantas saja wanita itu selalu menatap ku. Mungkin di dalam hatinya ia sedang berkata "Hey saudara baru ku!" dan entah aku jahat atau apa, aku bersyukur Sore meninggal. Karena itu tandanya tuhan baik telah menjauhkan orang sebaik Sore dari anak jalang yang akan di nikahinya.

Ah masalah ku semakin banyak, untuk yang ini aku tidak mau memikirkannya.

Sebenarnya tujuan dari pelarian ku selain karena aku sedang cuti kuliah adalah aku sedang kesal terhadap keputusan ayah ku yang mewarisi ku kantor cabang di Itali, katanya agar kantor ku dekat dengan kampus tempat aku melanjutkan kuliah. Padahal kan aku berharap bahwa aku hanya akan menjadi staff kantor pusat di Shanghai, bersama Mama kandung ku. Kalau kalian ingin tahu dimana keberadaan Mama tiri ku, sebenarnya semenjak menikah ia dan ayah ku menetap di Bali, mungkin sesekali wanita jalang itu mengendap-endap mengawasi anak perempuannya? Ah aku terlalu banyak menjelek-jelekan Mama tiri ku, padahal kalau di dunia nyata, aku yang di didik dengan sopan santu ini tidak berani berbuat berkata atau berbuat kepada Mama tiri ku.

Dao Dy Shi :
Kau dimana? Kapan pulang? Aku dan Dywei akan mengunjungi mu hari minggu nanti. Katanya Dywei akan menikah dengan wanita muslim dari Dubai, apa kamu sudah memutuskan untuk memeluk agama? Lol

Dyshi adalah kakak pertama ku, pemegang perusahaan pusat di Beijing. Yap! Kantor impian ku. Dan Dywei adalah kakak kedua ku, ia memegang cabang perusahaan di Dubai. Karena ayah ku selalu bertindak adil kepada anak-anaknya, aku di berikan kantor cabang di Itali, yasudahlah, aku tidak bisa menolak. Toh ini tidak akan mengganggu hobby bermusik ku. Ah! Kalau di pikir-pikir, banyak sekali orang yang akan menikah dalam waktu dekat ini.

Dao Dy Lan :
Ya! Aku akan segera pulang ke Roma.

-

Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang bergerumul di benak Dio. Ku lihat sepanjang jalan ia hanya diam dan fokus kepada jalanan. Berkali-kali aku bertanya kenapa? Tapi ia hanya berdeham dan berkata gak apa-apa. Kalau aku memiliki kekuatan ramal meramal seperti Mbak Raelee, bisa ku tebak saat ini aura dari tubuh Dio amatlah tidak enak, mendung, tak menyenangkan. Mungkin warna aura nya hitam, atau mungkin abu-abu? Aku menyalakan radio yang ada di dalam mobil. Ku kira radio akan secara kompak akan menyiarkan lagu Romantis menyenangkan di hari Valentine ini, tapi ternyata saluran radio favorite ku menyiarkan lagu yang cukup menyedihkan. Bila milik Ardhito Pramono.

Foolish Love! (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang