Nama ku Sarah Darmawan, aku senang membagi kebetulan-kebetulan yang menyenangkan dan keputusan-keputusan Semesta yang mengejutkan. Ini kisah cinta ku bersama nya, yang entah bagaimana ujung nya.
Kadang aku merasa bukan aku tokoh utama di dalam cerita ini. Tapi Sore. Dengan satu buah laptop pada pelukan, aku berjalan menghampiri kubik ku. Sudah ada Benni di sana, senyumnya terukir lebar menyaksikan dua gigi kelinci manisnya. "Lo kerasukan apaan? Pagi-pagi buta udah ada di kantor?" Tanya ku setelah menaruh laptop dan tas jinjing ke atas meja ku.
"Nih! Oleh-oleh!" Ia berdiri dari kursi ku sambil menunjuk sekumpulan makanan dan pernak-pernik yang ada di atas meja ku. Aku tersenyum, banyak sekali orang yang memberiku oleh-oleh akhir-akhir ini. Kapan ya? Aku bisa memberikan oleh-oleh kepada orang lain? Bahkan aku sendiri tidak pernah keluar dari provinsi Jawa Barat.
"Di Cappadocia ada Cafe Capulus juga?" Tanya ku ketika melihat Caramel Machiato dari Cafe milik mantan gebetan ku. Eh! Mantan sahabat maksudnya. Mata Benni langsung berubah menyipit seiring senyumannya. Ia sudah berada di kursi mejanya.
"Ya kali..." Jawabnya remeh. Dengan ringan tangan nya, aku menyeruput Caramel Machiato tersebut.
"Kenapa gak beliin gue Americano sih? Kalo ini kan nanti bisa-bisa gue gendut." Protesku dengn tidak tahu malu.
"Ya bukan gitu. Justru penimbunan lemak dengan Machiato ini adalah sebuah bentuk tanggung jawab gue sebagai teman yang meninggalkan lo dengan tugas editing gue. Gue paham, lo capek, stress, makannya gue tambahin Baklava pula untuk menemani Machiato." Cerocos Benni yang membuatku sadar akan kehadiran Baklava di atas meja ku.
"Thankyou Ben!" Ucap ku sambil mengangguk-angguk senang. Ada satu oleh-oleh dari Benni yang membuat ku bingung. "Ini apaan? Gantungan Dajjal?" Aku menunjukkan gantungan kunci berwarna biru benhur dengan sebuah mata di tengahnya. Ini bukan berbentuk bulu merak, ini berbentuk tangan dengan mata di tengahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sekate-kate lu kalo ngomong!" Benni menggeser kursi kerjanya mendekati meja ku. "Ini namanya Mata Fatimah, pengusir hal buruk. Kaya jimat keberuntungannya orang Turki gitu deh. Lo belom pernah lihat emang?" Jelas sekaligus tanya Benni. Aku pun menjawabnya dengan sebuah gelengan. "Sama, gue juga baru tahu pas ke Cappadocia." Lanjutnya.
"Ben! Lu tau gak?" Benni menunggu kelanjutan ku. "Raelee masa mau ke rumah gue." Lanjutku yang membuat Benni menautkan kedua alisnya heran.
"Ngapain?" Aku mengangkat kedua bahu ku bingung, tapi di detik yang sama pula aku jadi ingat pertemuan terakhir ku bersama Mbak Raelee. Di situ aku berkata, bahwa aku bisa menjadi teman berceritanya. Dan mungkin, ia akan menceritakan sesuatu seperti penyebab suara sumbangnya kemarin saat menelepon ku. "Hayoloh! Editan lo ada yang typo kali?" Ledek Benni dengan senyuman usilnya.
"Seandainya itu terjadi pun, pasti typo yang menyeramkan itu akan tejadi di Novel lo yang gue editin kemarin. Coz otak gue kebelah pas ngerjain kerjaan bagian lo." Senyum nya berubah menjadi tatapan serius. Aku tidak perduli, aku lebih memilih fokus pada sekotak Baklava yang sedang aku buka.
"Sumpah apa Sar? Ah lu mah..." Tanya sekaligus ucap Benni kesal. Benni mulai khawatir, sementara aku lebih memilih mengangkat alis, bahu, dan makan Baklava. "Ah enggak! Gue tau lo anak nya teliti, gak mungkin ada Typo." Ia berusaha menenangkan dirinya.