Tentang Kita Berdua

243 15 0
                                        

Malam ini rasanya lelah sekali, padahal aku hanya bertemu dengan Raelee. Setelah memasukkan beberapa digit pin, aku pun masuk ke dalam flat apartemen ku, membuka sepatu, dan duduk di sofa untuk rehat sejenak. Ku senderkan punggung ku dengan nyaman, memejamkan mata sambil mengumpulkan energi dan... handphone ku pun berbunyi. Ting! Persis seperti suara gerobak sekoteng. Dengan malas aku membuka mata ku kembali dan mengambil handphone dari dalam tas. Ternyata ada pesan masuk dari Dio.

Dio :
Boleh saya telepon?

Sarah :
Kenapa enggak?

Sepuluh menit setelah muncul kata Read di samping kiri gelembung percakapan. Dio benar-benar menelepon ku. Bukan panggilan biasa, tetapi panggilan video. Aku sempat panik karena aku masih mengenakan pakaian kerja ku yang tadi siang. Aku takut Dio menyadari bahwa aku belum mandi, padahal sekarang sudah pukul tujuh malam. Tapi... ah sudahlah. Toh aku memang baru saja pulang. Pasti ia akan menanyakan mengapa aku bisa selarut ini sampai ke rumah, sementara aku bertemu Mbak Raelee di siang hari. Ah! Aku terlalu menghargai perasaan dia dengan segala praduga ketakutan ini.

Aku pun menggeser ikon berwarna hijau ke kanan, dan wajah lelah ku pun terpampang di sana. "Hai!" Kata Dio dengan senyum sumringahnya. Ternyata pria itu sama dengan ku, masih memakai setelan tadi siang. Kemeja putih, dasi biru metalic dan... entahlah ke bawahnya tak terlihat. Yang ku yakin hanya satu, ia masih memakai celana bahan hitam dan sabuk hermes mengkilapnya.

"Hai! Setidaknya kamu sudah membuka jas mu..." Sapa sekaligus komentar ku setelah melihat penampilannya. Dan kini ia balik menilai penampilan ku, bibirnya terkatup, wajahnya serius. Lalu beberapa detik kemudian ia membuka suara.

"Setidaknya lipstick mu pun sudah mulai menghilang..." ia tersenyum di akhir kalimat. Aku mengangguk, setuju.

"Kenapa? Kangen aku ya?" Tanya ku sembari menyandarkan kepala ke sandaran sofa.

"Iya... kangen kekhilafan saya di depan sofa itu." Ia ikut menyandarkan kepala nya di kursi mobil sambil tersenyum nakal. Gila! Maksudnya ketika ia mabuk setelah melihat Licia dan Sore gitu? Adegan ciuman pertama ku? Ah Sarah, kamu terlalu berlebihan. Ciuman pertama mu di ambil oleh ibu dan ayah mu, bukan pria ini, bukan pria yang sedang membuat pipi mu memanas ini. Dio tertawa, mungkin karena pipi ku yang mulai berubah warna seperti bunglon yang sedang menempel pada daun Maple.

"Dih..." Aku memelototinya. "Ada apa?" Dua kata pengalihan isu telah aku lontarkan dengan nada ketus. Pria itu tersenyum.

"Saya cuma mau bilang. Jangan lupa tiga M!" Aku masih menyimak. "Tau gak tiga M?" Tanyanya. Aku berpikir sejenak. Yang ku tahu lima S. Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun.

"Emangnya apa?" Tanya ku dengan wajah yang tidak terlalu antusias. Aku sudah lelah.

"Mandi, Makan, dan Mimpiin aku lah." Ucapnya di akhiri kekehan. Cukup tuhan, cukup! Pria ini cukup tua untuk menggombal ala Dilan seperti ini.

"Dih..." tapi aku tetap tersenyum dan tertawa mendengar gombalan nya. Tanpa ku sadari ia tengah menikmati senyuman ku. Hening beberapa saat, kami hanya saling pandang. Beberapa detik kemudian ia teringat sesuatu.

"Saya lagi otw Singapura." Ucapnya. Mata ku otomatis melotot karena terkejut. Lalu bagaimana rencana nonton dan membuat kue nya? Seolah mengerti akan reaksi ku, ia langsung angkat bicara. "Gak usah kangen, jumat saya pulang. Sabtu kita nonton, dan minggu kita ke planet tercinta kamu. Bekasi." Haha. Aku terkekeh mendengar kata Planet, jokes lama yang selalu abadi hingga sekarang. Katanya Bekasi berada di planet berbeda karena tidak ada di Google Maps dan memiliki cuaca yang cukup extream karena cukup Panas. Aku mengangguk sembari bergumam.

Foolish Love! (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang