Nama ku Sarah Darmawan, aku senang membagi kebetulan-kebetulan yang menyenangkan dan keputusan-keputusan Semesta yang mengejutkan. Ini kisah cinta ku bersama nya, yang entah bagaimana ujung nya.
Aku menjadi lebih kaku di banding apapun benda mati yang ada di bumi ini. Ia terlalu mengejutkan seperti lotre yang tiba-tiba ku dapat atas doa-doa ku sebelum benar-benar mengenalnya. Pertama ia melamar ku, dan kini ia memeluk ku tiba-tiba dengan alasan cemburu. Ini jauh lebih aneh karena bahkan kita tidak memiliki hubungan spesial apa pun. Ini terlalu cepat dan mengejutkan bagi ku yang memiliki pola pikir romance kuno. Ia memeluk ku, sekali lagi ku ingatkan ia memeluk ku.
"Kyochon..." gumam pria itu tanpa menatap ku. Ku kira ia baik-baik saja saat menyapa ku siang tadi, ternyata ia pencemburu ulung yang mampu menyembunyikan nya sekilas lalu mengungkapkan nya. Aku terdiam. "Setelah Arsyen, sekarang Sore." Lihat! Ia bahkan memerhatikan semua pria yang ada di dekat ku. Semoga ia tidak akan cemburu dengan Sean adik ku yang sering memeluk ku saat kita jalan ke Mall berduaan. Hey! Mengapa aku jadi mengkhawatirkan hal yang seharus nya tidak ku khawatirkan? Itu urusan dia jika dia mau menjadi pencemburu.
"Jangan lebay deh Yo..." gumam ku tanpa menatap nya. "Gue mau balik kerja." Lanjut ku yang membuat nya langsung menatap ku tajam. Aku terdiam tanpa bergerak sedikit pun.
"Silahkan!" Ucap pria itu dingin. Aku menaikkan bahu ku tak perduli, lalu aku mulai berdiri dan meninggalkan nya. "Nanti kamu pulang sama saya." Lanjut pria itu yang membuat langkah ku terhenti sejenak. Lalu aku melanjutkan langkah ku kembali.
Aku tidak mengerti dengan perasaan ku. Saat awal bertemu di restoran, aku berharap untuk menjadi pendamping hidup nya. Beberapa hari berikut nya aku membenci dia, karena urusan keluarga. Lalu sekarang? Aku bimbang atas segala perlakuan manis nya, sekecil apa pun itu. Tapi aku tidak suka sifat possesif nya yang terkadang membuat ku ilfeel. Aku duduk di kubik ku, lalu menyalakan komputer ku.
"Sar!" Aku langsung melongokkan kepala ku ke atas komputer, tempat seseorang yang sedang memanggil ku duduk. Aku menatap pria berambut ikal dan berwajah oriental China. "Gantiin gue ngedit buku nya Raelee Chandra yaa!" Perintah pria itu. Aku membulatkan mata ku.
"Raelee Chandra?" Tanya ku memastikan ucapan pria berahang tegas itu. Ia mengangguk seraya tersenyum, kedua gigi kelinci nya menjadi pusat perhatian ku. Ia terlihat lucu berbanding jauh dengan gaya pakaian sangar nya. "Serius lo Bee? Mau ngasih Raelee ke gue?" Tanya ku bertubi-tubi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"I'm Sure! Like a Pediasure." Ucap nya di akhiri candaan khas nya. Mata ku semakin berbinar. "I know you like her!" Lanjut Benni dengan senyuman manis nya. Yap! Aku menyukai penulis tersebut. Sebagai rekan editor yang memiliki kubik berhadapan, aku sering bercengkrama atau bahkan bercerita kepada Benni. Dia adalah pria baik dan ramah yang selalu menemani ku selama mengedit buku.
"Ya ampun Benni!" Aku bangun dari kursi ku dan menghampiri nya untuk sekedar memeluk nya, tanda terimakasih. "Makasihhhh..." Ucap ku sambil memeluk kedua bahu nya dari belakang, kebetulan ia sedang duduk. Ia pun hanya membalas pelukan ku dengan sebuah senyuman dan tepukan hangat di tangan ku yang sedang melingkar.