Aku berjalan dengan sebuah lukisan, dan wajah semasam jeruk lemon. Ayah lagi. Ayah datang ke galeri ku lagi. Dengan jas hitam mati dan wajah mematikan ia tersenyum menyeringai kepada ku. Ini terlalu gelap, baju nya terlalu gelap dan senada dengan sofa yang sedang ia duduki. Mungkin besok aku akan menyuruh Ayu untuk mengganti sofa tersebut dengan sofa yang lebih berwarna. Ia berdiri setelah aku berada satu meter di hadapan nya.
"Kapan pulang?" Tanya nya yang membuat ku bergidik mengerikan. Bukan karena aku benci rumah, tapi aku merasa bahwa aku sendiri pun tidak memiliki rumah. Kata orang, rumah adalah tempat ternyaman di mana keluarga alias tempat bercerita tinggal. Tapi... rumah ku tidak seperti itu. Aku tersenyum, kedua telapak tangan ku saling tergesek beraduan.
"Mau apa? Papa mau saya megang perusahaan Papa?" Tanya ku tenang. Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, ia menatap ku tajam.
"Tuh tau..." Dua kata menyebalkan terlontar dari bibir keriputnya. "Papa mau bicara serius sama kamu..." lanjut Ayah ku sembari menaruh satu buah amplop cokelat besar di atas meja. Aku mengambilnya, dan mulai membaca isi amplop tersebut.
"Oh come on Pa! Sore gak ngerti gini-ginian..." otomatis tangan kanan ku melempar amplop cokelat tersebut. Ceklek! Sinar Tiara Bintang dengan setelan kantornya muncul dari balik pintu ruang kerja ku. Dan gadis itu pun langsung duduk di kursi samping ayah ku. Dia adik ku, adik yang sangat pintar dan penurut. Sayangnya... dia perempuan.
"Tuh kan Pa..." gadis itu menatap ku dengan tajam. "Sinar aja yang pegang perusahaan Papa." Lanjutnya masih menatap ku tajam. Aku tahu, ada kekecewaan di balik sorot tajam mata gadis itu. Ada harapan di balik sana, harapan untuk aku menempati posisi yang Ayah minta. Menjadi penerus perusahaan Ayah. Menjadi keluarga Han yang sebenarnya. Menjadi Han Sore Sekala Boemi penerus perushaan Hans Store dengan kekayaan melimpah.
"Sinar aja! Lihat..." aku menunjuk Sinar. "Dia lebih pantas melanjutkan perusahaan Papa daripada aku." Lanjut ku menilai penampilan Sinar.
"Gak bisa lah Ko! Koko anak laki-laki pertama di keluarga ini!" Protes Sinar. Yup! Sebenarnya Sinar bukan satu-satunya adik yang aku punya. Masih ada Fajar Lintang Jagad, adik laki-laki yang baru saja menginjakkan kaki di bangku SMP. Kami berjarak jauh dengan yang satu itu. Tidak bermanfaat, tidak bisa di manfaatkan. Adik paling tak berguna bagi ku. Kejam. Memang kejam kata-kata ku untuk adik manis yang satu itu. Ia bukan terlahir dari ibu yang sama dengan ibu ku dan Sinar. Ia terlahir dari istri muda Papa yang sudah menikah lagi dengan pria lain setelah mendapatkan rumah dan mobil. Fajar tinggal di rumah kami karena ibu nya, alias istri muda ayah ku tidak ingin repot-repot mengurusnya dengan alasan hak asuh. Sebelum berumur selesai pendidikan, memang hak asuh akan selalu turun kepada ayah kan? Ibu seperti ibu-ibu di inggris, terlalu baik, ia rela mengurus Fajar seperti anaknya dengan alasan anak itu terlahir by accident. Yap! Meskipun selama istri muda ayah tinggal di rumah kami ia selalu nangis sesenggukan di belakang ayah. Ibu bertahan karena terlalu mencintai ayah, tapi ku kira apa gunanya bertahan untuk cinta satu arah? Dan ibu pernah menampar ku karena tiga kata terakhir di pertanyaanku itu. Ibu benar-benar mencintai ayah, ibu benar-benar setia seperti legenda penduduk Varenna. Mungkin karena ia terlahir dari daerah tersebut makannya ibu menjadi sesosok wanita yang benar-benar setia.
Lukisan menjadi pelarian ku sejak Fajar lahir dan rumah benar-benar kacau. Hari itu aku sedang mencari pelarian dari rumah, aku pergi ke Braga di ajak teman tongkrongan ku. Ia harus menyusul kakaknya yang berprofesi sebagai pelukis jalanan di sana. Dengan motor bebek dan helm terpasang di kepala, kami menuju jalan Braga sore hari. Bandung selalu indah dengan segala senandung seniman jalannya. Dengan seragam SMP tingkat akhir, aku duduk di kursi lipat, menatap cafe dan bar di seberang jalan.
"Kopi Sor?" Tawar Danial. Dia kakak dari teman ku Darren. Aku langsung menatap pria itu. Rambutnya lurus, hitam, dan panjang. Sebahu. Kaus Barong Bali tak cukup tebal untuk menutupi tulang belikatnya, ia kurus dan tinggi. Kulitnya sawo matang tipikal kulit orang Indonesia. Dengan tangan menggaruk tengkuk ia menyeletuk "Gak enak banget ya panggilannya? Sor? Kaya mie-mie-an nya anak SD." Aku otomatis tertawa tak terpikirkan dengan celetukannya. Apa gini rasanya punya teman seniman? Khayalan nya tinggi. Aneh. Tapi aku merasa celetukannya lucu. "Yeh... malah tawa." Gumamnya heran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Foolish Love! (COMPLETED)
RomanceNama ku Sarah Darmawan, aku senang membagi kebetulan-kebetulan yang menyenangkan dan keputusan-keputusan Semesta yang mengejutkan. Ini kisah cinta ku bersama nya, yang entah bagaimana ujung nya.
