Tenangkan dirimu. Jangan merasa sesak walaupun terdesak.
***
Napas Selena semakin tercekat. Cengkraman sosok itu nyatanya membuat dia tak berdaya. Pun, tubuhnya mulai mendingin hingga sampai kaki.
"Tak ada kata terakhir sebelum kau mati?"
Mata Selena menyalang. Kilatan marah tergambar jelas pada kedua bola matanya.
Sosok itu tertawa remeh. Ia berhasil membuat Selena mati kutu. Benar-benar tak berkutik, sekalipun tahu jika korbannya tengah mengumpat dalam hati.
"Kau mau melawan? Kau tak akan bisa, manis."
Selena semakin merasa organ dalam tak mampu menopang tubuh rampingnya.
Kepalanya mulai terasa pening.
"Kurasa ini memang akhir dari hidupku."
Menyeringai. Sosok itu menatap angkuh ke arah gadis yang tak berdaya itu. "Memang ini adalah akhir hidupmu. Kau tak perlu sesedih itu."
Selena tak kuat lagi. Ini terlalu menyakitkan untuknya.
"Aku tak pernah sedih. Aku hanya menyesal kenapa kau belum mati," umpat gadis itu di sela-sela kesakitannya.
Mendengar umpatan dalam pikiran Selena, sosok itu semakin mengeratkan cengkramannya hingga membuat rahang Selena terasa remuk.
"Diam kau!" teriak sosok itu kesal.
"Untuk apa aku diam? Bahkan kau mengincarku secara sia-sia karena kali ini aku tak tahu salahku apa."
"Salahmu adalah karena memilih untuk hidup di lingkungannya," deru napas sosok itu semakin tak teratur, "dan kau tak pernah mendengarkan ancamanku."
Sosok itu semakin tak peduli jika ada manusia lain yang akan mencoba masuk ke dalam toilet. Seluruh ruangan itu telah diberi mantra khusus agar manusia selalu berhasil membuang hasrat untuk ke toilet dan kembali ke tempat duduknya.
Bahkan kini, ia mengeluarkan sebuah belati yang sangat Selena kenali. Sebuah belati yang sama dengan saat ia terbunuh sebagai Luna.
Ujung mata belati itu perlahan menyentuh kulit leher Selena. Dingin dan tajam kala bersentuhan dengan lapisan epidermis miliknya.
Perih. Selena mulai merasakan nyawanya semakin tak tertolong kala luka itu bersentuhan dengan udara di sekitar. Darah pun mulai mengalir dan membuat leher jenjangnya berwarna merah.
"Darahmu sepertinya lezat," puji sosok itu saat mencium aroma manis dari sumber kenikmatannya.
Selena akan berakhir di sini.
"Ah, sepertinya aku mulai lapar dan ingin mencicipi sedikit darahmu ini, apalagi kau habis makan, bukan?"
Pikiran Selena melayang. Ia merasa jika pencabutan nyawanya tak sesakit saat dulu sebagai Luna. Meski mulai berspekulasi jika akan ditemukan lagi dalam keadaan nahas. Jelas seperti saat ia tak berhasil selamat dari para pengincarnya. Saat di mana seorang Luna dilemparkan di sebuah lorong kecil dekat tempat tinggalnya tanpa ada yang berhasil menyelamatkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FALSE : The Beginning
FantasySelena tak pernah menyangka jika kalung yang selama ini diberikan sang ibu justru membawanya kembali bertemu dengan sosok-sosok yang berpengaruh atas kehidupannya di masa lampau. Gadis itu terus dihantui mimpi buruk yang membuatnya bertanda tanya me...
