VIERUNDZWANZIG

1.8K 170 0
                                        

Karena sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan rahasia, akan tercium juga kebenarannya di suatu hari nanti.

***

Azzura semakin mendekati Luxio dan Xander yang terus menatap keduanya dengan heran. Wajah keduanya pun tampak tak bersahabat ketika mendapati tunangan Devian itu terus melemparkan senyuman ke arah keduanya.

"Kenapa gadis itu terus tersenyum terus ke arah kita?" Xander bertelepati dengan Luxio dengan sedikit melirik dari ujung ekor matanya ke arah lawan bicaranya.

"Aku tak tahu. Kita awasi saja dulu apa yang ingin dilakukan gadis ini di sini," balas Luxio juga melalui pikirannya.

Xander mengangguk kecil dan menunggu reaksi yang akan diberikan oleh Azzura terhadap keduanya.

Sedetik.

Gadis itu terus tersenyum ramah dengan tidak memperdulikan sikap dua orang lelaki di hadapannya.

Dua detik.

Jarak yang merentang di antara mereka semakin tipis seiring langkah percaya diri dari Azzura.

Tiga detik.

Azzura mulai terkekeh kecil hingga membuat Luxio dan Xander semakin bingung dibuatnya.

Empat detik.

Gadis itu kini tengah berdiri dengan jarak sehasta dari mereka.

Lima detik.

Dia mulai membuka suara, "Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apakah kalian terkejut melihat kehadiranku di sini?"

Sejemang, Xander dan Luxio seolah menelanjangi Azzura melalui netranya sehingga membuat gadis itu kembali tertawa renyah dan membuat Luxio menaikkan sebelah alisnya.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Luxio dingin. Tak ada nada bersahabat yang terdengar di pendengaran Azzura. Luxio benar-benar bersikap waspada terhadap tunangan Devian tersebut.

Azzura menghentikan tawanya lalu membenahi sedikit jubahnya yang tampak kebesaran itu. "Aku hanya refleks tertawa karena wajah kalian begitu lucu. Kalian terlihat seperti anak kecil yang kaget akan kehadiran sinterklas."

Xander menghela napas, ia menatap serius ke arah Azzura. Di matanya, gadis itu masih tampak santai dalam menanggapi kehadiran keduanya. Padahal sudah jelas jika keduanya berlawanan klan.

"Apa kau tak takut dengan kami?" Luxio memberikan penekanan pada setiap kata di pertanyaannya.

Mendapati pertanyaan dari penerus klan Dalton tersebut, Azzura mengendikkan bahu dan menggeleng. "Untuk apa aku takut dengan sekutuku?"

Semakin dibuat bingung, Xander menoleh ke arah Luxio. Ia benar-benar merasa jika otaknya tengah diporak-porandakan oleh badai pusing akibat segala hal yang terjadi saat ini. Pun, tatapan suami Blaire tersebut seolah berbicara jika ia tak paham dengan maksud 'sekutu' yang dilontarkan oleh Azzura.

Luxio berdecih. "Sekutu?"

"Aku memang sekutumu, Lux. Aku selama ini tak pernah menyukai kedua penerus di klan Colton itu," aku Azzura—masih tetap dengan senyum terbaiknya.

Masih dengan tatapan heran, lidah Xander mulai gatal. Ia memberanikan diri untuk bertanya kepada tunangan Devian itu. "Lalu jika kau ke sini, kenapa kau mengikuti kami?"

Kembali terkekeh, Azzura menatap dalam-dalam secara bergantian ke arah dua vampire di hadapannya. "Aku ingin ke rumah adikku."

"Bohong," ketus Luxio. Kali ini ia tak boleh lengah dengan manisnya mulut dari klan Colton.

FALSE : The BeginningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang