Jangan terlalu keras kepala. Terkadang menyembunyikan sesuatu itu tidak baik.
***
Tubuh Selena terhempas sempurna ke sebuah hutan bersamaan dengan Edward yang menggendong tubuh Blaire yang masih tak sadarkan diri.
Pakaiannya kini tampak kotor akibat terkena tanah bercampur darah yang menetes dari tangan akibat tusukan dari kuku tajam milik Reese.
"Kita di mana?" tanyanya ketakutan. Ia tak pernah menyangka jika Edward yang dirindukannya begitu berbeda dengan dikenalnya selama ini. Pemuda itu tampak bercahaya seperti dilimpahi jutaan bubuk glitter saat terkena cahaya.
Edward tersenyum. Tungkainya perlahan mendekati Selena yang masih tampak gemetaran menahan perih sekaligus ketakutan. Pun, ia dapat merasakan jika kini jiwa Selena terguncang.
"Katakan padaku, kau sebenarnya mengingat semuanya bukan?" tanya Edward tepat sasaran. Pemuda itu berhasil membuat tubuh Selena menegang seketika dan terdiam membisu.
"A-aku, maksudmu apa?" tanya gadis itu tergagap sembari membenerkan rambut yang menjuntai dan menutupi wajahnya.
Edward menggeleng pelan. Ditatapnya lamat-lamat. Ia menyelami pandangan gadis itu hingga membuat Selena semakin gugup. Hingga kemudian tatapan pemuda itu berubah sendu dengan helaan napas yang terdengar begitu terbeban. "Kenapa kau selalu berusaha menutupi sesuatu dariku? Apa aku bukan sahabat di matamu?"
Alih-alih mendapatkan jawaban, Selena justru melarikan topik pembicaraan. "Daripada kau menanyakan tentangku, lebih baik kita urusi saja ibuku."
"Kau ternyata masih keras kepala untuk menyembunyikan semuanya," pikir Edward. Sorot matanya mengisyaratkan kekecewaan yang terpendam.
Bukan hal yang aneh ketika Edward mendadak bungkam setelahnya. Pemuda itu kini berfokus pada jalanan menuju sebuah rumah di tengah hutan belantara dengan pohon yang menjulang tinggi hingga menutupi cahaya yang masuk. Ia benar-benar mengabaikan Selena dengan menatap lurus ke depan walaupun faktanya kini pikiran Edward sedang berkecamuk hebat.
Sementara itu, Selena yang dirundung perasaan bimbang terus saja merasa khawatir jika Edward akan benar-benar memusuhi bahkan melupakannya. Toh, bukankah tujuan Selena ke Jerman adalah bertemu dengan ayah dan Edward?
Selena meragu. Tidak. Ia menyesal karena telah datang ke Jerman. Kalau gadis itu tahu akan terlibat masalah seperti ini, dia akan lebih memilih untuk tidak bertemu salah satu di antara sekian banyak malaikat pencabut nyawanya di masa lalu tersebut.
Terlalu tenggelam dalam pikirannya, Selena tak memperhatikan Edward yang telah beberapa langkah jauh darinya. Ia terus berjalan tanpa melihat situasi di sekitar. Lalu akhirnya menabrak punggung lebar milik Edward.
Badan gadis itu sedikit terhuyung ke belakang. Beruntung, sebuah pohon di dekatnya berhasil terpegang oleh gadis itu sehingga Selena dapat menyeimbangkan tubuhnya. Apalagi suasana hutan ini benar-benar minim cahaya hingga membuat Selena harus ekstra hati-hati.
"Hati-hati," peringat Edward tanpa sedikitpun menoleh ke arah Selena.
Gadis itu hanya berdeham kemudian menegakkan kembali tubuhnya. Ia mengedarkan pandangan pada lingkungan hutan pinus yang terasa menyeramkan tersebut. "Edward," panggil Selena berbisik.
Jujur saja, ia sangat takut sekarang. Pun, ia merasa sedang diawasi oleh beberapa pasang makhluk tak kasat mata. "Ini di mana?" sambung Selena menepis rasa gugupnya.
"Black Forest atau Hutan Kegelapan," jawab pemuda itu sembari menggerakkan tungkai kakinya ke sebuah gerbang mansion.
Seketika Selena meneguk salivanya. Seingat gadis itu, Black Forest selalu diceritakan sebagai tempatnya makhluk-makhluk abadi. "Black Forest katamu?" ulang Selena dengan suara yang terdengar semakin pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
FALSE : The Beginning
FantasySelena tak pernah menyangka jika kalung yang selama ini diberikan sang ibu justru membawanya kembali bertemu dengan sosok-sosok yang berpengaruh atas kehidupannya di masa lampau. Gadis itu terus dihantui mimpi buruk yang membuatnya bertanda tanya me...
