SIEBENUNDZWANZIG

2.9K 204 0
                                        

Akan ada suatu masa ketika semuanya akan berakhir. Segala kesalahan akan mendapatkan solusi dan kejahatan akan terhapus oleh kekuatan bernama cinta.

***

"Hentikan!"

Suara Blaire begitu menggelenggar ketika menyaksikan bagaimana situasi yang berbanding terbalik tersebut. Langkah kakinya begitu terburu-buru mendekat ke tengah taman demi menghentikan pertumpahan darah yang terjadi.

Di sana, Reese melonggarkan tekanan pada ujung mata pisaunya. Emosinya mendadak kacau kala mendapati presensi Blaire yang terus mengikis jarak untuk mendekati Selena.

Reese merindukan ibunya. Sosok yang begitu diharapkan mendampingi masa tumbuh kembangnya hingga menjadi vampire dewasa.

Sungguh, Reese ingin menangis dan memeluk ibunya erat. Namun, kini tubuh itu bukan miliknya lagi.

Raga itu kini seorang wanit bernama Blaire, dan bukan Coleen.

"Jangan terhanyut perasaan, Reese," peringat Aurora melalui telepati.

Malang, justru Reese mengabaikan peringatan adik ibunya itu dan masih memilih bungkam dengan tatapan nanar.

"Mom, jangan mendekat!" peringat Selena saat menyadari mata pisau Resse tak lagi berada di dekat lehernya. Putri semata wayang Blaire itu meronta hebat. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Reese.

Napasnya tersengal-sengal, dan tubuhnya bergetar menahan perih yang terus menggerogoti asa untuk sebuah kehidupan yang lebih baik.

"Mom, kumohon menjauhlah," jerit Selena tertahan bersamaan dengan ujung pisau yang kembali menekan jaringan epidermis kulit lehernya.

Blaire kini tak peduli. Pikirannya hanya ingin menyelamatkan Selena dari segala masalah dari masa lalu.

Ia terus saja melangkah dan menghiraukan ancang-ancang serangan dari Devian. Apalagi pikirannya kalang kabut ketika melihat kondisi Azzura dan Edward. Kedua saudara yang kini terpisah akibat reinkarnasi itu terlihat tak berdaya.

Azzura yang kini mulai kewalahan dengan tubuh gemetar mulai bersimpuh dengan kepala mendongak ke langit sedangkan Edward berusaha menahan sakit akibat memar yang didapatkan dari serangan Corra.

Di sisi lain, Devian dengan cepat menghadang Blaire. Pemuda itu menatap nyalang ke arah wanita paruh baya itu. Dengan sekali kedipan mata, tangannya melesat cepat ke wajah Blaire.

Malang, pukulannya tak sampai ke wajah mulus Blaire. Kini kepalan tangan itu seolah tertahan dan menjalarkan rasa sakit yang begitu hebat hingga membuat Devian berteriak kesakitan.

Aurora menggeram. Dilepaskannya pegangan pada tubuh Luxio. Kuku panjang nan tajamnya muncul dan gerakan cepat, ia berusaha mencakar tubuh Blaire. Namun, lagi dan lagi, Blaire mendapatkan perlindungan dari Xander.

Suaminya itu menahan pergerakan tubuh dari Aurora hingga terdengar bunyi berderak sebagai pertanda tulang tangan adik kandung Mrs. Coleen itu remuk dalam sekali kedipan mata.

"Pergilah ke tempat Selena!" perintah Xander. Ia mengunci pergerakan tubuh Aurora hingga membuat vampire itu tak berdaya dan meregang nyawa di tempat.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, Blaire semakin mempercepat langkahnya.

Ia melesat ke arah Reese dan melakukan beberapa gerakan cepat dengan jemarinya. Satu per satu titik keseimbangan di tubuh gadis itu ditekan hingga membuatnya terkulai lemas. Pun, pisau yang sedari tadi digenggam jatuh ke tanah.

FALSE : The BeginningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang