ZWANZIG

1.8K 181 2
                                        

Segalanya harus diperbaiki karena masalah akan terus berlanjut tanpa ada solusi.

***

Hantaman demi hantaman terus terjadi di antara Peter dan Reese.

Gadis vampire itu terus melancarkan serangan kepada Peter secara bertubi-tubi. Ia memberikan pukulan pemuda itu, namun gerakannya kalah cepat hingga membuat gadis itu menggeram marah.

Pun, hal yang sama dilakukan oleh Peter. Ia memberikan serangan balik kepada gadis yang kini matanya tampak menggelap sekelam malam.

Dengan cekatan, Peter mengunci pergerakan adik Devian itu dan membantingnya ke lantai hingga menimbulkan debuman hebat.

"Kau!" teriak Reese, mengabaikan kondisinya yang mulai terluka di beberapa bagian.

Peter tersenyum remeh. Ia berdecih sesaat dan kembali melakukan pertahanan demi menghindari pukulan gadis vampire yang nyatanya lebih kuat dibanding perkiraan.

"Kenapa? Apa kau mulai kelelahan?"

Sejemang, Reese terkekeh. Tangannya menghapus bercak darah di sudut bibirnya. Sungguh, ia tidak pernah menyangka jika lawannya kali ini tidak dapat diremehkan. "Kau kira aku selemah itu?"

Lagi, Reese melancarkan serangan. Ia memunculkan taring beserta kuku panjangnya dan mulai bergerak mencakar Peter. Malang, Reese harus bertemu dengan udara tanpa sosok musuh di sana. Peter berhasil melakukan teleportasi dan berpindah ke dekat Blaire.

Reese mengumpat pelan di dalam hatinya, "Sial, aku kalah cepat dengan makhluk ini."

Bukan karena serangannya tak kena, melainkan Peter yang secepat kilat memasang perisai di berbagai sudut ruangan terutama pada tubuh Blaire agar tak terkena efek dari serangan yang terjadi.

"Kau, bajingan!" umpat gadis itu dan semakin memanjangkan kuku-kukunya yang berwarna hitam. Kali ini dia takkan memberikan toleransi lagi. Bisa-bisa harga dirinya sebagai penerus klan Colton akan rusak di mata kawanannya sendiri.

Tidak, lebih tepatnya ia akan kehilangan kehormatan sebagai Yang Mulia Putri dari klannya sendiri. Bahkan lebih buruknya, ia akan gagal menikah dengan Luxio.

"Bukankah sudah jelas kau yang bajingan di sini? Kau menghalalkan segala cara demi mencapai keinginanmu. Miris!"

Peter benar-benar berhasil membuat Reese kembali bangkit dengan emosi yang membara. Mendadak atmosfer yang hanya sekadar abu-abu kini jelas menghitam akibat kemarahan yang memuncak dari gadis vampire itu.

Tersenyum remeh. Peter segera berteleportasi menjauh dari posisinya. Ia membaca mantra sekilas dan menepuk pelan daun pintu ruangan bernuansa putih tersebut.

"Sekarang, Selena!" teriak pemuda itu hingga memberikan perisai khusus pada tubuh Selena.

Dalam kondisi tubuh gemetaran, Selena berlari cepat mendekati Blaire. Pikirannya kalang kabut. Di satu posisi, dia takut akan Reese yang kini menatap tajam ke arahnya dan di posisi lain, dia khawatir akan kondisi ibunya. Sungguh, bertemu kembali dengan Reese bukanlah sesuatu yang berakhir baik, menurutnya.

Sayang seribu sayang, Selena kalah cepat dengan Reese. Tunangan Luxio itu berhasil mematahkan perisai milik Peter tersebut dan mencengkram kuat tangan Selena hingga menyebabkan kuku Reese masuk tanpa permisi ke tangannya.

"Mau ke mana kau, Luna?" tanya Reese dengan suara yang begitu berat hingga membuat bulu kuduk Selena meremang.

Selena menjerit tertahan ketika kuku-kuku milik Reese terus menembus kulitnya hingga tertancap sempurna di sana. Darahnya perlahan mengalir dari tempat luka tersebut berada. Bahkan ketika bersentuhan dengan angin, luka itu semakin perih hingga Selena harus mengigit bagian dalam bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit itu.

FALSE : The BeginningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang