Wrong<2>

2.4K 278 120
                                        

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Typo bertebaran! Harap makhlum:v
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

"Mark, apa Haechan mulai bosen sama gue ya?" lesu Jeno pada Mark. Mark masih saja mengelus punggung Jeno tanpa ada niatan bicara.

Sesekali Mark tersenyum tipis, lalu berubah menjadi wajah sendu.

"Padahal gue udah sayang banget sama Haechan. Dia cinta terakhir buat gue!" Jeno menyandarkan tubuhnya kedinding. Ia menatap langit biru yang cerah tidak seperti hatinya yang sedang muram.

"Terus lu ada masalah apa?" tanya Jeno setelah ia rasa puas bercerita.

"Gue jatuh cinta sama seseorang..." prolog Mark. Jeno mengangguk antusias.

"Beneran? Kok gue nggak tau? Wah jahat lu! Gue suka Haechan curhatnya kan sama lo terus. Lah lo punya gebetan tapi nggak cerita sama gue. Gak adil kalo gini caranya."

"Lo emang suka sama dia dari kapan? Anak mana? Namanya siapa? Kenapa nggak cerita? Terus kenal dia darimana? Terus dia itu.... Hmmpfttt...." ucapan Jeno terputus karena tangan Mark yang membekap mulutnya.

"Bacot mulu dari tadi." datar Mark. Jeno terkekeh.

"Ya kan gue penasaran."

"Gue kenal dia lama. Sekolah ini. Namanya rahasia. Gue kenal karena nggak sengaja ketemu dia di taman." terang Mark.

"Kenapa pake dirahasiain sih namanya? Lo juga kenapa nggak cerita?" Jeno bertanya sambil menngerutkan dahinya bingung.

"Ya nggak mau aja." Mark berdiri. Jeno pun ikut berdiri.

"Lo mau ke game center nggak? Bosen gue disini!"

"Okelah."

"Yang terakhir sampe di game center, dia yang traktir ya." Mark sudah berlari saat mengatakan itu. Membuat Jeno mengumpat dan mulai mempercepat langkah kakinya.

Mereka berlari menuruni tangga. Mark dan Jeno mengambil jalan kebelakang sekolah. Mereka berdua melompati tembok sekolah yang tidak begitu tinggi.

Setelah sampai dibalik dinding yang satunya mereka melanjutkan lari mereka. Mereka tak membawa tas, karena tak sempat.

Setelah berlari dan sampai di game center ternyata yang kalah adalah Mark.

Itu karena Jeno pura-pura terjatuh, Mark yang khawatir sontak menghampiri Jeno. Tapi, saat sudah dekat, Jeno mendorong Mark hingga jatuh dan Jeno berlari sambil menjulurkan lidahnya.

"Yahkk....Lo..Currang tadi." seru Mark saat mereka baru sampai, bahkan Mark tak mengambil nafas terlebih dahulu.

"Lo juga curang bego." kesal Jeno sambil mengelap dahinya yang berkeringat. Markpun sama dengan Jeno.

"Ya udah deh. Gue yang traktir." ujar Mark. Mereka memasuki game center. Mereka mencoba seluruh permainan yang ada disana.

Mereka tertawa bersama, saling mengejek, melempar candaan, menjahili satu sama lain.

Mereka terlihat bahagia. Mencoba mengalihkan masalah mereka masing masing










Mark menatap Jeno yang tengah serius mencoba memasukan bola basket kedalam ring.






































'Gue nggak mau persahabatan kita hancur gara gara lo tau siapa yang gue suka. Gue belum siap kehilangan lo sebagai sahabat terbaik gue, Jeno...' batin Mark.

Kisah Tentang MerekaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang