Chapter 12: The Right Things to Do

1K 172 16
                                        

Seokjin akan selalu berpikir keras tentang tindakannya. Apakah ini benar? Haruskah ia mengambil langkah lain? Apa yang harus ia lakukan?

Sayangnya Seokjin terkadang lupa, dia hanyalah manusia. Dia hanya bisa melakukan yang terbaik sebelum takdir menempatkan pilihannya.

"BANGSAT!!! SIALAN!!! AKU TIDAK BISA MELAKUKAN ITU, JOON!!! JIMIN AKAN TERSAKITI!!!"

Kini Seokjin tengah berjalan mondar-mandir di dalam apartemen milikinya. Namjoon berada tak jauh darinya, ia hanya bisa terdiam di kitchen stool sambil meminum segelas wine putih.

"Tidak ada jalan lain, hyung. Satu-satunya jalan adalah Jimin memberikan pernyataannya. Jika hanya Hoseok, pengadilan tidak akan mengambil tindakan lebih dari ini. Hoseok sudah cukup tersakiti dengan mengatakan apa yang terjadi dengannya," Namjoon berjalan mendekati Seokjin dan meraih pundaknya. "mengertilah dengan kondisi Hoseok juga, hyung. Kau pikir saat itu adalah hal yang mudah baginya? Aku tau kau menyayangi Jimin, tapi apa kau sampai tega melupakan kalau Hoseok juga terluka?"

Seokjin menatap Namjoon marah. Wajahnya merah padam dan jemarinya terkepal, "kau kira aku tidak tahu? Kau pikir aku menyayangi Jimin lebih dari aku menyayangi Hoseok? Kau pikir apa yang Hoseok ucapkan di pengadilan adalah keseluruhannya?"

Seokjin menyentakkan genggaman Namjoon yang berusah meraih tangannya. Seokjin tak habis pikir, serendah itukah Namjoon melihatnya.

"Asalkan kau tau, harusnya kau tau. AKU yang datang malam itu, AKU yang melihat bagaimana Hoseok dan Jimin saling memunguti pecahan diri mereka bersama-sama." amarah Seokjin kian meredup, digantikan dengan genangan air mata, "AKU yang memeluk mereka, aku yang melihat darah mereka, Joon. Mereka begitu hancur... Jika saja Kookie tidak ada, mungkin aku akan membunuh bajingan itu," kini Seokjin hanya bisa bersandar di pelukan Namjoon.

"Apa yang sebenarnya terjadi, hyung. Aku ingin lengkapnya, bukan desas-desus yang aku dengar dari kau ataupun Kookie. Share your load, baby." Namjoon tetap mengusap punggung Seokjin dan segera membawanya ke kamar.

"Katakan padaku, kumohon."

"Sangat mengerikan, Joon. Bahkan aku saja ketakutan setengah mati, bagaimana dengan Hoseok dan Jimin yang benar-benar mengalaminya selama sebulan?"

.
.
.
.
.
.
.

-Season-

Chapter 12
The Right Things to Do

"I don't know or rather I never know what I must do, BUT I do know what I must choose."

.
.
.
.
.
.
.

Namjoon kini tengah berada di studionya. Tidak, dia tidak sedang mengerjakan projek apapun, dia hanya masih ingin memproses apa yang Seokjin ucapkan malam sebelumnya.

Hoseok dan Jimin. Mereka berdua begitu hancur, lebih dari yang Namjoon bayangkan. Mereka dulunya bersinar begitu cerah kini meredup. Jimin keluar dari program tarinya, meskipun masih mengikuti klub bersama Hoseok. Hoseok dengan segala mimpi buruk dan traumanya, bahkan dua kali percobaan pembunuhan.

"Hey, Joon. Daritadi aku memanggilmu."

Sebuah suara membuyarkan lamunan Namjoon, tentu saja Yoongi. Sudah tiga hari sejak ia memberikan kontak Hoseok dan kini pria itu amat rajin mendatangi studio milik Namjoon.

"Ah, maaf, hyung."

"Kau kenapa? Kau terlihat banyak pikiran," Yoongi kini duduk di sofa yang telah setia ia duduki selama tiga hari belakangan ini. "Kau tau kau bisa mengatakan apapun padaku."

Season [YoonSeok]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang