"Thank you for coming," kataku sembari memeluk Rama dengan erat.
Hari ini adalah premiere dari film terbaruku. Tentu aku mengundang Rama untuk datang sebagai pasanganku meskipun aku tahu akan ada banyak wartawan. Beruntungnya aku bahwa Rama bersedia hadir tanpa banyak membantah ataupun memberi syarat. Oleh karena itu, saat ini kami berada di ruang tunggu artis dan aku bisa bebas memeluknya.
"Karena kamu sangat mau aku datang kan?" Rama mengelus rambutku.
"Pastinya," aku mengelus pipi Rama dan akan menciumnya namun kemudian kudengar bunyi seseorang berdeham.
Aku dan Rama menoleh kea rah Mia. Jempol Mia menunjuk ke belakang. Rupanya beberapa artis lain sedang memasuki ruang tunggu juga.
"Aku tunggu di luar kalau begitu?" tanya Rama.
"Jangan. Di sini aja," aku merajuk. Kupegang tangan Rama erat-erat supaya dia tidak bisa pergi kemana-mana. "Lagipula mereka bukan orang yang comel kok. Beberapa juga punya pacar yang gak mau dikasih tau ke orang-orang."
Kupasang wajah memelas sedemikian rupa supaya Rama mau menuruti keinginanku. Dia tampak menimbang beberapa saat. Hingga akhirnya dia mengangguk dan setuju untuk tetap tinggal di sisiku.
Senyumku mengembang saat Rama berdiri tenang di sisiku. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Kepada rekan-rekan artisku, kukenalkan Rama sebagai kekasihku. Mereka terlihat takjub dan terkejut ketika akhirnya aku benar-benar mengenalkan seseorang sebagai kekasihku. Selama ini mereka selalu menduga bahwa aku berpura-pura memiliki kekasih. Agar orang tidak sibuk membicarakan atau menjodohkanku dengan entah siapa. Nyatanya sekarang mereka tahu bahwa aku benar-benar memiliki seorang kekasih.
"Kerja dimana?" tanya salah seorang pemeran figuran di filmku ini.
"MBTV," jawab Rama sambil tersenyum tipis.
"Wah bisa dong bantuin supaya aku bisa sering tampil di situ," katanya lagi kemudian terkikik. Senyum palsu yang kubenci dari orang-orang penjilat. "Belum lagi sinetron-sinetronnya kan pasti selalu tinggi ratingnya."
Rama sepertinya memikirkan hal yang sama seperti aku karena dia menggerakkan matanya sedikit tapi tersenyum sedikit. "Saya gak punya wewenang ke bagian sana."
"Rama itu bagian Audit, Ly," aku angkat bicara. "Jadi gak ngurusin Production. Dia itu ngurusin kalau ada yang bau-bau korupsi atau nepotisme gitu."
Rilly menatapku dengan kesal dan mendengus. Melihat itu aku malah ingin tertawa. Sekuat tenaga aku tahan dengan mencengkram lengan Rama lebih erat.
"Mel, pemain-pemain perlu ke depan sekarang untuk ketemu wartawan," Mia tiba-tiba muncul di belakang aku dan Rama. Kehadirannya membuat aku bersyukur karena bisa terlepas dari penjilat itu.
"Ah oke," Aku mengangguk. "Aku ke depan dulu ya, tampan."
Rama tersenyum saat kupanggil begitu dan saat kupegang kedua pipinya.
"Oke. Aku keliling-keliling juga," Rama mengangguk.
"Jangan lupa masuk kalau sudah waktunya. Tempat kamu sebelah aku," kukedipkan mataku lalu kucium pipinya. Rama membalas dengan memelukku erat seperti memberikan kekuatan untukku. Sekali lagi aku bersyukur memiliki seorang pacar yang selalu mendukung aku.
***
Sesi wawancara dengan para wartawan sudah selesai. Begitu pula dengan sesi pemotretan bagi para pemain. Sekarang aku hanya diminta berfoto dengan para fans sembari menunggu pengumuman mengenai pintu teater yang terbuka.
Rama tidak terlihat dimana-mana. Bukannya aku akan menghampirinya dan merangkul lengannya. Tidak mungkin kulakukan dengan banyak wartawan di sekitar kami. Aku hanya ingin memastikan Rama ada dalam pandanganku. Itu akan membuatku merasa lebih tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)
Romance21+! CERITA DEWASA! Ketika Rama mencintai Nada dan Melodi di saat yang bersamaan. Ketika Nada tahu bahwa pria yang dia cintai adalah milik wanita lain. Ketika Melodi tidak tahu bahwa kekasih tercintanya sering menjalani malam yang panas bersama wa...
