Aku berdiri dengan tidak nyaman. Sudah lama sekali sejak terakhir aku mengenakan rok. Rok lipit selutut ini sudah lama tersimpan di sudut lemari pakaianku. Baru kusadari keberadaannya ketika aku merapikan barang-barang saat pindah ke apartemen. Pada saat awal aku mulai kurus, beberapa kali rok ini kukenakan karena aku sudah lama ingin mencobanya. Namun ketika mobilitas pekerjaanku semakin meningkat, mengenakan rok tidak bisa jadi opsi.
Aku berbalik untuk menatap bayanganku di kaca minimarket. Entah sudah keberapa kali aku memperhatikan bayanganku sendiri di kaca. Apakah ikatan rambutku rapi? Apakah bajuku terlihat kusut? Apakah lipstickku meleber kemana-mana? Apakah ada keringat sebesar biji jagung di keningku?
"Cantik kok,"
Cepat-cepat aku berbalik dan pura-pura tidak terpergok sedang memperhatikan penampilan. Orang di depanku malah dengan polosnya nyengir. "Masa?"
"Apalagi pake rok begini," Miller menurunkan tatapannya ke arah rokku. "Emangnya ada hari spesial?"
Dia pasti menggodaku dengan ekspresinya yang biasa saja saat berbicara. Aku menggerakkan kakiku yang dilapisi sneakers. Seharusnya rok ini tidak aku pakai. Seharusnya aku berdandan biasa saja.
"Aku ganti baju dulu," Tanpa mempedulikan Miller, aku berbalik untuk masuk ke lobi apartemen.
"Kenapa diganti?" Miller menahan tanganku dengan cepat.
"Nggak nyaman," jawabku pelan.
"Kenapa harus gak nyaman? Roknya aja di bawah lutut kok. You look good," Miller mengacungkan jempol namun wajahnya hanya datar begitu saja.
Kukerutkan keningku saat mendengarkan kata-kata Miller.
"Ayo kita berangkat," Miller mengedikkan kepalanya dan berbalik. Dia melepaskan pegangan tangannya yang refleks dia lakukan tadi. Biasanya memang kami jarang bersentuhan kecuali untuk hal-hal tertentu seperti menyebrang jalan. Aku mau menjaga interaksi fisik kami dan Miller mengerti.
Miller menyetir ke tempat tujuan kami. Tempat yang aku tidak tahu ada di mana. Dia bilang mau memberikan kejutan untuk kencan kami yang ke... Entahlah rupanya aku sudah tidak menghitung. Sudah terlalu sering sepertinya.
"Harusnya kamu ijinin aku ganti rok jadi celana!" Spontan aku memekik ketika menyadari kemana Miller membawaku. Jungle Land!
Miller tertawa. Sesuatu yang jarang terjadi. "Maaf, soalnya kamu terlihat bagus dengan rok. Jadi aku gak rela kamu ganti."
Aku merengut. "Tapi kalau ke sini, gak banyak yang bisa dinaiki kalau aku pakai rok."
"Naik yang bisa aja. Kalau gak bisa, kita cukup foto-foto. Oke?"
Kenyataannya, kami memang lebih banyak mengobrol dan berfoto daripada menaiki wahana yang tersedia.
***
Hari ini Miller muncul di kantorku tepat di waktu aku pulang bekerja. Ketika aku melangkah ke luar, Miller melangkah masuk. Dia bahkan masih mengenakan jas. Kami sama-sama terkejut karena bertemu di sini.
"Kamu sudah mau pulang?" tanya dia.
"Kamu ngapain ke sini?" aku balik bertanya.
"Aku kan mau jemput,"
"Gak ada chat apa-apa?" Aku merogoh ponselku dan melihat notifikasi. Obrolan terakhirku dengan Miller adalah membahas kandungan mana yang lebih baik ada di menu makan siang. Protein, karbohidrat, lemak, atau vitamin?
"Oh sorry. Chat-nya gak kekirim ternyata," Miller tersenyum malu dan sedetik kemudian ponselku berbunyi. Muncul pesan dari Miller.
Makan malam denganku yuk? Aku jemput di kantor kamu ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)
Romansa21+! CERITA DEWASA! Ketika Rama mencintai Nada dan Melodi di saat yang bersamaan. Ketika Nada tahu bahwa pria yang dia cintai adalah milik wanita lain. Ketika Melodi tidak tahu bahwa kekasih tercintanya sering menjalani malam yang panas bersama wa...
