Enam Belas - Melodi

28.6K 1.8K 187
                                        

Sekali lagi aku memperhatikan si pacar yang sedang menyetir. Aneh. Dia jauh lebih pendiam dari biasanya. Maksudku, Rama memang bukan tipe laki-laki yang sering bicara, tapi dia juga tidak pernah terlalu diam seperti ini. Jumlah kata-kata yang dia ucapkan selama kami makan siang bersama Kak Miller dan Kak Nada tadi hingga saat ini sepertinya tidak lebih dari jari-jari di kedua tanganku.

"Kamu udah kenal Kak Nada sejak waktu kuliah kan?" Kuputuskan untuk memulai pembicaraan agar suasana di sekitar kami tidak terlalu hening.

Rama menoleh, kaget karena tiba-tiba aku bertanya. "Ya," Rama mengangguk.

"Kok gak kaget liat penampilan dia yang baru?" Aku benar-benar penasaran akan ini. Bagi mereka yang sudah lama tidak bertemu dengan Kak Nada, seharusnya takjub dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.

"Dulu pernah ketemu dan dia sudah sekurus sekarang," Rama menjawab tanpa berpikir panjang.

"Oh begitu." Nada bicaraku memang seperti menyudahi obrolan tapi aku tidak melepaskan pandanganku dari Rama.

Rama sepertinya sadar bahwa aku masih penasaran akan apa yang terjadi dengan dirinya. Oleh karena itu dia balas memandangku sekilas lalu kembali menatap jalanan. "Tanya aja kalau ada yang mau kamu tanyakan."

"Hmm," aku bersandar pada kursi. Lebih rileks setelah Rama bicara begitu. "Apa yang lagi kamu pikirin?"

"Gak ada," Rama menjawab cepat.

"Beneran?"

"Iya."

"Kok aku ngerasa kamu lagi bohong ya?" Mataku menyipit dan keningku berkerut. Benar-benar yakin bahwa ada yang Rama pikirkan dan mengganggu dirinya. Biasanya, Rama akan menanggapi dengan tawa atau tersenyum, kemudian mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Kami akan membicarakan hal lain dan aku sendiri akan lupa dengan penyebab aku bertanya.

Rupanya kali ini berbeda. Rama terdiam. Tidak menjawab pertanyaanku. Tidak menatap wajahku. Tidak tertawa menanggapiku. Perasaanku mulai dirayapi rasa takut. Aku tidak mau Rama mengatakan sesuatu yang selalu aku takutkan.

Ketika aku hampir mengatakan sangkalan agar dia tidak perlu menjawab, Rama sudah terlanjur berkata. "Mel, kita perlu bicara."

That's it. Itu semacam kata kunci untuk membuka pembicaraan ke arah sebuah hal. Hal yang aku tahu tidak akan aku sukai saat mendengarnya.

***

Hari sudah sore saat aku dan Rama memutuskan untuk bicara. Alih-alih di tempat umum, aku mengajaknya ke apartemenku. Sesuai dengan rencana kami semula. Lagipula, jika benar yang aku duga (misalnya Rama meminta putus dan aku berteriak tanpa bisa kucegah), maka semuanya akan lebih baik dilakukan di apartemen daripada di tempat umum. Aku masih memikirkan publikasi yang mungkin bisa terjadi dan citra buruk yang akan mengenai diriku jika aku gegabah dalam melakukan sesuatu.

"Jadi kamu mau ngomongin apa?" tanyaku sedikit keras. Maklum saja, begitu kami sampai di apartemenku, Rama langsung meluncur menuju balkon, membuka pintunya, namun tidak keluar. Dia hanya berdiri bersandar di ambang pintu dan menatap keluar. Aku sendiri duduk di sofa dalam kondisi tegang.

Rama berbalik menghadapku tanpa beranjak satu langkah pun. Dia berdeham dan menatapku. Perasaan tidak menyenangkan yang tumbuh di dadaku mendadak berkembang berkali-kali lipat.

"Mel, kita sudah tiga tahun pacaran..." Rama memasukkan kedua tangannya ke saku.

"Aku ingat. Baru beberapa bulan lalu kita ngerayain anniversary. Mama dan Papa nanya ke aku kapan kamu bakal melamar aku?" Langsung saja kutembak Rama dengan gagasan pernikahan. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kami bahas sama sekali.

Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang