Dua Puluh Tujuh - Rama

26.6K 1.3K 34
                                        

Bergabung di organisasi mahasiswa bukanlah hal yang ingin aku lakukan di tahun terakhirku kuliah. Aku berencana untuk tetap beraktivitas seperti sejak semester pertama kuliah. Menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang, kuliah pulang. Namun sahabatku Awan berhasil memaksaku untuk menjadi rekan kerjanya di BEM saat dia berhasil terpilih menjadi seorang wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Dia berhasil meyakinkan aku dengan menyebut-nyebut keinginanku untuk menjadi seorang auditor (bukan terkait angka, tapi lebih ke sistem). Dia juga menghasutku dengan mengatakan bahwa di BEM banyak perempuan cantik. Dasar. Akhirnya aku setuju untuk membantu Awan. Aku pikir, tidak ada salahnya bergabung. Aku bisa belajar berorganisasi, aku bisa belajar menangani kasus-kasus nyata, aku juga bisa punya kenalan lebih banyak setelah temanku hanya di sekitar FISIP saja.

Hari pertama kami berkumpul dengan seluruh pengurus, jadi hari pertama aku menemui dia.

Aku hanya duduk di salah satu kursi, membaca print out materi kuliah yang diajarkan tadi siang. Aku belum berminat untuk menjalin keakraban dengan siapa pun. Selain karena ruangan ini terlalu berisik, aku memang lebih tertarik mendalami materi kuliah yang disampaikan tadi. Saat kurasakan leherku pegal karena terlalu banyak menunduk, aku melihat dia. Tubuhnya yang berisi bergerak lincah ke sana kemari, tertawa dengan beberapa orang, termasuk Fadli, si Ketua BEM. Senyumnya manis, aku mengakui. Dia tidak terlalu cantik jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang aku temui di fakultas maupun di ruangan ini. Tapi gerak geriknya membuat mataku tidak bisa melepaskan sosoknya. Mendadak aku lupa mengenai materi yang sedang aku baca.

Saat Fadli dan Awan mengajak pengurus utama untuk berkenalan lebih dulu, rupanya dia juga ada. Saat dia mengenalkan diri dan aku mendengar suaranya, refleks aku tersenyum. Dia begitu manis. Aku berdiri agak jauh dari dirinya. Namun tanpa sadar aku berjalan mendekatinya dan berdiri di sebelahnya. Namanya Nada. Aku Irama. Kami benar-benar bisa cocok. Perkenalan kami mengambil perhatian orang-orang yang langsung sibuk bersorak sorai. Nada hanya tertawa bersama orang lain.

Kami memang cocok. Kami jadi rekan bertukar pikiran yang tepat, rekan mengumpat dan saling curhat jika ada sesuatu yang menyebalkan, rekan makan malam paling kompak. Aku benar-benar nyaman menjalin pertemanan dengan dia. Aku rasa Nada juga begitu. Semua orang pun akhirnya tahu bahwa Rama dan Nada adalah pasangan BEM gila. Kami berdua bisa sama-sama terlambat datang rapat dan hanya cengengesan. Kami berdua juga bisa stand by di ruang BEM hingga dini hari (bersama Fadli dan Awan) untuk mengerjakan program kerja ataupun mengecek laporan keuangan. Kami berdua juga bisa jadi dua orang pertama yang sukarela membelikan makanan ketika ada satu orang mengatakan lapar di tengah-tengah rapat. Kami berdua bahkan bisa jadi orang paling semangat mengangkut barang, mempersiapkan dekorasi untuk beberapa program kerja, lebih semangat daripada panitia aslinya. Sifatnya yang tanpa pamrih, keceriaannya yang tanpa henti, sukses membuat aku terpukau.

Sampai akhirnya aku hafal kebiasaan Nada. Minuman favoritnya adalah Milo. Mie instan favoritnya adalah mie ayam bawang saat sedang merasa biasa, mie rasa soto saat sedang tidak enak badan, mie goreng saat sedang sangat lapar. Tanpa telur, hanya sayur, dengan tiga buah cabe rawit.

Nada memang ceria dan mudah bergaul, tapi ada kalanya dia ingin sendiri. Saat sedang menstruasi, saat sedang kesal terhadap keluarganya. Nada juga sulit tidur jika ada yang sedang dia pikirkan.

Aku tidak tahu kapan mulainya, tapi aku akhirnya yakin bahwa aku mencintai Nada, menyayangi perempuan gembul dengan senyum paling manis sedunia. Setiap aku memejamkan mata, ada bayangan Nada di kepalaku. Setiap aku bangun pagi, adalah Nada yang pertama aku ingat. Ini bukan sekedar cinta monyet. Aku tahu itu.

Aku bermaksud mengutarakan perasaanku di hari kami menjalani liburan dengan seluruh pengurus BEM. Di hari yang sama pula aku mengalami penolakan. Tanpa alasan apa pun. Hanya menganggap bahwa hubungan kami sebatas teman.

Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang