Dua Puluh Tiga - Melodi

21.4K 1.8K 173
                                        

"Kak Miller kenapa diem aja?" Lagi-lagi aku berteriak. "Kak Nada bukan hamil karena Kak Miller kan?"

Kak Miller menggeleng sedikit.

"Kalau bukan Kak Miller berarti... Rama?"

Kali ini Kak Miller diam. Dia tidak menatapku dan tatapan matanya getir. Aku tahu bahwa diamnya adalah pertanda dia mengiyakan tebakanku. Dadaku langsung terasa sesak. Dikhianati oleh dua orang yang berarti dalam hidupku. Bahkan sampai Kak Nada hamil. Ya Tuhan, aku merasa benar-benar sakit hati, benci, marah, kesal, sekaligus sedih di saat yang bersamaan.

"Rama gak tahu," Kak Miller angkat bicara. "Nada gak pernah bercerita ke Rama."

"Apa?"

"Itu bukan urusan kita, Melodi. Itu masa lalu Nada. Rama gak cocok buat kamu dan aku bisa menerima Nada sekarang ini. Sudah, tolong. Kamu mau marah, silakan. Kamu mau pukul aku, silakan. Tapi sudah. Jangan membuat energi kamu habis untuk memikirkan Rama lagi," Kak Miller melangkah maju tapi aku malah mundur.

"Bisa ya Kak Miller ngomong kayak gitu dengan gampangnya? BUKAN KAKAK YANG DISELINGKUHIN SAMA TEMEN KAKAK SENDIRI! BUKAN KAKAK YANG PACARNYA SELINGKUH SAMPAI BIKIN HAMIL ANAK ORANG!"

Aku menghentakkan kaki dan berlari kembali ke dalam. Berlari sekencang mungkin menuju kamarku. Begitu sampai di kamar, aku lemparkan semua barang-barang yang bisa kujangkau. Setelah lelah, aku merosot di sisi tempat tidur. Kembali menangis sampai kesadaranku hilang.

***

"Melodi? Eh kamu gak bilang mau ke sini?" Kak Nada membukakan pintu kamar apartemennya dan benar-benar terkejut mendapati aku di sini.

Bi*ch, pikirku dalam hati.

"Aku ada syuting di sekitar sini dan aku kepikiran untuk mampir." Dengan kemampuan akting yang aku miliki, aku tetap bersikap ramah dan tersenyum kepada Kak Nada.

"Silakan masuk. Kamu mau minum apa?" Kak Nada mempersilakan aku masuk dan langsung menghampiri kulkas. "Aku cuma punya air mineral, susu, Milo, dan kopi. Sebenernya aku jarang minum kopi tapi karena Miller beberapa kali ke sini jadi aku sediakan juga. Ngomong-ngomong kamu kok tahu tempatku?"

Aku menutup pintu dan duduk di sofa. Duduk tegak dengan ekspresi kembali serius.

"Miller yang mengabari?" Kak Nada kembali menatapku dengan senyumnya dan dia memegang sebotol air mineral dingin.

Aku menggeleng. Kak Miller menolak memberikan alamat Kak Nada setelah aku marah-marah pekan lalu. Tapi aku tidak kehabisan akal. Mia kuminta menghubungi kantor Kak Nada untuk mendapatkan alamat ini.

"Sudah sampai mana hubungan Kak Nada dengan Kak Miller?"

"Eh?" Kak Nada kaget tapi kemudian dia tersenyum malu-malu. Apa ekspresi ini yang berhasil membuat Rama dan kakakku tertarik? Sebelum menjawab pertanyaanku, Kak Nada masih sempat menyimpan gelas berisi air mineral dingin untukku. Dia kemudian duduk di sofa sebrang. "Gak ngapa-ngapain kok Mel. Dia sesekali datang ke sini dan kami ngobrol."

"Cuma itu?" Dari tatapan Kak Nada, aku tahu hubungan mereka tidak mungkin hanya sebatas mengobrol. Tapi bahkan kamu tidak akan menceritakan hubunganmu dengan pacar meski kepada adik si pacar sendiri.

"Aku..."

"Tidak lebih jauh dari yang Kak Nada lakukan dengan Rama, sepertinya?"

"Eh." Sekarang Kak Nada benar-benar panik. Wajahnya memucat.

"Kak Nada pasti bingung dari mana aku tahu?" Wajahku menyeringai. "Seharusnya soal itu gak Kak Nada bahas dengan kakakku di chat."

Kak Nada memejamkan matanya dan membukanya kembali. "Aku minta maaf, Mel."

"Gampang banget Kak Nada bilang maaf. Setelah kalian selingkuh di belakang aku bertahun-tahun. Ketemu aku dan pura-pura gak ada apa-apa. Wah kalian memang jago akting. Pernah coba casting?" Aku berdiri dan melipat tanganku.

"Aku selalu tahu bahwa Rama tidak pernah benar-benar mencintai aku meski mulutnya bilang cinta. Aku selalu tahu bahwa gak ada tatapan cinta di matanya setiap kali melihat aku. Dia seperti robot saat bersamaku." Aku berjalan mondar mandir.

"Tapi itu gak berarti kalian bisa dengan mudahnya selingkuh di belakang aku!" Aku memukul tembok hingga membuat Kak Nada terlonjak. Aku sendiri merasakan tanganku langsung nyut-nyutan tapi biarlah.

"Aku dan Rama sudah menghentikan hubungan itu," kata Kak Nada.

"Itu gak menghapus fakta kalian berselingkuh di belakang aku!"

Kak Nada mengangguk. Tampangnya benar-benar memelas. "Iya," dia bergumam.

"Kak Nada gak tahu gimana sakitnya hati aku saat tahu cerita itu. Kalau aku gak lihat chat Kak Nada dengan Kak Miller, mau sampai kapan kalian menyembunyikan ini?" Di sela-sela amarahku rupanya aku kembali menangis. Kupikir air mataku sudah kering.

"Baik aku maupun Rama gak mau membuat kamu sedih, Mel."

"Oh ya? Itu yang kalian rasakan? Kalian yakin? Itu yang kalian pikirkan saat berhubungan sampai Kak Nada akhirnya hamil?"

Kak Nada kembali membelalak. Kalau tadi dia hanya terkejut dan merasa bersalah, sekarang dia gemetar. Tangannya gemetar sampai dia harus menggenggam tangannya sendiri. Bibirnya ikut bergetar sampai dia harus menggigitnya.

"Itu... kesalahanku. Rama gak tahu apa-apa..."

"Aku pikir semua memang kesalahan Kak Nada. Kalau Kak Nada dari dulu menerima perasaan Rama, seharusnya Rama gak akan menjadikan aku pelariannya. Tapi kalaupun dulu Kak Nada menolak Rama sampai dia menjadikan aku pelarian dia, Kak Nada harusnya tahu diri untuk gak berhubungan dengan Rama. Kak Nada juga yang salah sampai bisa hamil segala. Lalu sekarang soal keguguran? Kak Nada juga yang salah." Puas sekali rasanya aku menyalahkan Kak Nada.

"Aku gak keguguran..."

Giliran aku yang terdiam.

"Aku melakukan aborsi," Kak Nada mendongak seakan menantangku. Namun matanya menatapku dengan sedih.

"Aborsi..." Tak pernah kubayangkan kata itu terucap dari mulut senior yang paling kuhormati sejak kuliah hingga sekarang. Sebuah tindakan yang menurutku tidak bermoral.

"Ya, itu memang salahku. Semua juga salahku. Sejak awal aku yang salah. Kamu gak salah, Mel. Rama juga gak salah. Aku juga yang meminta dia untuk gak memutuskan kamu meskipun dia ingin menyelesaikan hubungannya dengan kamu sejak aku mengiyakan untuk bersamanya. Aborsi ini juga salahku. Aku yang memutuskan untuk melakukan aborsi tanpa memberi tahu Rama sebelumnya bahwa aku mengandung anaknya. Sekarang Miller. Aku juga yang salah karena mengiyakan ketika dia meminta berhubungan serius denganku meskipun dia tahu seberapa gelapnya masa lalu aku. Kalian gak ada yang salah, semua kesalahan aku, Mel."

Penjelasan Kak Nada malah membuatku merasa terpojok. Amarahku menguap sudah. Aku tidak bisa marah-marah lagi melihat Kak Nada yang begitu rapuh seperti ini. Aku memang masih tidak terima karena diselingkuhi oleh orang-orang yang aku percaya. Tapi...

"Kak Nada gak pantas buat Rama apalagi kakakku. Aku gak memberi restu untuk kalian berdua." Aku segera mengambil tas di sofa dan membuka pintu. Aku meninggalkan Kak Nada yang menangis tanpa suara di apartemennya.

*** 

Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang