Aku pulang ke rumah karena Mama yang meminta aku pulang. Katanya aku sudah lama tidak pulang. Memang iya. Sudah sebulan sejak Rama memaksa putus denganku. Aku mengalihkan perhatian dari masalah itu dengan bekerja dari matahari belum terbit hingga matahari sudah terbenam. Mia sampai kewalahan mengurusi jadwal karena aku hampir selalu mengambil tawaran pekerjaan yang diberikan. Syuting TVC, pemotretan, syuting FTV, smua aku lakukan demi mengalihkan perhatian dari rasa sakit hatiku.
Rama tidak pernah lagi menghubungiku dan membalas apa pun yang kukirimkan padanya. Usahaku berhenti di pekan kedua. Aku ingin berusaha tapi sepertinya aku lebih senang melarikan diri.
"Aku sampai! Ma, Pa?" Aku berteriak di rumah orang tuaku yang terasa sepi. Biasanya ada setidaknya satu orang asisten rumah tangga yang menyambutku.
"Baru sampai?"
Aku terkejut karena yang menyapaku adalah kakakku sendiri. Dia terlihat bahagia karena saat ini dia tersenyum. Sesuatu yang jarang terjadi.
"Iya. Mama Papa mana?"
"Di belakang. Tadi kami lagi ngobrol tapi aku pamit ke dapur sebentar buat ambil minum," Kak Miller mengangkat gelas berisi jus dan teko berisi infused water.
"Aku pikir Mama cuma minta aku yang pulang," kataku heran lalu mengikuti kakakku ke belakang.
"Memang. Tapi kan gak perlu alasan untuk pulang dan ketemu orang tua sendiri?"
Mendadak aku memegang lengan kakakku dan membuatnya berhenti. "Kak Miller lagi seneng ya? Gara-gara apa?"
"Aku selalu seperti ini," Kak Miller kembali tersenyum dan berjalan lebih cepat menuju halaman belakang. Aku kembali mengikuti dia dan menyapa orang tuaku.
"Kak Miller lagi aneh," kataku setelah duduk di samping ayahku dan mengambil buah dari piring.
"Dia lagi bahagia, Melodi," kata Mama, melirik Kak Miller dan tersenyum lebar.
"Karena?" Aku mengernyit, bergantian memandang kakakku, ibuku, dan ayahku.
"Kamu belum beritahu adikmu?" Mama memandang Kak Miller dengan tidak percaya. Kakakku sendiri hanya menggeleng sembari meminum jus.
"Tentang apa sih? Kenapa cuma aku yang belum tahu?" Suasana hati yang kurang baik dan situasi serba rahasia ini lama-lama membuatku kesal.
"Miller sudah punya pacar. Dia bahkan berencana untuk segera melamar pacarnya. Iya kan?" Mama benar-benar terlihat sumringah saat mengatakan ini.
"APA?! SIAPA?" Hampir aku terlonjak di kursiku. Hal sepenting ini aku tidak tahu? Kakakku memang tega.
"Memangnya berapa perempuan yang kamu kenalkan ke aku?" tanya Kak Miller kalem.
"KAK NADA?" Kembali aku berteriak dan menutup mulutku.
"Melodi, pelankan suara kamu," Akhirnya ayahku angkat bicara.
"I'm so happy!" Aku bangkit dari kursi dan menghampiri kakakku untuk memeluknya. Kami berpelukan erat dan Kak Miller membisikkan ucapan terima kasih di telingaku.
"Lalu Kak Nada di mana? Kenapa dia gak diajak kemari?"
"Dia sedang pulang ke Palembang, bertemu orang tuanya," jawab Kak Miller. Sungguh rupanya cita-citaku tercapai. Sekarang wajah Kak Miller lebih berseri-seri meskipun dia masih tidak banyak bicara.
"Aku harus mengucapkan selamat ke Kak Nada," Aku menghampiri tas yang tersimpan di kursi dan mengeluarkan ponsel. Tanpa perlu sibuk mengetik ucapan selamat, aku memilih untuk meneleponnya.
"Halo?"
"Kak Nada!" Suaraku benar-benar ceria. berbanding terbalik dengan suasana hatiku begitu memasuki rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)
Romance21+! CERITA DEWASA! Ketika Rama mencintai Nada dan Melodi di saat yang bersamaan. Ketika Nada tahu bahwa pria yang dia cintai adalah milik wanita lain. Ketika Melodi tidak tahu bahwa kekasih tercintanya sering menjalani malam yang panas bersama wa...
