Sebelas - Nada

40.2K 1.7K 116
                                        

Aku tahu tidak seharusnya aku menampilkan wajah seperti ini. Wajah yang membuat orang enggan untuk mendekatiku. Mengajakku bicara pun tidak mau. Bahkan anak kecil saja berpikir berulang kali untuk menghampiriku. Padahal biasanya aku tidak punya masalah sama sekali saat berkomunikasi dengan anak-anak kecil.

Semua ini bermula dari telepon orang tuaku. Tepat seminggu yang lalu.

"Anaknya Tia mau menikah," ujar Mama di telepon.

Aku yang saat itu sedang lembur di kantor, menanggapinya dengan tidak terlalu bersemangat. "Teruuuus?"

"Mama sama Papa gak bisa datang," lanjut Mama.

"Kenapa?"

"Papa kamu lagi kumat darah tingginya. Gak bisa jauh-jauh dulu," Mama menjelaskan. Aku sebenarnya sudah tahu kalau kondisi kesehatan ayahku sedang kurang baik. Memang tidak sampai masuk rumah sakit.

"Terus Mama mau aku datang ke nikahan anaknya Tante Tia?"

"Iya. Acaranya di Jakarta. Kan kamu bisa lebih deket buat datang,"

"Kenapa gak Kak Karina aja?" Masih saja aku ngeles supaya tidak datang ke acara pernikahan anak dari adik mamaku ini. Siapa ya nama anak Tante Tia yang belum menikah? Aku lupa-lupa ingat karena Tante Tia punya tujuh anak! Aku juga tidak terlalu sering berinteraksi dengan sepupu-sepupuku. Meski kami sama-sama tinggal di Jakarta.

"Mama udah minta Karina. Tapi katanya dia dan Quinsha mau ikut acara kantor Donny ke Bali,"Mama menyebutkan nama kakak, kakak ipar, dan keponakanku.

"Ah Kak Karina memilih liburan di waktu yang tidak tepat," kataku tanpa berusaha menutupi keberatanku.

"Hush. Gimana bisa kita atur-atur acara kantor orang," Mama menegurku.

"Memangnya kapan?"

"Hari Minggu, pekan depan. Di Menara Mandiri ya. Kamu datang dari acara akadnya." Aku manggut-manggut saja dan segera mencatatnya di buku agendaku.

"Emangnya ini anaknya Tante Tia yang mana sih?"

"Si adek,"

"HAH TANTIO?" Aku menyebutkan anak Tante Tia yang lebih sering dipanggil adek karena paling kecil. Nama aslinya Tantio dan bisa jadi anak yang paling dibanggakan Tante Tia—makanya aku ingat.

'Tantio ikut kelas akselerasi di SMP dan SMA.'

'Tantio dapet ranking di kelasnya.'

'Tantio masuk UI lewat jalur PMDK.'

'Tantio lulus kuliah 3,5 tahun lho'

Dan informasi-informasi lainnya.

"Tio kan baru lulus tahun kemarin? Masih 21 tahun bukannya dia?" Aku berseru tidak percaya.

"Yah," Mama menghela nafas. "Begitulah."

Demikianlah kisah di balik kedatangan aku ke acara pernikahan sepupu aku yang masih sangat muda ini. Alih-alih mingle dengan para bibi, paman, dan sepupu sebagai perwakilan dari kedua orang tuaku, aku malah duduk di salah satu kursi. Menunggu acara resepsi dimulai rasanya sejuta tahun lamanya.

Salah satu aktivitas yang kulakukan untuk mengulur waktu adalah menelepon pria yang bisa kusebut sebagai kekasih. Walaupun tidak bisa kupamerkan kepada publik. Apalagi dibawa ke acara keluarga sebesar ini.

"Gimana?" tanya Rama begitu teleponku diangkat. Seperti biasa, bukan halo yang dia ucapkan. Dia sudah tahu bahwa aku diutus orang tuaku untuk mendatangi pernikahan sepupu. Dia juga sudah tahu betapa enggannya aku hadir. Rama memang menawarkan diri menemaniku. Sayangnya aku tolak.

Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang