Delapan - Melodi

43.6K 1.4K 27
                                        

Flashback.

Saat aku hampir menyerah karena Rama tidak kunjung menganggapku lebih dari sekedar teman, saat itu pula semuanya berubah. Aku masih berada di lokasi syuting hingga larut malam. Kondisiku sudah begitu lelah namun aku tetap berusaha terlihat bahagia. Hanya ada Mia yang menemaniku karena para artis lain juga sudah sama lelahnya. Beberapa hanya bermain HP atau tertidur sembari menunggu giliran mereka.

Aku sendiri tidak berminat mengecek ponsel karena yang aku inginkan hanya menghubungi Rama. Rama yang sudah beberapa kali pergi keluar denganku namun sikapnya masih sama saja. Terakhir kali kami berkencan, seorang wartawan memergoki kami dan hari berikutnya foto blur aku dan Rama muncul di media sosial. Rama bilang dia tidak suka dengan kejadian itu. Hal yang berikutnya aku tahu, dia tidak lagi sering merespon perhatianku.

Jadi lebih baik kubiarkan ponsel itu di tangan Mia daripada aku terpaksa memohon-mohon agar Rama mau meresponku kembali.

"Masih satu scene lagi ya," aku menggumam dan menatap Mia dengan sedih.

"Sabar ya, Mel," Mia meremas pundakku, menguatkan.

"Mau tidur," aku menguap dan menunduk.

"Sabar, sabar, sebentar," kata Mia lagi.

"Kalau minum kopi jam segini, bisa-bisa malah gak tidur sampai subuh ya," seseorang menimpali.

Aku kaget dan menoleh cepat. Aku semakin kaget saat melihat orang yang mengucapkan kalimat tadi. Dia berkata dengan wajah cuek dan mata yang melirik ke kanan dan ke kiri.

"Rama!" seruku girang.

"Jadi ganti kopi pake jus dan kacang aja ya," Rama mengulurkan kantung keresek ke arahku. Kuterima dengan sukacita. Kantung itu berisi berbagai cemilan dan minuman.

"Aaaaa, makasih!" Tanpa pikir panjang, aku memeluk Rama. "Eh maaf."

Rama tidak mendorongku menjauh. Aku yang mundur karena malu atas tindakanku yang spontan. Dia malah tersenyum melihatku memeluknya.

"Aku yang minta maaf karena mendadak seperti menghilang," kata Rama.

"Dan ternyata kamu gak bisa jauh dari aku?" Aku mengedipkan mata berkali-kali. Membuat Rama tertawa.

"Entah," Rama mengangkat bahunya. Dia mengubah posisinya dari berdiri di belakangku, jadi berdiri di sampingku. Mia langsung berinisiatif memberikan kursinya untuk Rama, sementara dia sendiri mencari kursi yang lain.

Aku cemberut saat Rama menanggapi dengan dingin seperti itu. Sudahlah, sepertinya aku akan mengubur saja perasaanku padanya. Karena selama ini Rama tidak terlihat seperti membalas perasaanku.

"Memangnya kamu kemana saja selama ini?" tanyaku dengan nada sedikit menuntut.

Rama yang tadinya menatap tempat syuting, sekarang menghadapku. Dia menggeleng pelan dan duduk bersandar. Dengan santainya dia malah mengambil kacang dari kantung keresek.

"Mau?" tawarnya, mengulurkan kantung berisi kacang.

"Nggak, makasih. Aku maunya kamu jawab pertanyaanku," kataku dengan ketus. Tidak bisa kupungkiri rupanya aku kesal juga karena tidak bertemu dengannya beberapa lama. Hey Rama, aku kangen! Kamu tahu tidak?

Menanggapi sikapku yang ketus, Rama malah dengan cueknya menikmati kacang. Dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah asyik ngemil. Dia juga tidak melepaskan tatapannya dari orang-orang yang melakukan syuting.

"Kalau kamu ke sini cuma buat makan kacang yang kamu beli sendiri, mending kamu pulang deh." Lagi-lagi aku berkata ketus. Dasar orang aneh. Tidak tahu apa aku kangen? Setelah bicara begitu, aku bangkit berdiri. Bagianku belum dimulai tapi rasanya aku tidak bisa duduk begitu saja dengan seseorang yang cuek seperti ini.

Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang