Tujuh - Nada

53.6K 1.9K 103
                                        

Aku menatap ragu-ragu gedung megah di hadapanku ini. Sungguh rasanya berat untuk melangkah masuk dan bersikap seperti tidak ada apa-apa. Entah apa yang kumimpikan tadi malam sampai aku terpaksa mendapatkan tugas yang tidak bisa kubilang membahagiakan ini.

"Kita mau masuk kapan, Mbak?"

Aku menoleh ke arah orang yang barusan bertanya padaku. Nia menatapku dengan tatapan bingung. Mungkin karena aku mendadak terdiam seperti patung di lobi megah ini. Semoga saja dia hanya menganggapku katro melihat lobi yang mewah dan luas ini.

"Masih keberatan ya?" tanya Nia lagi.

"Ha ha ha." Ternyata dugaanku meleset. Nia menyadari ekspresiku rupanya. "Aneh aja sih, Ni."

Nia tersenyum menanggapi kalimatku. Dia memegang tasnya dengan sedikit tidak enak hati. Melihatnya begitu, malah aku yang jadi tidak enak.

"Maaf ya, Mbak," ujar Nia. "Karena Mas Jamil lagi cuti."

"Gue akan minta kompensasi besar ke bos lo begitu dia selesai cuti kawin." Pura-pura aku marah, sampai menghembuskan nafas dari hidung ala naga. Sebenarnya aku tidak keberatan menggantikan pekerjaan temanku yang sedang cuti menikah ini. Hanya saja aku keberatan ketika tahu kemana aku ditugaskan. Seharusnya aku tanya dulu apa tugas Jamil yang tertunda, sebelum sok pahlawan bersedia menggantikannya.

Jamil adalah Senior Auditor yang kliennya perusahaan di bidang media. Termasuk diantaranya TV, radio, penerbitan. Salah satu klien yang perlu dilakukan audit terhadap perusahaannya adalah TV yang sekarang aku datangi kantornya.

MBTV. Damn.

"Minta oleh-oleh yang banyak aja, Mbak. Kami sih udah minta segala macam, dari mulai snowglobe sampai coklat," Nia mengangguk bersemangat.

"Gue mau minta coat Burberry asli. Mumpung dia honeymoon ke Europe," tekadku. Padahal sekarang ini aku hanya sedang menutupi kegugupan dan menenangkan pikiran.

"Bagus, Mbak. Manfaatkan saja," Nia tertawa. "Ngomong-ngomong, kita diminta ke lantai 10. Langsung ketemu tim Internal Audit."

Deg. Jantungku makin berdebar tidak karuan. Sial sial sial. Apa aku harus pura-pura sakit perut dan membiarkan Nia yang bertemu tim Internal Audit sendirian? Tidak mungkin. Jika begitu, Pak Anwar tidak mungkin repot-repot meminta Senior Auditor lain untuk menggantikan Jamil.

"Ya udah, ayo," Kukumpulkan segenap keberanianku untuk melangkah menuju lift. KTP kami sudah ditukarkan dengan kartu akses yang hanya bisa membuka akses ke lantai tertentu. Sesuai dengan tujuan kedatangan kami. Kuulurkan tanganku menuju panel sensor. Salah satu lift membuka, bersiap mengantarkan kami ke lantai 10.

Semakin atas, jantungku berdebar semakin tidak karuan. Tanganku mulai berkeringat. Kugenggam tasku erat-erat. Kutarik nafasku dalam-dalam. Seperti saat aku ikut dalam sesi yoga. Kulirik wajahku di cermin. Tidak bisa disembunyikan bahwa aku sebenarnya gugup.

Lift berdenting dan terbuka di lantai 10. Jika tadi aku yang membimbing Nia untuk menaiki lift, sekarang Nia yang membimbing aku menuju MBTV. Dia mengatakan maksud kedatangannya pada resepsionis yang berjaga. Resepsionis itu menelepon sebentar ke dalam dan kemudian meminta aku dan Nia mengikutinya.

"Mau minum apa?" tanyanya dengan ramah ketika kami sudah duduk di salah satu ruang rapat.

"Air putih aja," jawabku tidak kalah ramah. Diikuti anggukan Nia di sebelahku.

"Tunggu sebentar ya," ujar resepsionis itu kemudian pergi dan meninggalkan aku berdua Nia.

"Sebentar lagi Mas Erwin kemari, Mbak," Nia memberikan pengumuman. Aku hanya menanggapi dengan anggukan saja.

Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang