Three years ago.
"Kita harus banget meeting sepagi ini?" Aku menguap lebar dan merasa tidak perlu menutupi mulutku sama sekali.
"Gila lo. Kalau lo diliat klien dalam kondisi kayak gini, bisa batal kontrak ratusan juta rupiah ini," Mia menggeleng melihat kelakukan artisnya ini. Aku sendiri hanya tertawa.
"Ngantuk banget, Miiii," aku merengek. "Tadi malem kan baru selesai syuting jam 1. Sekarang jam 6 udah otw lagi."
"Mau gimana lagi dong, Mel," Mia mengangkat bahunya. "Selama dua minggu, dimulai dari minggu depan, lo bakal jadi Host Built In produk kebanggaan lo ini."
Aku tertawa saat Mia mencibir produk yang menjadikan aku Brand Ambassadornya. Shampoo kecantikan yang sudah terkenal namun kelakukan klien ini super duper menyebalkan. Memang sih mereka mengontrakku dengan nominal yang tidak sedikit, tapi itu menjadikan mereka agak semena-mena juga. Itu yang membuat Mia kesal. Sementara aku berusaha untuk tetap santai walaupun kadang gondok setengah mati.
"Nah, Produser acaranya mau lo dateng pagi-pagi juga supaya lo bisa lihat gimana kira-kira kalau lo syuting nanti. Gak bisa kalau siang karena program yang ditebengin si shampoo ini tayangnya jam 6 dan kelar jam 7."
"Thanks lho, Mi," aku kembali menguap. "Bangunin kalau udah mau nyampe ya."
Aku dan Mia sampai di kantor MBTV pukul setengah 7 pagi. Setelah turun dari mobil dan mobil dibawa supir ke basement, aku dan Mia bergegas ke studio MBTV di lantai 11. Di sana, kami bertemu dengan Produser acara pagi MBTV dan juga AE produk shampoo. Tanpa menunggu lama, aku langsung dijelaskan mengenai program ini, apa yang harus aku lakukan, apa yang akan aku katakan, di mana aku harus berdiri, dan segala macam tetek bengek lainnya. Aku juga dikenalkan dengan Host asli acara ini supaya kami bisa berkomunikasi dengan baik saat aku syuting selama dua minggu nanti.
Setelah masa pengenalan dan briefing ini selesai, aku langsung mengajak Mia untuk mencari kopi.
"Mau apa?" tawar Mia saat kami sampai di toko kopi di lantai dasar gedung MBTV.
"Americano Hot. Butuh kopi asli dan tulen supaya melek. Mana nanti siang syuting TVC lagi." Aku menekuk bibirku ke bawah lalu duduk di salah satu kursi sementara Mia memesankan kopi untukku. Sembari menunggu, aku bermain ponsel, mengecek kabar terkini atau apa saja yang disampaikan oleh para penggemarku pagi ini.
"Kalau dipanggil, tolong ambilin ya. Gue baru ingat harus nelepon orang PH buat syuting hari ini," Mia menaruh dompet di meja dan langsung meninggalkan aku untuk menelepon. Dia mencari spot yang sepi pasti agar bisa fokus. Kalau hanya sekedar diskusi biasa, Mia sering melakukannya di depanku.
"Oke, Miaaa," kuangkat kedua jempolku untuk si manager lalu kembali berkutat dengan si ponsel pintar. Beberapa komentar di Instagramku pagi ini membuatku tertawa.
"Atas nama Melodi!" seru si barista.
"Iya!" Aku membalas. Kusimpan ponsel di saku celana lalu segera menghampiri konter. Sebuah gelas kertas dengan nama Melodi tertulis di salah satu gelas. Aku membuka tutupnya untuk menghirup wangi kopi yang segar pagi ini.
Begitu gelas kopi sudah kupegang, aku berbalik untuk kembali ke mejaku. Aku tidak sadar bahwa ada orang yang akan lewat di belakangku. Gelas berisi kopi yang tutupnya aku buka itu tumpah begitu aku menabrak orang tersebut. Isinya yang berwarna coklat mengotori kemejanya yang berwarna biru cerah.
"Aduh!" Dia berseru kesakitan.
"Ya ampun maaf!" Aku berteriak kaget. Pasti dia sangat kesakitan karena kopi ini masih begitu panas. Dia menarik kemejanya agar tak menempel di tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)
Romance21+! CERITA DEWASA! Ketika Rama mencintai Nada dan Melodi di saat yang bersamaan. Ketika Nada tahu bahwa pria yang dia cintai adalah milik wanita lain. Ketika Melodi tidak tahu bahwa kekasih tercintanya sering menjalani malam yang panas bersama wa...
