Sepuluh - Melodi

41.3K 1.6K 164
                                        

Sudah lama aku tidak pulang ke rumah. Sejak aku memutuskan untuk fokus berkarier sebagai artis begitu lulus kuliah, aku memilih tinggal sendirian. Awalnya aku hanya menyewa sebuah kamar kos karena pendapatan yang aku punya belum memadai. Maklumlah aku masih pendatang baru di dunia entertainment. Seiring berjalannya waktu, banyaknya tawaran film dan iklan, syukurlah pemasukanku melonjak naik. Aku menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung dan sebagian lainnya untuk memberikan kehidupan yang baik untukku sendiri. Tidak mungkin untuk hidup sangat sederhana karena banyaknya tuntutan untuk tampil baik sebagai seorang figur publik. Membeli mobil, membeli rumah, dan menyewa apartemen. Rumah yang aku beli ada di daerah Depok. Sesekali aku kunjungi jika aku sedang ingin beristirahat. Lebih banyak waktuku dihabiskan di apartemen yang berada di pusat kota Jakarta.

Membantu perekonomian keluarga jelas tidak masuk dalam budget pengeluaran yang aku punya setiap bulan. Toh orang tuaku sudah memiliki hidup yang jauh lebih memadai daripada kehidupanku. Itu pula yang menyebabkan Papa tidak setuju ketika aku memutuskan menjadi artis dan tidak bekerja di perusahaannya. Membuat Kak Miller yang harus menanggung 'beban' tersebut dan aku bisa leluasa keluar dari rumah.

Hari ini berbeda. Mama berulang tahun sehingga aku dan Kak Miller harus berada di rumah. Meski hidupnya berkecukupan, Mama tetap seorang anak 'rumahan'. Senang hidup sederhana dan berkumpul bersama orang-orang yang dia sayang. Maka dari itu Nyonya Moori sangat sedih ketika kami, kedua anaknya memilih tinggal di rumah yang berbeda. Berbanding terbalik dengan Papa, Tuan Marco lebih banyak bergaul di luar dengan rekan bisnis dari dalam dan luar negeri. Jarang di rumah dan menganggap kedua anaknya tinggal di tempat masing-masing sebagai wujud kemandirian. Untunglah kedua orang ini saling jatuh cinta sehingga tidak heran melihat rumah tangga mereka awet hingga puluhan tahun tanpa masalah berarti, apalagi orang ketiga.

"Ditekuk terus wajahnya, jelek lho," godaku pada kakakku.

Kak Miller tidak berkomentar, hanya menepiskan jari berkuku panjangku dari pipinya. Dibanding dengan aku yang banyak bicara, memang Kak Miller lebih pendiam. Sifatnya yang pendiam ini mendadak bisa hilang ketika dia berhadapan dengan para klien ataupun rekan kerja. Tidak heran Papa sangat bangga ketika Kak Miller setuju untuk bekerja di perusahaannya. Aku rasa sebentar lagi juga Papa memilih pensiun dini agar Kak Miller yang bisa lebih fokus memegang perusahaan. Ah, tapi belum tentu juga. Selama Kak Miller belum menikah lagi.

"Aku mau kenalkan seseorang sama kakak. Mau?" Aku memajukan tubuhku ke arah kakakku yang sedari tadi berkutat dengan iPad-nya. Ketika kulirik layarnya, muncul banyak grafik berbagai warna yang bergerak-gerak. "Ini lagi waktunya keluarga kali. Kerja mulu."

Kurampas iPad itu dari pegangannya, kukunci, dan kumasukkan ke dalam tas. Setelah iPad aman di dalam tas, kupeluk erat-erat tas Chanelku ini supaya Kak Miller tidak bisa mengambil kembali benda miliknya. Dia menghela nafas dan melambaikan tangannya.

"Papa sama Mama juga belum muncul," Miller menghembuskan nafas lalu mengecek arlojinya.

"I know. Mereka kan breakfast di luar," tambahku. Ini pasti pilihan Papa. Karena Mama sebenarnya memilih ada di rumah dan menunggu anak-anaknya tiba.

"Seharusnya mereka sudah kembali," jawab Miller tidak sabar. Dia kemudian berdiri dan menuju halaman belakang. Aku mengikuti kakakku ini.

"Sejak kapan Kak Miller merokok?" Mataku hampir melotot ketika kulihat sekarang Kak Miller sedang menyalakan sebuah rokok dan tidak lama kemudian menghisapnya.

Kak Miller menatapku dengan tatapan datar, tapi alisnya terangkat sebelah.

"Udah dari SMA," jawabnya santai.

Sumpah aku tidak pernah melihatnya merokok. Aku bahkan mengira Kak Miller tidak pernah merokok. Ternyata sudah sejak SMA? Ya ampun itu artinya sudah sekitar 13 tahun kakakku merokok.

Undeniable Heart - END (GOOGLE PLAY)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang