***
Terkadang bukan ketidakcocokan yang memisahkan
Melainkan hanya sebuah perbedaan paham
***
"Saya di depan gerbang. Tenang, yang ada diluar rumah jam segini cuman saya doang kok Pak, jadi bapak---Nah itu bapak kan ? Saya yang lagi dadah-dadah itu Pak !"
Sebenarnya, tanpa diberitahu si Bapak akan tahu kalau yang melambaikan tangan itu penumpang nya. Karen heboh sendiri, sampai si tukang ojek geleng-geleng kepala. Karen mengikuti saran Zulfa, untuk pergi dengan Ojek online.
"Dengan mbk Karenina, benar ?" tanya si tukang ojek.
"Iya benar Pak. Jangan pake mbk deh Pak, berasa tua. Padahal kan aku masih unyu-imut gimana gitu."
Ini lah Karen dengan tingkat ke-padean setinggi langit. Tukang ojek itu hanya tersenyum menanggapi sambil menyerahkan helm pada Karen.
Dalam perjalanan Karen hanya diam. Ia sudah diwanti-wanti oleh mama nya agar tidak berulah. Gina--mama Karen, sudah sangat hafal dengan sifat anak nya itu. Tidak bisa diam dan jahil. Gina berhasil membuat Karen berjanji bahwa ia tidak akan berbuat macam-macam sampai pulang kembali.
Setelah sampai Karen turun dan menyerahkan helmnya. Untung ia sudah mengisi saldo go-pay, jadi tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang.
"Pokok nya gue mau nyetok susu coklat yang banyak, guru-guru jaman sekarang kan suka banget ngasih PR tiap abis belajar." oceh Karen sendiri saat melihat daftar belanjaan yang harus ia beli.
Karen berkeliling super market seorang diri. Bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan nya, seperti orang gila. Ia menatap sekitar, dan langsung cemberut, ketika melihat banyak pasangan menghabiskan malam sabtu-nya dengan makan malam romantis.
"Ezra sih pake acara kumpul-kumpul segala, kan gue iri jadi nya kalo liat mereka." gerutu nya. Belum lagi ketika dia melihat antrian yang panjang di kasir, bertambah lah tingkat ke-bete-an Karen.
Setelah mengantri cukup lama, akhirnya ia mendapat giliran juga. Ia melirik ke arah food count yang masih berada didalam mall. Ia lalu memasuki salah satu stand favorite-nya, setelah menitipkan barang belanjaan di tempat penitipan.
Karen langsung menyambar pesanan nya ketika datang. Hot chocolate, pesanan andalan Karen di tempat ini.
Ia sangat menikmati, bahkan mata Karen sampai terpejam ketika ia meresapi rasa cokelat itu, layak nya orang yang tidak pernah makan. Padahal, hampir setiap ke tempat ini Karen selalu memesan ini
Kenikmatan itu terusik manakala Karen mendengar bunyi kursi dihadapannya yang ditarik ke belakang. Dihadapannya, seseorang yang tak pernah Karen inginkan melihat wajah nya. Orang yang amat-sangat Karenina benci.
Karen mematung, sedangkan orang dihadapannya malah memberi nya senyum manis. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"Well, ternyata Karenina masih sama seperti dulu. Identik sama cokelat," ada jeda saat seseorang itu bicara. "Tapi... Apa perasaan lo ke gue masih sama ?"
***
"Syifa !!!!!" teriak Karen dari radius seratus meter, membuat murid SMA HARAPAN memandang nya. Sadar akan hal itu, ia nyengir ketika menatap satu per satu orang yang juga menatap nya.
Dan dari kejauhan Syifa malah melengos, berbeda dengan Karen yang nyengir ia malah tidak mengakui Karen.
"Itu bukan temen gue. Dia juga bukan manggil gue." Syifa langsung berlari. Terjadi lah aksi kejar-kejaran antara Karen dan Syifa.
KAMU SEDANG MEMBACA
BETWEEN
أدب المراهقين"Ketika masa lalu membuka lembaran baru" Bagi Karenina, Kanaka itu hanya mantan yang sukanya merusak kebahagiaan yang kini mulai ia rasakan. Sedangkan menurut Kanaka, mengganggu sang mantan membawanya pada kesenangan. Kanaka yang sibuk mengurusi hub...
