17 • KARENA SEPUTUNG ROKOK

26 12 0
                                        

Awan kelabu selalu menghampiri
Ditengah-tengah kesenangan duniawi
Akan selalu datang masalah
Diantara berjuang atau pasrah

Kita ini manusia bodoh
Yang tidak luput dari salah kaprah
Bahkan terkadang sipintar hanya bisa menyaksikan atau malah angkat tangan tanda menyerah

Cobalah sebentar saja menjadi wanita
Kami hanya bisa diam saja saat disiksa tanpa iba
Dibutakan oleh cinta, lalu disakiti oleh rasa

Bukan lemah, hanya saja lelah
Berjuang tidaklah mudah
Apalagi saat dihadapkan pada pria
Walau tidak berbisa
Tapi dia berbahaya

***

Hidup ini bagai siklus yang selalu berjalan tanpa putus. Sekali kita berbuat salah, maka selamanya semua berjalan salah. Bukannya kesalahan itu tanpa sengaja ? Tapi mengapa semua orang menyalahkan seolah-olah kita adalah orang yang paling hina ?

Bohong rasanya kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Yang benar mendapat berkah dan yang salah mendapat karma. Tapi kenyataan sampai saat ini, ia belum kunjung juga mendapat berkah.

Pernahkah merasa seperti bahwa tuhan tidak adil ? Begitu juga yang dirasakan Sabrina. Baginya, untuk sekedar hidup didunia saja adalah hal yang terberat dalam fase hidupnya. Dunia dimana semua orang satu persatu mulai meninggalkannya, tidak dihargai apalagi dianggap, atau merasa berbeda ketika ada orang yang ingin mendekatinnya. Semua itu ia rasakan. Dunia ini kejam. Sekejam semua orang yang menganggap dirinya tidak ada.

Sabrina terseyum miris, meratapi hidupnya. Ia berjalan tanpa arah. Koridor sangat lenggang bahkan hampir tidak ada lagi orang yang sekedar duduk-duduk diluar, hanya beberapa orang yang dilihatnya sedang membuka sepatu, atau membuang sampah. Yang pasti, tindakannya ini akan mengundang kontroversi. Bagaimana tidak, seorang murid baru terlebih lagi ia perempuan, tidak pantas rasanya dihari pertama sekolah malah bolos keluar kelas.

Apa ia memikirkan konsekuensi nya ? Jawabannya tidak. Ini bukan pertama, kedua atau ketiga kalinya ia lakukan. Hampir setiap hari disekolah.

"Murahan ? H'eh...." ia terkekeh diakhir katanya. Lalu menatap kearah serangam yang ia kenakan.

Sabrina mengangguk-anggukan kepalanya tidak jelas, seolah memgakui kalau dirinya memang murahan. Tapi siapa peduli ?

Dihatinya yang terdalam, ia sangat senang mendapat teman seperti Ezra dihari pertama sekolahnya. Dingin tapi menyenangkan. Tapi nyatanya itu tidak berlangsung lama. Ezra sama seperti yang lain. Meninggalkannya tanpa sebab atau yang lebih parahnya, ikut menyalahkan dirinya yang menjadi biang masalah.

Sabrina sudah tidak asing lagi menghadapi kehidupan yang seperti ini. Hidup dimana semua orang memandang hina dirinya dan perlahan bergerak menjauh. Tapi ada perasaan asing yang belum pernah ia rasakan. Perasaan nyaman. Nyaman kepada pacar orang, tidak salah kan ?

***

Niat Ditan untuk kekelas Karen terhenti ketika ia melihat ciri-ciri orang yang menjadi perbicaraan semua orang. Berseragam ketat dan berambut coklat terang. Tidak salah lagi, pasti itu orangnya.

Dari kejauhan ia melihat gumpalan asap. Ditan mengernyit, wanita itu tidak merokok kan ?

Nyatanya, itu benar. Ditan terkejut, tentu saja. Untuk ukuran siswa yang tergolong baik-baik, ini suatu keberanian yang luar biasa. Keluar kelas saat jam pelajaran dan merokok dilingkungan sekolah. Memang area ini cukup tertutup, menyempil, dan tidak terlihat dari halaman utama.

BETWEENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang