12 • BOLEHKAH EGOIS ?

35 16 0
                                        

***
Aku bukan orang baik
Bukan pula orang jahat
Orang bilang aku tak bijak
Tapi percayalah, aku bukan orang bejat
Karena jaman sekarang bahkan yang berakhlak
Bisa membuat orang lain sekarat

***

Malam ini ada yang berbeda dari penampilan Karen yang biasanya memakai piyama atau daster pemberian sang mama. Malam ini terdapat apron yang melekat ditubuhnya yang dilapisi baju kaosnya.

Baik Gina maupun Raffi tersenyum senang walaupun mereka tidak melihat apa yang dilakukan Karen. Anak itu menutup mata keduanya dengan kain. Tapi dari wanginya, sudah dipastikan Karen sedang memasak. Gina menahan tawanya mengingat Karen sangat payah dalam memasak.

"Tara......" Teriak Karen senang. "Makanan sudah siap Raja dan Ratu...." ucapnya seraya menundukan tubuh seolah hormat.

"Eh iya Karen lupa buka penutup matanya. Kayak mana Mama sama Papa mau liat hasil masakan Karen." Ia membuka kain tersebut dan melihat senyum dibibir kedua orang tuanya.

Gina menatap satu-persatu masakan yang Karen buat. "Yang ini pakai Laos kan Nin ? Bukan Jahe ?" tanya Gina curiga. Ia ingat saat Karen maalh menyampurkan Jahe bukannya Laos dimasakan yang ia ajari dulu. Katanya itu sama saja. Padahal kan sangat jauh berbeda.

"Ish, Mama mah curiga banget deh sama aku. Iyalah pake Laos Ma. Dan juga aku udah bedain mana Jahe sama Laos." ujarnya dengan mengembungkan pipi dan memanyunkan bibirnya. Membuat sang Papa gemas dan mencubit pipi itu. "PAPA !!" Teriak Karen kesal.

"Abisnya lucu." Balas Raffi.

"Tapi kan sakit tau. . ." Karen mengusap-usap pipinya.

Gina menggelengkan kepalanya. "Udah-udah kok malah marah, kan kamu yang ngajakin makan malam."

Karen menyengir. "Iya deng, lupa. Yaudah sekarang makan. Harus habis ya !!"

Karen mengambil alih piring dan mengisinya dengan nasi. Lalu memberikannya pada Mama dan Papanya.

Raffi memimpin do'a. "Ehh, nanti dulu makannya." ucap Karen menghentikan gerakan Mama dan Papa nya yang akan mengambil lauk.

"Kita foto dulu ya !! Kan gak pernah dan belum ada foto aku, Mama, sama Papa lagi Dinner." Raffi tertegun. Sebegitu lamanya kah ia tidak pulang dan berkumpul dengan keduanya ?

Karen mulai meletakan Tripodnya dimeja makan dan mengambil posisi duduk. Lalu berpose dengan senyum lebarnya.

Setelah puas berfoto, barulah Kareb mengizinkan untuk makan.

"Pokoknya aku mau Upload diInstagram. Em, caption nya apa ya Ma ?" tanya Karen dengan masih memainkan ponselnya.

"Captionnya : Taruh dulu handphone kamu, terus makan."

Karen langsung mendongak, lalu nyengir kearah Mamanya. Menaruh ponselnya lalu mulai menyantap makanan. Dalam hatinya yang terdalam, ia akan selalu mengingat malam ini sampai kapan pun. Malam dimana Mama dan Papa nya kembali duduk berdampingan di meja makan.

Kebahagiannya bertambah dengan menonton film ditemani cemilan yang beberapa dibuat sendiri oleh Mamanya. Dengan duduk ditengah-tengah antara Papa dan Mama, apalagi ditambah elusan dirambut, membuat Karen tersenyum sepanjang film berlangsung.

Tak lupa ia membagikan moment ini dan makan malam tadi melalui unggahan Instastory miliknya. Saking senangnya, Karen tidak memikirkan bahwa siapa saja bisa melihat unggahan itu.

Dan ia melupakan bahwa, Ditan juga bisa melihat foto ini bukan ? Ditan, keponakan istri kedua sang Papa.

***

BETWEENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang