***
Seringkali dalam mengambil keputusan memang seperti ini
Tidak berjuang, tanpa penjelasan
Tetapi langsung meninggalkan
***
Nothing happend. Ya, benar-benar tidak ada. Dari keduanya sama-sama diam tanpa kata. Baik Karen maupun Ezra tidak ada yang berinisiatif untuk menghubungi terlebih dahulu, apalagi untuk bertatap muka secara langsung.
Sangat bodoh. Mereka bertingkah layaknya ABG Labil yang masih dimabuk cinta buta. Yang berharap hubungan mereka akan baik-baik saja setelah terjadi badai.
Jujur, Karen sangat mengharapkan Ezra menghubunginya dahulu. Ia wanita, sudah takdirnya untuk dikejar, bukan mengejar. Serendah-rendahnya harga diri Wanita, bukan takdirnya untuk mengejar Pria.
Lagipula, yang salah itu Ezra, bukan dirinya. Tapi kenyataannya, ia sungguh kesal menunggu. Sedangkan Ezra, ia terlihat baik-baik saja pasca kejadian itu. Bahkan tadi Karen melihatnya latihan Futsal bersama tim-nya.
Tapi Karen senang karena nyatanya, banyak yang peduli terhadap dirinya. Karen terlalu lupa diri saat berpacaran, hingga melupakan bahwa disekelilingnya masih banyak hal yang lebih menyenangkan daripada berduaan dengan pacar.
"Karenina." Sebut Bu Misha, tapi Karen masih belum juga mengakhiri khayalannya. Sampai Jihan menyenggol lengan kiri Karen.
"Apaan sih lo Han ? Senggol-senggol gak jelas, gue tuh lagi berimajinasi tinggi. Kalau mau senggol-senggolan ikut dangdut akademi yang di Indosiar." ucap Karen asal tanpa melihat sekeliling yang sedang menatap horor kearahnya.
Ia menoleh kearah Zulfa yang sedang memeloyotinya. "Ngapa lo melotot-melotot gue ? Ntar keluar tuh matanya."
Zulfa tambah memelototi Karen. Sedangkan Karen bingung, dan mengikuti arah pandangan Zulfa.
"Ehh, Ibu......." Cengenges Karen. Ia menyubit kecil paha Jihan karena tatapan garang dari Bu Misha. "Aw.... Sakit Ren !!"
"Coba ulangi apa yang saja jelaskan tadi." Perintah Bu Misha yang masih menatapnya.
Karen menoleh ke Jihan dengan tatapan memohon bantuan. Tapi Jihan malah masih menggosok-gosok paha-nya yang tadi dicubit.
"Gak usah tengok kanan kiri. Tadi aja pas ngelamun gak nengok-nengok."
Karen menunduk. 'Aduh mati gue.'
"Dengan nunduk pun gak akan bisa menjawab pertanyaan saya. Angkat kepala kamu !!" Perintah dari Bu Misha kali ini diiringi sedikit bentakan hingga Karen terkejut. Guru mata pelajaran Sejarah yang satu ini memang tidak se-seram Bu Rika atau se-killer Bu Heni, dan materinya pun tidak sesulit pelajaran lain. Bahkan bisa dikatakan, Karen cukup diperhitungkan dalam pelajaran Bu Misha.
Tapi tau sendirikan kalau yang namanya Sejarah itu harus tau dari awalnya, baru lah tahu berbagai macam kejadian didalamnya. Sedangkan Karen sama sekali tidak tahu apa materi yang dibahas kali ini.
"AYO JAWAB !!"
Karen tambah menciut mendengar bentakan itu. Semua juga tidak ada yang berniat membantunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BETWEEN
Novela Juvenil"Ketika masa lalu membuka lembaran baru" Bagi Karenina, Kanaka itu hanya mantan yang sukanya merusak kebahagiaan yang kini mulai ia rasakan. Sedangkan menurut Kanaka, mengganggu sang mantan membawanya pada kesenangan. Kanaka yang sibuk mengurusi hub...
