***
Binatang-binatang bermetamorfosa, tumbuhan butuh waktu untuk berbunga, dan manusia perlahan berubah seiring bertambahnya usia
***
Tangis Karen kian membara mengingat peristiwa yang dialaminya dua tahun lalu. Peristiwa yang tidak akan pernah ia lupakan. Sedangkan Kanaka hanya diam mendengar tangisan pilu itu. Ia mengusap wajahnya gusar.
Ia berada diposisi serba salah sekarang. Ingin menenangkan, tapi ini salahnya. Jika tidak, ia merasa orang paling kejam. Semuanya, entahlah. Sangat sulit untuk dijelaskan.
"Lo selalu aja gini. Buat gue merasa jadi orang paling jahat. Gue bahkan gak tau apa masalah lo Ren !! Kejadian dua tahun lalu mungkin emang gak bisa lo maafin. Tapi gue punya alasan tersendiri ngelakuin hal itu." Ucapnya gusar.
"Tapi elo.... Lo gak pernah kasih gue penjelasan yang berarti. Gimana gue mau kasih tau alesan gue kalau lo nya aja bersikap kayak gini ?"
Karen terkekeh kecil mendengar perkataan Kanaka. "Buat apa gue ngejelasin suatu hal yang udah gak penting untuk dibahas ?"
"Buat lo. Tapi buat gue, itu penting."
Karen menoleh. "Kenapa ? Lo mau sakitin gue lagi dengan alesan lo, iya ?"
Kanaka tidak menyangka jawaban Karen malah demikian.
"Lo pernah denger pepatah yang bilang, kalau orang jahat selamanya akan terlihat buruk dimata orang hanya karena ia melakukan satu kesalahan fatal. Walau dia udah melakukan seribu kebaikan, gak akan merubah apapun. Sedangkan orang baik ? Dia akan selamanya dipandang baik. Walau udah ngelakuin seribu kejahatan."
"Awalnya gue gak percaya sama itu. Tapi nyatanya, itu benar. Gue alamin sendiri. Dunia ini gak adil buat orang kayak gue. Semua orang anggap gue ini buruk tanpa pernah tau apa aja kebaikan yang udah gue lakuin."
"Orang macem elo ngelakuin kebaikan ?" Karen terkekeh. "Ngaca Kanaka !! Udah berapa orang yang lo patahin hatinya."
Kanaka terkekeh, "Satu. Orang itu cuman lo."
Karen menoleh dan langsung tertawa meremehkan. "Gak salah tuh ? Hidup lo selama ini kemana aja ? Buta ya sampe gak liat banyak orang yang udah pernah nangis karna kelakuan lo ?"
"Seburuk itu gue dimata lo ?"
"Elo orang ter-brengsek yang pernah ada dihidup gue."
***
Karen pulang dalam keadaan yang kacau. Mata sembab, hidup merah dan penampilan yang acak-acakan. Ia izin pulang kepada guru piket karena sakit hatinya. Dia terpaksa berbohong dengan mengatakan demam.
Ia mendorong pintu kayu itu tanpa semangat. Biasanya ia sudah berteriak dari pagar kalau sudah pulang sekolah, tapi kali ini tidak. Dilihatnya rumah sepi, Mama-nya tidak ada. Ia mengeryit heran ketika sampai dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi. Masih terdengar bunyi khas dari mesin air rumahnya. Dan ditambah bunyi air dari bak yang sudah melebihi kapasitas.
Ia lantas mematikannya, Mama-nya memang kemana sih sampai lupa mematikan mesin air ? Dalam hatinya, ia merasa ada yang aneh.
Ia langsung menuju kekamar Gina. Siapa tahu saja, sang Mama tertidur karena kelelahan.
Tapi tidak ada, bahkan keadaan ruangan itu masih tebilang berantakan untuk ukuran Mamanya yang rajin itu.
"Mama !! Mama !!" Karen berteriak, ia sedang tidak ingin berprasangka buruk.
Tapi tidak ada yang menyahut memgingat ruangan itu kosong. Rumah ini kosong. Karen merogoh sakunya dan mengambil ponsel.
Karen menelpon tapi panggilan itu hanya sekedar menyambung tanpa diangkat. Jantungnya kian berdebar memikirkan hal yang tidak-tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
BETWEEN
Novela Juvenil"Ketika masa lalu membuka lembaran baru" Bagi Karenina, Kanaka itu hanya mantan yang sukanya merusak kebahagiaan yang kini mulai ia rasakan. Sedangkan menurut Kanaka, mengganggu sang mantan membawanya pada kesenangan. Kanaka yang sibuk mengurusi hub...
