18 • TETANGGA SYIFA

23 13 2
                                        

***
Selalu ada kata 'seenggaknya'
Disetiap ketidaksukaan. Contohnya : kalau gak cinta, seenggak anggap aku ada.

***

Kalau ditanya siapa wanita paling bodoh didunia, maka Syifa dengan cepat akan menjawab nama Karen, Sahabatnya. Baginya, tingkat kebodohon Karen itu distadium paling akhir. Bukan dalam hal pengetahuan, tetapi masalah percintaan.

Tanpa disadari, ia sudah masuk terlalu jauh dalam setiap masalah yang dialami Karen. Menyaksikan sendiri bagaimana hancurnya Karen saat mengetahui sifat asli Kanaka, bahagianya saat berkenalan dengan Ezra, sampai saat jadian pun ia tahu dengan jelas ceritanya. Termasuk tahu betul apa yang akan dilakukan Karen saat Ezra berbuat kesalahan. Selalu memaafkan walau bukan dia yang salah.

Bisa dibilang, Syifa itu ibarat cupid. Dia yang berperan penting dalam proses pendekatan hingga sekarang ini.

TOK TOK TOK

Ketukan itu menyadarkannya. Dan tanpa ia beranjakpun, kenop pintu bergerak dengan sendirinya. Ia sudah tahu siapa yang datang, kalau bukan orangtuanya, itu pasti tetangga yang hanya berjarak lima rumah dari rumahnya.

"Ngelamun aja lo. Kesamber ntar." Ucapnya santai dengan mengayunkan keripik singkong yang baru saja dibelinya dan mendarat tepat ditangkapan Syifa.

"Rese lo !! Gak bisa liat gue tenang dikit."

"Tenang dengan banyak pikiran diotak itu maksud lo ?"

Syifa terdiam. Benar juga sih, sepertinya ia yang salah ucap. Orang itu mendaratkan tubuhnya dikasur dalam posisi yang telungkup.

Ia sudah terbiasa dengan kelakuan orang satu ini. "Kenapa lo gak minta maaf sama dia ?"

"Dia cerita ke lo ?"

"Tanpa dia ceritapun gue bakal tau rasanya. Cewek itu peka tau."

"Oh ya ? Kalau lo peka, lo gak akan giniin gue."

"Zra, gue gak lagi bahas hal itu."

Ezra membalikkan tubuhnya menjadi berbaring. "Kenapa lo selalu menghindar setiap kali gue bahas hal ini sih ?"

"Karna lo itu cowok brengsek !!" Jerit Syifa tertahan. Ezra mempunyai image baik dirumahnya. Ia ramah kepada orangtua bahkan pembantu Syifa.

"Lo yang buat gue brengsek."

"Kenapa gue ? Apa karena gue gak---" ucapan Syifa terputus tatkala ia sadar bahwa dengan begini, akan memperumit keadaan.

"Oke, Stop it. Gue gak mau ungkit itu lagi. Terserah kalau lo mau anggep gue sebagai sebab kebrengsekan lo itu."

Ezra menggeram pelan sambil menutup matanya. Selalu seperti ini. Syifa akan selalu menutup pembicaraan dengan menyalahkan dirinya sendiri. Dan Ezra benci hal itu.

Decitan pintu terdengar ditengah keterdiaman keduanya. Itu Saras--Bunda Syifa.

"Eh, ada Ezra. Kok gak dikasih minum sih nak ?"

"Tau nih Bun, masa malah Ezra yang kasih dia makanan." ucap Ezra dengan sok polosnya.

"Syifa, gak boleh gitu ah. Bunda kan udah selalu ajarin kamu untuk baik sama tamu, siapapun itu. Walau dia cuman tetangga kita." Omel Saras.

"Udah sana, ambilin sekarang."

Syifa cemberut begitu mendengar perintah itu, sedangkan Ezra malah menjulurkan lidahnya dengan menahan tawa. Ish, ia kesal karena itu.

"Bundaaa !! Liat tuh Ezra-nya ngeledekin !!" Adu Syifa.

"Udah ah, ambilin dulu sana."

Bukannya membela, malah bundanya tetap kekeuh menyuruhnya. Syifa dengan malas beranjak dan menghentak-hentakan kakinya akibat kesal.

"Maklumin aja ya Zra kalau Syifa begitu. Dia kan dari kecil emang mainnya sama adik-adik dia. Jadi ya kelakuannya ya ngikutin mereka. Manja dan kekanak-kanakan."

Ezra mengangguk. "Iya Bun, tau kok."

Benar kata Saras, kelakuan Syifa itu seperti adik-adiknya. Ya mungkin karena jarak usia mereka yang tak jauh, hanya berbeda tiga atau empat tahun. Lagipula, Syifa lebih suka bermain dirumah daripada bersama anak-anak sepantarannya dikomplek. Ia akan kesal karena ada banyak anak perempuan yang ikut bermain, dan Syifa tidak akan bisa menjadi tuan putri atau ratu jika bermain raja-rajaan. Kalau bermain dengan kedua adiknya, ia pasti jadi tuan putri karena ia perempuan sendiri.

"Syifa gak lagi deket sama cowok kan Zra ?" tanya Saras.

Ezra seketika mendongak, tertarik dengan pembicaraan ini. Setelah dipikir, sepertinya tidak. Ia akan menjawab, tapi Syifa telah kembali dengan nampan berisi teh dan kue toples.

"Nih, gue kasih makanan. Ya enggaknya biar gue dicap tuan rumah yang baik sama tamu yang biadap macem lo !!" sodor Syifa.

"Syifa...." Saras geleng-geleng.

"Kayaknya gak ada deh Bun. Mana ada cowok yang mau deket-deket sama Singa Betina macem dia." balas Ezra menjawab pertanyaan Saras tadi.

Ezra mendapat hadiah lemparan bantal oleh Syifa. Ia pun mengaduh. "Tuh kan, liat Bun..."

"Udah ah, berantemnya kalian berdua mah gak ada abisnya." Saras berjalan keluar dan menjauh dari kamar Syifa.

"Turun lo dari kasur gue." perintah Syifa.

Ezra menggeleng tanda tidak sambio menyantap kue. Syifa memutar bola matanya dan terjun bebas kekasur kesayangannya itu.

"Besok pokoknya lo harus minta maaf sama Karen. Harus lo duluan, jangan dia."

Ezra menoleh tanpa minat. "Emang harus banget ya ?"

Syifa melotot. "Pake nanya lagi lo !! Ya iya lah. Kan lo yang salah bukan dia. Lagian ya buat apa coba lo deket-deket sama itu cewek ?!"

"Kenapa ? Lo cemburu ?"

Syifa lantas meninju pelan bahu Ezra. "Iya kan lo cemburu liat gue deket sama cewek lain ?"

"Najis lo !! Ngapain gue cemburu sama pacar orang lain."

"Jadi, gak papa nih gue deket sama cewek lain ? Kan lo gak cemburu."

"Tapi lo punya pacar Zra...." ucap Syifa melemah. "Walau lo gak cinta, seenggaknya lo hargain dia sebagai pacar lo."

"Omongan lo tadi harusnya ditujukan buat diri lo sendiri."

Syifa menoleh, "Maksud lo ?"

"Walau lo gak cinta sama gue, seenggaknya lo hargain perasaan gue yang udah berkali-kali lo tolak mentah-mentah. Bukan malah nyuruh gue deketin temen lo, hanya karena semata-mata mau menjaga ikatan pertemanan kalian."

"Terkadang lo harus sesekali menoleh kebelakang untuk melihat siapa saja orang yang dulu lo sakitin, walau hanya sekedar untuk tahu, apa dia masih setia nunggu kita  atau malah sudah berpaling ke yang lain."

Setelahnya, Ezra beranjak pergi tanpa pamit. Dan untuk pertama kalinya, Syifa merasa bersalah atas apa yang ia pernah lakukan.

***

WIDYA NP
21 FEBUARI 2019

BETWEENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang