29 • ISYARAT MENYAKITKAN

27 4 1
                                        

***
Gak usah berandai-andai jauh tinggi melayang. Gak bakal kesampaian. Cukup diem tunggu aksi qadha dan qadar.
***

Jika ditanya apa tujuan hidupnya kini, Karen akan berpikir seribu kali untuk menjawab. Ia kosong, hanya berjalan lurus tanpa tujuan.

Terkesan lebay memang untuk ukuran remaja SMA. Tapi tidak, Karen sengguhan. Ia yang tadinya akan langsung menjawab ingin hidup bahagia bersama Ezra akan menjadi angan-angan semata.

Ezra-nya, ralat Ezra mantannya, bukan lagi kekasih yang ia kenal. Ada dinding tak bersekat yang memisahkan. Terlalu transparan, hingga Karen tak melihatnya.

Entah apa status mereka kini, yang pasti, Karen sudah tidak ingin berhubungan dengan Ezra. Tak ada kata putus yang disetujui kedua belah pihak, bahkan Ezra tak kunjung menemuinya.

Sakit hati ? Tentu saja. Syifa yang ia anggap sebagai sahabatnya berhianat. Syifa yang dijadikan tempat curhat bahkan Syifa juga yang Karen perintahkan untuk mendekatkannya dengan Ezra.

Syifa tempat Karen mencari segala informasi Ezra. Karen bodoh. Bagaimana bisa ia tidak melihat binar itu dimata Ezra. Binar yang tak pernah Ezra tunjukan saat menatapnya. Berbeda ketika menatap Syifa.

Karen ingin egois. Untuk kali ini, ia tidak akan melepaskan Ezra begitu saja. Ia dikhianati. Kenapa tidak balas menyakiti ? Karen benar bukan, lagipula semua orang disekolah harus tahu bagaimana sifat Ezra yang sebenarnya. Ezra yang membanggakan, pintar dan lainnya. Karen ingin mereka tahu sisi gelap dari seorang yang dianggap 'sempurna'.

"Ren gawat Ren gawat !!" teriak Zulfa sambil terengah-engah. Karen sontak ikut panik.

"Ada apaan Zul ? ada yang berantem ? Atau--"

"Bukan Ren, hehehe......."

"Lah terus ?"

"Gue lupa kalo kita ada PR Ekonomi, lo tau kan gimana bego nya gue dipelajaran itu."

"Wtf, gue kira udah gawat beneran anjir." Karen mengelu dadanya.

"Eh apalagi gua ya, tuh uduk bu Sansan yang paling enak dikantin sekolahan aja gue tinggalin demi PR ekonomi dan lo bilang itu gak gawat ?! Yaampun Karen, sumpah ya ini tuh masalah paling urgent selama gue sekolah disi---" Wajah Zulfa langsung di tutup Karen menggunakan buku.

"Udah deh gausah banyak oceh lu. Lagian ya Zul, lo udah bilang 'ini masalah paling urgent selama gue sekolah' tuh berkali-kali. Dan selalu sama. Heran deh gue, kapan lu tobatnya."

Sambil menulis Zulfa memutar bola matanya. "Please deh ya Ren, kayak lo kagak aja. Kita tuh sama Ren, cuma beda nasib aja. Lo kan mending, begitu-begitu kagak jomblo. Lah gue ?"

Karen terkekeh mendengar celotehan Zulfa. Sahabatnya ini mungkin belum tahu segalanya. Yang ia tahu hanya tentang hari itu, hari dimana Ezra mengantarkan makanan untuk Syifa. Dan ya, mungkin ia ahnya menganggap itu hal yang biasa. Secara mereka kan tetanggaan.

"Lo tau kan Ren, ada artikel yang menyebutkan kalau orang jomblo lebih cepat meninggal. Ih sumpah ya, mau gue bacok tuh orang yang neliti. Ngapain juga coba dia neliti hal yang begitu dan dibuat artikel. Gak ngerasain keparnoan gue apa dia !! Ih sebel gue."

"Lagian kan, jomblo gak ngenes-ngenes amat. Cuma gak ada yang jadi pendamping aja. Sama kita apa-apa sendiri, mau apa-apa harus berusaha jujur dan iklas. Eh kok malah nyanyi sih gue."

Karen menoyor kepala Zulfa. "Makin lama, makin gila ya lo."

"Udah ah, tobat lu. Bentar lagi lulus. Udah tinggal nunggu hari."

Zulfa mendongak. "Elah, udah kayak lo udah tobat aja Ren. Heran deh gue, kenapa sih orang-orang akhir-akhir ini pada sengklek. Gak elo, gak Syifa. Gaada yang ngertiin gue."

Ugh, drama queen mode on. Batin Karen.

"Eh tapi Ren, lo tobat ya ? Kok ngomong nya sekarang udah bener ?" ucap Zulfa dengan polosnya.

"Sembarangan lo !!"

"Jangan tobat dong Ren. Gue jadi gaada temen. Tar dikira gila sendiri lagi. Secara, Syifa kan paling bener diantara kita. Gak ngebayang kalo lo beneran tobat, pas kita hunting gue kayak orang gila sendiri."

"Lagian kan ya kata lo, Ezra itu butuh sesuatu yang beda. Kayak elo contohnya. Kalo lo berubah lo bakal sama kayak yang lain. Elo gak beda Ren. Gimana lo mau jadi Ratu kalau malah berusaha menyamai pelayan ?"

Entah kesambet apa Zulfa pagi ini. Mungkin dia kesambet hantu uduk bu Sansan sampai membuatnya bicara bener. Karen terkekeh mengejek.

"Ezra itu gak butuh sesuatu yang beda Zul. Karna pilihan dia gak pernah berubah."

Dengan mode lambatnya, Zulfa hanya mengangguk-angguk saja sambil menulis. Lalu setelahnya baru sadar apa yang dikatakan Karen.

"Eh maksud nya paan tuh ? Lo gak usah ngomong pake kode atau isyarat gitu deh. Kek gak tau gue aja."

"Jaman sekarang pake istilah, heran deh gue."

"Pilihan dia dari dulu, gak pernah berubah. Tapi gue dateng dengan pede-nya mau ngerubah itu. Saat gue udah percaya kalo dia berubah, nyatanya itu cuma pura-pura biar gue bahagia." Kekeh Karen sendu. Ia menundukan kepala seolah menyembunyikan rasa sakitnya.

"Gue gak tau Zul, lo bakal dipihak siapa. Yang pasti gue seneng lo jadi sahabat gue. Kalau lo milih dia, gue gak apa. Itu hak lo. Gue tau Zul, lo tau masalah ini, tapi lo pura-pura gatau demi jaga perasaan gue."

"Cuma satu yang gue harap, lo gak bakal lupa sama gue."

Zulfa menghela nafas, "Ya pasti lah Ren."

"Dan jangan pernah tusuk gue dari belakang. Itu lebih menyakitkan daripada jambak-jambakan."

***


Tbc

First up in 2020. I'm so sorry. Ini cerita kagak kelar-kelar. Sama kek perjuangan aku dapetin kamu haahhaah.

Widya np
24 maret 2020


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 24, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BETWEENCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang