***
Bukan tentang berapa lama kita berteman. Karena waktu bukanlah kepastian. Tapi tentang siapa yang tidak menusuk dari belakang, saat aku berjuang sendirian
***
Dua hari setelah kejadian dimana Mamanya dirawat, mereka diperbolehkan pulang. Ada perasaan hangat mengingat ia akan menjadi seorang Kakak.
Ah iya, soal Raina. Adik tirinya itu sudah mendapat donor darah, walau sampai saat ini belum ada peningkatan yang signifikan. Tapi Karen bersyukur, setidaknya Gina tidak akan mendapat perlakuan tidak mengenakan itu lagi.
Dan selama masalah ini terjadi, Ezra tidak pernah menghubunginya. Terhitung sejak drama ke-gap nya Ezra bersama Sabrina beberapa waktu lalu. Karen tahu, pasti Ezra sudah tahu mengenai dirinya yang tidak sekolah selama dua hari terakhir, tapi sepertinya hubungan mereka benar-benar kacau sampai Ezra tidak mau menurunkan sedikit saja ego nya untuk menghubungi Karen terlebih dahulu.
Mulai sekarang Karen bertekad akan menjadi dirinya sendiri dan tidak akan bertindak ceroboh lagi, seperti mengejar-ejar Ezra. Ia tersadar karena ucapan Kanaka tempo hari. Yah, walaupun tampilan Kanaka yang terlihat buruk, ada satu sisi dalam dirinya yang membuatnya tersentuh.
Kanaka benar, ia tidak perlu merubah diri untuk menjadi dicintai. Ia yang terlalu bodoh sampai-sampai menghalalkan segala cara agar bisa mempertahankan hubungannya ini. Sedangkan Ezra ? Berjuang saja tidak.
Tapi lagi-lagi, hati kecilnya meronta agar tetap bersama Ezra. Dan karena itu pula, ia memutuskan untuk bicara baik-baik dengan Ezra saat disekolah besok.
Saat ini, ia izin keluar untuk kerumah Syifa. Lagipula siapa tau ia akan bertemu Ezra disana. Ugh, Karen menggelengkan kepalanya pelan. Masih saja ia memikirkan Ezra.
Dirumah juga ada Raffi yang menemani Mamanya. Jadi ia bisa sedikit tenang. Sebelumnya, ia sengaja tidak menghubungi Syifa. Ini kunjungan mendadak. Tadinya ia sudah kerumah Zulfa, tapi ia sedang menemani Ibunya belanja.
Tidak ada alasan khusus Karen untuk menemui sahabatnya itu, ia hanya ingin bercerita. Sudah kebiasaannya melakukan hal itu. Kalau tidak kepada mereka memangnya mau siapa lagi ?
"Enggak-enggak jangan gitu. Bibir lo dimonyongin lagi doang terus mata lo dijuling-in."
Samar-samar Karen mendengar suara Syifa. Ia pikir itu Syifa yang sedang bermain dengan adiknya. Ya, tidak seperti Kakak-adik lain yang kebanyakan bertengkar, Syifa dan adik-adiknya malah akur. Kadang Karen saja iri melihatnya.
"Udah dong buruan motoin-nya, pegel nih gue monyong-nya."
Langkah Karen mendadak berhenti ketika suara itu membalas ucapan Syifa. Itu bukan suara Adik Syifa, karena ia paham betul siapa pemilik suara itu. Lagipula, Syifa dan adik nya tidak berlogat lo-gue saat bicara.
Ada sedikit keraguan untuk Karen melanjutkan langkahnya. Ia takut. Takut kalau apa yang ada dipikirannya itu benar. Tapi tidak, Karen percaya seratus persen pada sahabatnya yang satu ini.
"Bwahahaha, sumpah ya muka lo kocak banget yang bagian ini !!" tawa Syifa kembali terdengar. "Eh, kok diambil sih ?!" pekiknya tertahan ketika ponsel yang menyimpan foto itu diambil paksa.
"Sini-in Zra !! Ih rese deh lo !!"
Deg !! Jantung Karen mendadak berdebar lebih cepat. Terlebih ketika ia kini berdiri tepat didepan pintu kamar Syifa.
Dua orang itu masih belum menyadari keberadaannya, mungkin terlalu asik dengan dunia mereka.
"Lagian ya kan gak bakal gue posting. Gue gak gila untuk----"
"Untuk rebut pacar sahabatnya sendiri ??"
Kedua orang itu menengok, dan terkejut melihat siapa yang berbicara. Syifa lantas bangkit, disusul Ezra. Sedangkan Karen, ia terkekeh miris.
"Ren ini gak yang kayak lo pikirin !" bantah Syifa.
"EMANG LO TAU APA YANG GUE PIKIRIN ?!" Pekik Karen, bahkan Syifa dan Ezra kaget mendengarnya.
"Ren, ak--" Baru saja Ezra angkat bicara, tapi Karen kembali memotongnya.
"Stop !! Gue gak mau denger apa-apa dari cowok bajingan macem elo !!"
"Ren, kita itu cuman--"
"Udahlah Fa. Apapun penjelasan yang akan lo kasih, gak akan pernah bisa ngehapus ingatan untuk apa yang baru aja gue liat. Lo gak sebaik yang gue kira." Suara Karen melemah diiringi pipi yang basah.
"Harusnya gue sadar, gak akan pernah ada hubungan pertemanan antara cewek sama cowok yang gak melibatkan perasaan." Lalu Karen tertawa miris. "Tapi ada cara yang lebih halus kan buat 'ngusir' gue ?"
"Ren, ini bukan salah Syifa. Ini semua salah aku...."
Ucap Ezra sambil menahan tangan Karen yang akan pergi.
"Kalo ini salah elo, 'dia' gak bakal mau ngikutin yang salah. Iya kan ?" Balasnya sambil melepaskan tangan Ezra. "Karna yang namanya selingkuh gak akan terjadi kalau gak disetujuin sama kedua pihak."
Hati Syifa teriris mendengar ucapan Karen barusan. Seperti ditikam tapi tidak berdarah. Perkataan Karen membuat dirinya merasa sahabat paling buruk didunia.
"Oh iya, gue salut sama lo Zra, dalam keadaan yang udah kayak gini aja, lo masih bisa belain dia." Ezra mendongak, sedangkan Karen matanya menatap lurus kearah Syifa. "Gak kayak gue yang selalu ngaku salah dan minta maaf padahal gue gak ngelakuin sedikitpun kesalahan. Dan lebih bodohnya lagi, gue lakuin setiap saat sama lo."
"Tolol banget kan gue ?"
"Ren, gue sama Ezra emang deket. Tapi dia gak jadiin gue selingkuhannya." Sanggah Syifa tak terima.
Karen menggelengkan kepala. "Apapun itu. Karena fakta yang gue liat gak kayak yang lo omongin."
"H'eh, mana ada sih orang yang selingkuh bicara terang-terangan didepan pacar sah nya ?"
Pertanyaan Karen seolah godam besar yang memukul keduanya. Sampai-sampai mereka terdiam. Bahkan Ezra yang tadinya menahan Karen tidak lagi melakukan hal yang sama ketika Karen sudah perlahan berjalan menjauh.
"Oh iya satu lagi. Tadinya gue kesini mau cerita sama lo Fa, kayak biasanya. Karena, seperti yang lo bilang, curhat itu bisa ngeringanin beban yang gak seharusnya kita tanggung sendirian."
Syifa ingat ia pernah mengatakan hal itu pada Karen.
"Tapi keputusan gue kesini salah besar. Bukannya ngeringanin beban, yang ada malah nambah. Bahkan lebih berat."
***
Holla !! Ada yang bisa nebak gimana perasaan Karen waktu liat sendiri pacarnya selingkuh sama sahabatnya ? Atau emang udah pernah ngalamin ? 🖐
😂
18-06-2019
Widya np
KAMU SEDANG MEMBACA
BETWEEN
Teen Fiction"Ketika masa lalu membuka lembaran baru" Bagi Karenina, Kanaka itu hanya mantan yang sukanya merusak kebahagiaan yang kini mulai ia rasakan. Sedangkan menurut Kanaka, mengganggu sang mantan membawanya pada kesenangan. Kanaka yang sibuk mengurusi hub...
