Gelotophobia : 002

1.5K 182 23
                                        

Ditulis oleh: finicute488
.

.

Jika duka disimbolkan dengan tangis, dan kebahagiaan disimbolkan tawa. Lalu apakah artinya aku tidak bisa bahagia? Sebab, aku akan menangis jika ada yang tertawa.

-Elmira Ardilla

***

LAKI-LAKI itu tampak serius membaca buku psikolog yang baru saja ia beli. Jujur saja, ia lebih memilih menghitung koefisien elastisitas atau fungsi permintaan dalam penghitungan ekonomi daripada harus membaca tentang buku psikolog yang sama sekali tidak ia pahami.

Anand menguap lebar lalu membalikkan lembar kertas ke halaman berikutnya. Ia membetulkan kacamata minusnya yang berulang kali merosot, mungkin karena hidungnya minimalis.

"Punya fobia kok aneh. Takut suara orang tertawa." Anand menggeleng-gelengkan kepalanya. Menurut Anand, fobia ayam itu lebih masuk akal daripada fobia dengan suara tawa.

Anand kembali mengerutkan keningnya.

"Orang pengidap gelotophobia biasanya cenderung sering marah dan sensitif ...," Anand mengangguk, "pantesan dia sering marah ke gue."

Anand meletakkan buku di meja, lalu membaringkan tubuhnya di sofa empuk berwarna merah cerah.

"Mending gue tidur, peduli amat sama itu bocah, yang penting gue dapat uang."

Anand memejamkan matanya sejenak.

Prang!!!

Anand terlonjak kaget saat suara barang pecah belah itu jatuh, dengan cepat Anand keluar dari kamarnya menuju ke sumber suara.

"Mama kenapa sih lebih sayang Kak Elmira! Ishita juga anak mama!" teriak Ishita menggema di ruangan.

Anand menghentikan langkahnya ketika suara itu berasal dari ruang keluarga. Anand meletakkan telinga kirinya di depan pintu, mencoba menguping pembicaraan Ishita dan Ranum. Tingkat ke'kepoan Anand maksimal.

"Mama gak pernah bedain kamu sama kakak kamu, semua sama."

"Tapi mama udah janji mau temenin aku belanja, terus kenapa sekarang mama batalin gitu aja demi jemput Kak Elmira!"

"Kakakmu pingsan, dan mama harus jemput sekarang! Kamu jangan kekanakan dan manja seperti ini, Ishita!"

"Kekanakan? Manja?" Ishita berdecih, "yang manja itu anak kesayangan mama, bukan aku!"

Ishita membuka pintu keluarga secara mendadak membuat Anand terjerembap ke bawah belum siap untuk kabur. Ranum dan Ishita menatap Anand yang tersungkur.

Dengan tampang polosnya seperti bayi baru lahir, Anand berdiri dan tersenyum kikuk ke arah Ranum. Menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. Tengsin cooy.

***

Ketika Elmira membuka mata, yang pertama ia lihat adalah atap berwarna biru muda, ia sangat hafal ruangan ini. Iya, ini adalah kamarnya, karena banyak sekali foto-foto dirinya. Lalu kenapa ia ada di kamarnya? Bukankah tadi ada di sekolah menyaksikan Gio putus dengan Nana. Lalu, kenapa ... ah, iya ... Elmira ingat, suara tawa itu membuat fobianya kambuh.

Elmira menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan. Sungguh, fobianya ini sangat merepotkan.

"Lo udah sadar." Suara bariton itu membuyarkan lamunan Elmira. Gadis itu menatap seseorang yang membawa nampan dan diletakan di nakas berisikan segelas air putih, dan semangkuk sayur asem.

GelotophobiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang