GELOTOPHOBIA : 010

1K 134 25
                                        

Jika kamu tanya; 'sampai kapan aku mencintaimu?'
Akan aku jawab; 'sampai jiwa dan ragaku tidak lagi menyatu.'

Elmira Ardilla

***

ANGIN bertiup kencang, daun kering berjatuhan satu per satu ke tanah, matahari sudah barada pada puncak tertinggi.

Gadis cantik itu kembali membenarkan rambutnya yang tertiup angin. Dan di sini-lah gadis itu berada. Di taman belakang sekolah.

Tidak seperti biasanya, kali ini Elmira hanya bisa duduk sendiri saat jam istirahat, sebenarnya perutnya sudah sangat lapar,  tapi ia sadar jika ia ke kantin pasti akan bertemu dengan Ishita. Untuk itu Elmira memilih duduk sambil menatap bunga mawar yang sudah mulai berkembang. Lagipula itu bisa menghemat uang sakunya, begitulah batin Elmira.

"Elmira!" Elmira melirik laki-laki yang menyapanya.

"Gio, sini duduk!" Elmira menepuk bangku disebelahnnya menyuruh Gio untuk duduk. Gio dengan senyum manisnya mengangguk lalu duduk di sebelah Elmira sambil menyerahkan sebotol air mineral.

"Buat lo!" ucap Gio dan dengan senang hati Elmira menerima air mineral yang diberikan oleh Gio, Elmira langsung membuka tutup botolnya.

Gio hampir tertawa melihat Elmira yang tidak bisa membuka tutup botolnya, sementara Elmira mengerucutkan bibir. Kesal.

"Bukannya bantuin malah ngledek," sindir Elmira.

Gio merebut paksa botol dari tangan Elmira, membukanya, lalu menyerahkan lagi ke gadis itu.

"Dasar cowok, harus pakai kode dulu baru peka," omel Elmira.

Elmira meneguknya sampai setengah botol, Gio yang melihatnya hanya menelan Saliva, Elmira persis seperti ikan lohan.

"Pelan-pelan kalau minum, El. Nanti keselek loh," ucap Gio, sedangkan Elmira langsung meletakan jari telunjuknya diatas bibir Gio sebagai kode agar Gio diam.

Ada desiran lembut di hati Elmira saat tangannya menyentuh bibir Gio, apa Elmira memang menyukai Gio? Elmira melepaskan jarinya dari bibir Gio lalu menggelengkan kepalanya. Gio sudah punya pacar, mana mungkin ia merebut Gio dari Caira.

"Lo kenapa geleng-geleng kepala gitu? Sakit?" tanya Gio menyentuh kening Elmira.

"Enggak kok," jawab Elmira menepis tangan Gio dari keningnya.

Kembali angin menerbangkan rambut Elmira, membuat rambutnya yang tadi sudah ia rapikan berantakan lagi. Gio dengan siaga membenarkan rambut Elmira.

Jantung Elmira entah kenapa berdetak sangat kencang saat ini. Apalagi saat Gio menyentuh pelan rambutnya. Elmira yakin kalau ia memang menyukai Gio, lalu bagaimana dengan Caira? Caira pacar Gio 'kan?

"Lo kenapa bengong? Kesambet setan?" sindir Gio melihat Elmira melamun.

Dengan cepat Elmira menggeleng.

"Lo nggak nemuin Caira?" tanya Elmira mencari topik baru.

Gio mendesah pelan, "gue berantem sama Caira semalam. Gue nggak tahu salah apa, pas gue telpon nggak diangkat-angkat."

"Lo nggak chat?"

"Gue chat dia trus tanya 'Ra, lo kenapa? Marah ya sama gue?' dan dia cuma balas 'nggak tahu, pikir aja sendiri,' jawabnya gitu, El." Gio merapikan kembali jambul kebanggaannya, "menurut lo apa yang harus gue lakuin?"

Elmira mengangkat bahunya, "gue nggak tahu, Gio. Kan lo pakarnya cinta," sembari beranjak dari tempat duduk karena bel tanda masuk kelas berbunyi. Waktu istirahat berakhir.

***

"Gio Alvin Widjaya! Maju ke depan kerjakan soal nomer 4 sekarang!" perintah Bu Uzli.

Gio yang sedang bermain game di gadgetnya langsung kaget. Ia kira Bu Uzli tidak akan tahu kalau ia sedang bermain game.

Bu Uzli yang notabennya musuh bebuyutan Gio dari kelas sepuluh, merasa melihat mangsa empuk saat tahu Gio bermain ponsel.

"Eh, anu Bu. Nomer berapa?" Gio meletakan ponselnya di laci.

"Nomer 4!"

"Jangan nomer 4 deh, Bu. Nomer 1 saja, kalau nomer 1 saya sudah." Gio mencoba menawar.

"Jelas lah nomer 1 kamu sudah. Itu 'kan contoh soal! Sudah cepat maju, jangan banyak alasan!"

"Sekarang Bu?" tanya Gio dengan tampang polosnya.

Bu Uzli mengangguk. "Detik ini juga!"

Lelaki itu menghela napas gusar, sekarang apa yang harus ia tulis. Gio memang benar-benar tidak paham dengan soal Matematika. Baginya mengerjakan soal Kimia lima halaman itu lebih baik daripada mengerjakan Matematika.

Gio melangkah pelan menuju depan papan tulis, mengambil spidol lalu menatap Elmira, berharap mendapatkan pertolongan.

"Kenapa diam? Nyari bantuan yah?" sindir Bu Uzli tepat sasaran.

Gio menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
"Bisa minta bantuan nggak, Bu? Phone a friend, 50:50, atau ask the audience?"

"Kamu pikir ini acara kuis, sudah cepat kerjakan!"

Gio membuka penutup spidol, menulis kembali soal, menambahkan dengan angka yang entah muncul dari mana, sisanya mengarang indah. Bahkan teman sekelasnya hampir tertawa dengan jawaban Gio yang tidak jelas. Tapi tatapan mata tajam dari Bu Uzli membuat siswa-siswi batal tertawa.

"Kamu nulis apa Gio! Berdiri di sini sampai pelajaran saya selesai!" kembali Bu Uzli berucap galak pada Gio.

"Yah, Bu. Kok ggak di luar? Kemarin Denis sama Aldo berdiri di luar," protes Gio.

Bu Uzli menggeleng. "Di sini saja. Kalau di luar kelas kamu pasti kabur ke kantin!"

Gio cemberut. Rencananya yang sudah ia pikirkan dari semalam ternyata dengan tepat diketahui Bu Uzli.

"Besok gue harus cari rencana lain," batin Gio.

***

Pukul 19.14 WIB.

Anand memandang Elmira yang sedari tadi hanya menunduk. Malam ini Elmira berjanji akan menceritakan masa lalunya pada Anand. Tapi, sudah sekitar hampir lima belas menit gadis itu terdiam.

Sebenarnya Anand tahu cara ini dari buku psikolog yang ia baca, setelah Elmira menceritakan masa kelamnya, ia baru akan mencari solusi terbaik untuknya.

"Elmira,"

Elmira mendongak menatap mata Anand.
"Gue ... takut,"

Anand tahu posisi Elmira, pasti tidak mudah menceritakan kejadian yang membuatnya trauma. Meski Anand tidak tahu kejadian apa itu, tapi sorot mata Elmira sudah menjelaskan semuanya.

"Jangan dipaksa, El." Anand menepuk bahu Elmira.

Elmira kembali menunduk, kedua tangannya mengepal, keringat dingin keluar membasahi wajah cantiknya.

"Gue balik ke kamar ya, lo bisa hubungin gue kapanpun kalau udah siap cerita."

Elmira menggenggam tangan Anand kuat saat lelaki itu hendak keluar dari ruang keluarga. Tanpa Elmira tahu, Ranum sudah mengintip sedari tadi di depan pintu. Ranum selalu berdoa agar putrinya bisa kembali tertawa seperti dulu.

"Gue ... siap cerita sekarang."

                        ***

Hai Hai Hai
Gelotophobia update.

Nanti pada 'part' selanjutnya, yaitu; PART 11-12, menceritakan masa lalu Elmira saat berusia dua belas tahun.

Tungguin ya.
Jangan lupa vote+commentnya.
Biar aku semangat lanjutin ceritanya sampai tamat.

Salam sayang dari istrinya Mario Maurer.

finicute488

GelotophobiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang