Rasa sakit, kecewa semua akan menghilang secara perlahahan, seiring berjalannya waktu.
-Elmira Ardilla
***
Elmira menatap ayahnya dengan takut dan cemas. Tangan mungil Elmira terasa sakit dengan tali yang masih terikat di pergelengan tangannya. Elmira tidak menyangka jika Martin sangat membencinya.
"Papa, Elmira salah apa?"
Martin mendekati Elmira menyentuh dagu Elmira kasar.
"Kau hidup saja, itu sebuah kesalahan!"
"Elmira tidak mengerti," ucap Elmira polos.
"Kau bodoh, hah! Ucapanku saja tidak bisa kau pahami! Rasakan ini gadis bodoh!" Martin menampar pipi kiri Elmira dengan keras.
"Sakit, Pa." Elmira merintih, menahan sakit.
"Apa! Papa! Sudah aku katakan, kalau aku bukan Papamu! Kau mau aku pukul lagi, hah!"
Martin berulang kali menampar pipi kanan dan kiri Elmira, membuat pipi gadis itu membiru.
"Elmira minta maaf, jika Elmira salah. Tapi tolong hentikan, ini sakit sekali," ucap Elmira di sela isakannya.
Martin tertawa lebar mendengar Elmira kesakitan, seolah itulah yang Martin inginkan.
Elmira menghirup udara dalam-dalam, sepertinya pasokan udara di gudang mulai habis, membuat dadanya semakin sesak.
Mendengar Martin tertawa entah kenapa membuat hatinya sakit, Elmira ingin sekali menutup telinganya rapat-rapat, tapi ikatan tali di pergelengannya masih sangat kuat, gadis itu tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang, yang ia tahu, ia hanya ingin menangis sekuat tenaga dan sekencang-kencangnya.
Martin meraih kayu di sampingnya, lalu memukul tubuh Elmira secara membabi buta, tubuh kecil Elmira hanya bisa meronta, namun terkalahkan oleh tubuh kekar Martin.
Suara dobrakan pintu membuat Elmira dan Martin menoleh ke sumber suara.
Ranum menatap galak kepada suaminya. Mata Ranum tidak bisa dibohongi, terlihat sekali jika wanita yang biasanya tersenyum ramah, kini tengah marah dan kecewa.
"Martin!!! Apa yang sudah kau lakukan kepada anakku!!!"
Martin tertawa lebar, melirik Elmira.
"Aku hanya sedang memberinya pelajaran."
Ranum mendekati Elmira, melepaskan ikatan dari tangan gadis itu.
"Pelajaran apa yang kau maksud, Martin! Kau memukuli Elmira tanpa kasihan, dia tidak punya salah! Kalau kau membencinya karena aku mengadopsinya, jangan lampiaskan amarahmu ke dia!" bentak Ranum ke Martin.
Martin semakin tertawa mendengar ocehan Ranum. Sementara Elmira menutup telinganya rapat-rapat. Elmira membenci suara tawa itu, itu membuat dadanya semakin sesak.
Lelaki dengan tubuh tinggi besar itu melangkah pergi meninggalkan Elmira dan Ranum, suara tawanya masih menggema di seluaruh penjuru ruangan.
"Dasar gila!" sinis Ranum.
Ranum menoleh wajah anaknya yang berantakan, tangis Elmira masih ia dengar, bibir mungilnya bergetar.
"Elmira, Papa sudah pergi," ucap Ranum pelan.
"Dia bukan Papa." Tangis Elmira pecah. Ranum langsung membawa Elmira kepelukannya. Menyalurkan rasa nyaman untuk anaknya.
Sejak hari itu, Ranum tidak pernah melihat tawa dari anaknya lagi.
***
"Ada apa dengan anak saya, Kevin? Kenapa Elmira selalu menutup telinganya saat ada yang tertawa?" Ranun menatap lekat-lekat lelaki berbaju putih di depannya.
Kevin menghela napas lalu menepuk bahu Ranum.
"Apa Elmira pernah mengalami ketakutan yang luar biasa?"
"Maksudmu?"
"Begini, Ranum. Elmira mengalami traumatik mendalam dengan suara tawa, mungkin dia pernah ditertawakan oleh teman-temannya di sekolah? Atau dia pernah mendengar suara tawa yang sangat mengerikan baginya? Sehingga psikis Elmira akan terganggu jika mendengar suara tawa dari seseorang di sekelilingnya. Seolah-olah dia sedang dikucilkan," ucap Kevin.
Kevin Aditya, seorang dokter spesialis jantung, sahabat baik Ranum. Ranum sengaja konsultasi kepada Kevin tentang kondisi Elmira, meminta Kevin memeriksa keadaan anaknya itu. Ranum takut jika ada masalah dengan jantung anaknya, karena Elmira akan menutup telinganya saat ada yang tertawa lalu pingsan.
"Ranum, Elmira membutuhkan psikiater, bukan dokter jantung seperti saya," lanjut Kevin.
"Elmira tidak gila Kevin, dia tidak butuh psikiater!" bentak Ranum.
"Aku tidak mengatakan jika Elmira gila, Ranum. Aku tau kau terpukul saat ini melihat kondisi anakmu, tapi Elmira membutuhkan psikiater. Aku tidak ingin kondisi Elmira semakin memburuk nantinya."
Ranum tidak bisa menahan lagi tangisnya, ia benar-benar merasa gagal menjadi seorang ibu. Kevin mengambilkan segelas air putih, kemudian menyerahkan ke Ranum.
"Sebenarnya apa yang membuat Elmira seperti ini, Ranum?"
Ranum meneguk sedikit, lalu berucap lirih, "Ini semua salah Martin!"
Mendengar nama Martin disebut membuat jantung Kevin berdetak cepat, aliran darahnya naik, mata ramah Kevin gini mulai tajam seakan menahan amarah dalam-dalam.
"Apa yang dia lakukan kepada Elmira?" tanya Kevin lebih serius.
"Mengikat tangan Elmira, menampar, juga memukuli Elmira tanpa belas kasiahan, sampai Elmira ketakutan," ucap Ranum penuh amarah.
"Apa perlu aku membunuh keparat itu?"
Ranum menggeleng, "Dia kabur dari rumah, setelah aku mengatakan akan melaporkan dia kepolisi. Di mana aku harus menemui psikolog untuk penyembuhan Elmira?"
"Di kota besar ada, tapi untuk daerah di sini, aku rasa belum ada."
Ranum mengerti, ia langsung pamit ke Kevin, menyangking tas lalu meninggalkan Kevin. Ranum tahu apa yang harus ia lakukan, yaitu pergi dari kehidupan Martin lalu menjalani kehidupan baru bersama Elmira dan Ishita, hanya bertiga.
***
Update nih, Gelotophobia.
Pelan-pelan bakal terjawab kok semuanya, nikmati saja alurnya. Oke
Jangan lupa vote+comment
Salam sayang
-Fini
KAMU SEDANG MEMBACA
Gelotophobia
RomanceTertawa adalah hal yang lumrah dilakukan oleh seseorang. Entah karena ada hal lucu atau karena sedang bahagia. Namun, bagaimana jika ada seseorang yang takut dengan suara tawa? Elmira Ardilla seorang gadis berwajah cantik pengidap Gelotophobia, suat...
