Dalam diamnya, Reno termenung. Ia menatap jendela kamarnya yang terbuka, gorden tertiup angin malam mengirimkan udara malam yang berhembus masuk melewati celah jendela. Pikirannya asik menjelajah mengingat setiap kebersamaannya dengan seorang gadis dimasa lalu.
Tok tok tok
"Permisi tuan, diluar ada yang mencari anda!" Salah satu pelayan rumahnya memanggil dari balik pintu kamar.
Reno mengalihkan pandangannya menatap pintu. Ia lalu bangkit menemui pelayan yang memanggilnya.
"Siapa!" Sahutnya diambang pintu.
"Seorang perempuan!"
Reno mengerutkan keningnya bertanya-tanya.
"Dimana nyonya Dian?" Tanyanya pada pelayan.
"Maaf tuan, nyonya belum pulang!" Pelayan itu sedikit membungkukkan tubuhnya takut.
Reno meninggalkan pelayan itu dan menemui tamunya.
Dalam jarak beberapa meter, Reno meneliti perawakan wanita dihadapannya. Ia terlihat lusuh, badannya juga kurus, rambutnya diikat. Ia terlihat seperti seorang pengemis.
"Hmm, Maaf, ada apa mencari saya!" Reno bertanya pada wanita dihadapannya. Wanita itu berbalik melihat Reno.
Keduanya sama-sama kaget.
"Kak Reno!" Panggil wanita itu seperti bisikkan. Matanya seketika terasa panas.
"Rena, kamu Rena kan?" Sekadar memperjelas keyakinannya, Reno bertanya pada Rena, wanita yang berada dihadapannya.
"Jadi, ini rumah kak Reno!" Batin Rena
Reno menetralkan degup jantungnya yang terasa dipompa lebih cepat melihat kedatangan Rena setelah beberapa tahun silam.
"Ada apa!"
"Maaf, saya sudah lancang datang kemari. Kalau begitu, saya pamit dulu." Rena tidak bisa menahan tangisannya. Laki-laki yang dulu meninggalkannya ternyata orang yang disarankan oleh temannya untuk meminjam uang. Rena jelas akan merasa malu jika sampai hal itu terjadi.
Reno ingin menahannya, tapi diurungkannya saat melihat mobil Dian masuk ke halaman rumahnya.
"Dari mana kamu!" Reno memberondongi Dian yang terlihat santai terhadap tatapan intimidasi dari Reno.
"Kamu ini kaya gak tahu aja. Sebagai istri seorang pengusaha, yah aku harus bisa bersosialisasi dengan istri teman-teman kamu lah." Jawabnya acuh.
Reno tersulut emosi mendengar jawaban yang terdengar enteng ditelinga istrinya. "Kamu tuh yah, apa pulang malam juga bentuk sosialisasi dengan teman-teman kamu, hah?"
"Kamu ini kenapa sih, istri baru pulang langsung dimarahi." Dian melengos pergi meninggalkan Reno yang masih dikuasai amarah.
...
Setelah Rena memandikan Azka, putranya. Ia mengajaknya bermain ke kebun binatang. Azka terlihat sangat bahagia melihat binatang-binatang yang berada didalam kandangnya.
"Bunda, kalau itu hewan apa?" Azka bertanya pada Rena sambil menunjuk kuda Zebra.
"Itu kuda Zebra sayang!"
Pita yang menemaninya merasa sangat bahagia melihat sahabatnya bahagia walau tanpa Reno.
"Re, apa Reno tahu kalau kamu memiliki seorang putra?"
Rena menggeleng, "tidak, Pit. Jangankan tahu, bertemu saja baru kemarin. Itupun dalam keadaan kepepet."
Pita mengusap bahu Rena, "apa sebaiknya kamu kasih tahu Reno jika dia memiliki seorang putra!"
